• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Cerita Fitran Domili Tentang Jalur Timur Gunung Latimojong

by Meikel Eki Pontolondo
11 April 2024
in Edukasi
0
Fitran Domili saat berada di Puncak Bubundirangkang. (Foto: istimewa)

Fitran Domili saat berada di Puncak Bubundirangkang. (Foto: istimewa)

0
SHARES
286
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com – Selain Patrik Paendong, ada juga pendaki asal Sulawesi  Utara  yang  menjejaki Gunung Latimojong tetapi dengan jalur yang berbeda, yaitu jalur timur. Dia adalah Fitran Domili.

Gunung yang keberadaannya di To’lajuk, Kecamatan Latimojong, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan, sering dikunjungi oleh wisatawan lokal. Bahkan ada beberapa jalur dari Gunung tersebut yang bisa diikuti oleh setiap pendaki. salah satunya adalah jalur timur.

Saat Fitran Domili berada di puncak Rante Mario. (Foto: istimewa)

Jalur timur Latimojong kebanyakan orang menyebutnya. Jalur ini lebih menantang dari jalur yang biasanya diikuti oleh kebanyakan pendaki. “Jalur yang kami ikuti ini trackingnya begitu ekstrem dan naik terus perjalanannya,” ungkap Fitran kepada Barta1.com, kamis (11/04/2024).

“Sebenarnya kami ingin mengikuti jalur utama yang biasanya diikuti kebanyakan orang atau pendaki, tapi saat itu lagi ditutup karena masih dalam situasi covid-19. Jadi kami memaksakan untuk mengikuti jalur timur yang menguras banyak tenaga itu,” ujarnya.

Jalur tersebut, kata Fitran, selain trackingnya menantang, jalur tersebut kesulitan menemukan air. Dari 7 pos yang dilewati, keberadaan  air itu hanya ada di pos 2. “Bahkan setiap pendaki yang melakukan perjalanan ke Gunung Latimojong dengan jalur timur ini bisa memakan waktu 7 hari.”

“Kemudian dibutuhkan fisik yang memadai, mental yang teruji, mengingat dalam perjalanan kemarin  ada teman kami  yang  tidak mau meneruskan perjalanannya, karena tidak  mampu lagi dengan medan yang diikuti, tapi kami mencoba memberikan motivasi dan semangat agar dia bisa  melanjutkan perjalanannya hingga mencapai puncak,” terangnya.

Anak ke 2 dari 3 bersaudara dari pasangan Rusli Domili dan Renni Seden  Arbi menambahkan, dari setiap tantangan yang diceritakan, pada perjalanan tersebut setiap pendaki pastinya akan melihat berbagai kekayaan alam yang masih asri di Gunung Latimojong, seperti hutan lumut, kebun kopi dan pohon kelapataru.

“Selain melihat berbagai tumbuhannya, setiap pendaki juga akan melihat fauna, seperti tikus berbulu panjang, babi hutan dan monyet,” terang perintis Gelang Rimba Manado ini.

Setelah melihat kekayaan alam dan melewati tracking dari 7 pos yang ada, setiap pendaki pastinya akan menemukan 3 puncak di Gunung Latimojong, yakni puncak Bubundirangkan dengan ketinggian 3217 MDPL, Puncak Nenemori  dengan ketinggian 3379 MDPL, dan puncak Rante Mario dengan ketinggian 3443 MDPL.

“Ketika menginjak salah satu dari 3 puncak ini, setiap pendaki akan dipertemukan dengan  akar dan lumut yang begitu tebal, bahkan diselimuti dengan kabut yang tebal, jadi setiap pendaki yang akan melakukan pengambilan gambar harus menunggu kabutnya hilang  dahulu,” tuturnya.

Dari perjalanan itu, tambah Fitran, sebenarnya ada  pembelajaran hidup yang bisa didapatkan dan kadang itu terpikirkan oleh setiap pendaki. “Saya pribadi mendapatkan pembelajaran hidup bagaimana melatih kesabaran, kesetiaan terhadap sahabat, kemudian  bagaimana mengambil sebuah keputusan untuk kepentingan bersama.  Jika mau jujur, sebenarnya mengikuti jalur timur Latimojong membuat saya meneteskan air mata karena jalurnya yang begitu ekstrem,” singkatnya sembari menyebut bersyukur dari semua itu banyak pembelajaran yang bisa didapatkan.

“Di luar dari tantangan, kekayaan alam, dan keindahan dari Gunung Latimojong yang sudah saya sampaikan. Adapun hal yang tidak bisa dilakukan oleh setiap pendaki dan itu menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat di sekitar Gunung tersebut, yakni dilarang untuk membawa telur, dilarang menggunakan pakaian berwarna kuning, dan dilarang untuk ribut,” sahutnya.

Ketika ditanya menggunakan kendaraan apa ke Gunung Latimojong. Fitran menyebut bahwa tujuan awal dirinya dan 2 temannya adalah menjadi relawan untuk bencana alam angin puting beliung di kecamatan lamasi timur, Kabupaten luwu. Menuju ke lokasi tersebut, dengan cara  menumpang mobil dengan waktu 5,6 hari.

“Ketika tiba di posko bantuan. Saya dan teman-teman memberikan donasi yang sudah terkumpul, kemudian menlajutkan perjalanan ke Gunung Latimojong. Apalagi saat itu masyarakat menyebut, Gunung Latimojong sangat dekat dari posko ini,” tambahnya.

Tidak banyak pertimbangan, Fitran dan teman-temannya langsung menuju lokasi tempat registrasi untuk pendakian, Gunung Latimojong. “Kami disambut baik di lokasi registrasi, di mana kami diberikan makanan dan tempat untuk menginap. Selama perjalanan sampai balik lagi ke Kota Manado memakan waktu 11 hari,” pungkasnya.

Selain Gunung Latimojong, diketahui Fitran sudah melakukan pendakian dibeberapa Gunung, di antaranya  Gunung Tilongkabila, Gunung Klabat, Tampusu, Soputan dan Lokon. (*)

 

Peliput: Meikel Pontolondo

Barta1.Com
Tags: Fitran DomiliGunung LatimojongKabupaten LuwuKecamatan LatimojongPendaki Sulutsulawesi selatanTo’lajuk
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Momen ketika Wakil Bupati Kepulauan Talaud, Drs. Moktar Arunde Parapaga bersalaman dengan Presiden Jokowi.

Momen Idul Fitri, Wakil Bupati Talaud Silaturahmi Dengan Presiden Jokowi

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Tertibkan Lapak, Perumda Pasar Bitung Gelar Patroli Rutin di Pasar Girian 25 Mei 2026
  • Michael Thungari Serahkan Hewan Kurban di Embuhanga 25 Mei 2026
  • Berkomitmen Terus Melaju ‘MengEMASkan Indonesia’, PT Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang di Awal 2026 24 Mei 2026
  • Sudah Sebulan Lebih Dikabarkan Keluar Daerah Tanpa Izin, Kades Tule Utara Diduga Kuat Pergi Menambang Emas di Manokwari 24 Mei 2026
  • Adhyaksa FC Home Base di Manado Makin Kencang, Persma Legend Dukung 23 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In