Manado, Barta1.com — Dugong raksasa di pesisir Likupang Barat, Jumat 29 Maret 2019 lalu, sempat menghebohkan warga Desa Bahoi Minahasa Utara. Spesies langka itu terdampar dan sudah mati saat ditemukan pertama kali oleh nelayan Freky Lahamendu, sekitar pukul 05.20 Wita.
Mohammad Yasir, koordinator Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Wilayah Kerja Manado menginformasikan pada jurnalis Barta1, dugong itu berkelamin jantan dengan panjang 2,6 meter dan lingkar badan 3 meter, sedangkan beratnya tidak diketahui pasti.
“Kondisi dugong saat ditemukan fresh dead, saat nelayan akan melaut untuk mencari ikan,” ujar Yasir meneruskan pernyataan Freky Lahamendu, Sabtu (30/03/2019).
Menurut Yasit, dugong hanya ada 1 spesies di Desa Bahaoi Likupang Barat dan berjumlah 10 hingga 12 ekor saja. Karena dugong adalah hewan dilindungi, nelayan beserta warga Desa Bahoi menjaga hewan tersebut sampai hukum tua Daud Dalero beserta pihak BPSPL Manado datang ke lokasi kejadian.
“Hingga saat ini kami belum menemukan penyebab kematian dugong tersebut, tetapi ada goresan kecil yang ditemukan di pungung, namun saya belum bisa pastikan goresan tersebut yang menyebabkan kematian dugong ini,” lanjut Yasir.
“Kami tidak menemukan jejak benturan apapun. Ketika dilanjutkan pada tahapan untuk memeriksa isi perut dugong, kami tidak menemukan tanda-tanda yang mematikan, isinya hanyalah rumput laut,” tambah dia.
Setelah melewati berbagai tahapan pemeriksaan, dengan memakan waktu 2 jam, akhirnya dugong dikebumikan oleh masyarakat Bahoi didampingi pihak BPSPL.(*)
Penulis: Meikel Eki Pontolondo

Discussion about this post