Manado, Barta1.com – Hari semakin sore, Herman Adrian bergegas ke pantai, yang tak jauh dari rumahnya, guna menyiapkan perlengkapan untuk melaut.
Lelaki tua tanpa kaos itu, perlahan-lahan mendekat ke perahunya yang berjejer di Pantai Karangria Manado. Dia melihat kondisi mesin dan perahunya, sebelum melakukan aksinya di tengah laut.
Sepenggal pantai nan indah itu, menjadi tambatan perahu bagi nelayan tongkol, Kelurahan Bitung Karangria, Kota Manado. Di tengah ancaman, reklamasi.
Herman kepada Barta1.com, Kamis (16/05/2024) mengatakan
bahwa dirinya sebentar malam akan berfokus menangkap ikan tude (kembung). Dan berharap kembali, dengan ukuran 2 ember banyaknya.
“Ketika menemukan ikan sebanyak 2 ember, pastinya akan dijual, kemudian disisipkan untuk kebutuhan di rumah. Beginilah aktivitas kami nelayan, setiap harinya untuk mencukupkan kebutuhan keluarga,” ungkapnya.
Bukan itu saja, pantai yang memiliki pasir halus dan bersih itu, banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal, baik itu anak-anak, orang dewasa, bahkan lanjut usia. “Pantai Karangria ini juga menjadi salah satu tempat terapi alami, bagi sebagian masyarakat yang memiliki penyakit stroke dan sebagainya,” terangnya.
Kemudian, berkaitan dengan reklamasi. Dia menyebut, bahwa perahunya pernah hancur akibat dampak dari reklamasi, pada tahun sebelumnya. “Daerah Karangria Manado ini pernah direklamasi dan dijanjikan pemerintah akan dibuatkan tambatan perahu, setelah direklamasi, tambatannya tidak sesuai dengan harapan. Dan apa yang terjadi ? perahu saya hancur dihantam ombak,” ujarnya.
“Saat ini para nelayan, perahunya bergantung dengan pantai kecil ini. Jika ini akan direklamasi, sudah tidak tahu ke depannya, bagaimana dengan kehidupan nelayan di sini,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah tidak mengambil ruang dari kehidupan nelayan. Secara sederhana saja, beberapa lokasi di sini sudah ditimbun, untuk dibuatkan tempat penjualan. Dan masyarakat nelayan di sini, katanya akan diutamakan, agar bisa berjualan.
“Ketika tempat penjualan itu selesai dibuat, biaya yang diberikan kepada kami nelayan terbilang tinggi. Bisa bertanya langsung kepada pengelolanya, berapa banyak masyarakat nelayan yang berjualan di sini, mungkin kebanyakan dari luar,” ucap Herman, yang berprofesi nelayan sejak tahun 70-an.
Bahkan lokasi yang ditambung, tambah Herman, sudah ada papan nama yang bertuliskan milik pemerintah kota, yang sebelumnya juga menjadi salah satu tambatan perahu.
“Dengan kondisi saat ini, para nelayan di Karangria Manado berharap mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak. Jika reklamasi ini merugikan nelayan, tentunya kami akan menolak,” tegasnya.
Menurutnya, di sini akan direklamasi sebesar 90 hektar, berkaitan dengan nelayan, katanya, mereka akan membangun terlebih dahulu tambatan perahu. Dan gambarnya sudah pernah diperlihatkan, namun masih menunggu. Ke depannya jika tidak sesuai dengan apa yang diharapkan nelayan, pasti akan ditolak.
“Sekali lagi, kami memohon kepada pemerintah untuk memperhatikan nasib kami, hentikan reklamasi, jika tidak menguntungkan bagi masyarakat nelayan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post