Manado, Barta1.com – Renungan Kristen pada Jumat Agung, 29 Maret 2024 diberi judul: Yesus Sangat Mengasihi Saudara sesuai bacaan Markus 15:29-30.
Hari ini semua umat Kristen di seluruh dunia memperingati Kematian Yesus Kristus, Juruselamat dunia. Inilah hari Jumat Agung. 2000 tahun lalu, Yesus digantung di atas Kayu Salib. Dia mati bersimbah darah yang terus mengucur tiada henti dari luka menganga yang banyak di sekujur tubuh hingga bagian kepala-Nya. Luka paling banyak diakibatkan oleh terjangan flagrum, cambuk bercabang 3 yang diikatkan besi kecil tajam di ujung dan bagian temalinya, sehingga ketika besi tajam itu terancam di tubuh Yesus, maka akan mengangkat daging tubuh-Nya. Itulah yang menyebabkan luka banyak di sekujur tubuh dan kepala-Nya.
Darah terlalu banyak mengucur sejak dalam perjalanan menuju Golgota. Siksa berat menimpa-Nya. Jalan Salib mengerikan, Viadolorosa mematikan dijalani dengan kepasrahan dan kesetiaan dalam pengorbanan yang sempurna, menyerahkan diri dan tubuh, nafas hidup-Nya semuanya dilenyapkan oleh manusia dari muka bumi tanpa rasa kemanusiaan, padahal Dia menghidupkan dan menyelamatkan manusia. Sungguh suatu kekejian yang ditandai kebrutalan kepada Sang Kasih. Sang Maha Kasih dan Maha Agung rela hati dan bersedia menjadi terhina dina.
Dia ditelentang tak berdaya, dipaku dan digantung di Salib dengan keji, menggelantung hidup-hidup selama 6 jam hanya diganjal oleh paku yang tertanam dalam di tangan dan kaki-Nya menembus Kayu Salib yang kasar. Dalam siksa derita tergantung, orang-orang masih menghina dan mengolok-olok-Nya. Selain Gestas, orang di samping kiri yang mengolok-olokkan dan menghina Dia, juga para prajurit, imam-imam kepala dan para ahli Taurat serta orang-orang yang lewat melakukan hal yang sama. Sungguh keterlaluan memang. Tetapi itulah yang harus terima demi kasih-Nya yang tulus dan tak terbatas akan kita.
Dia disuruh turun dari atas Salib dan membuktikan perkataan-Nya bahwa Bait Allah akan rubuh dan membangunnya kembali. Juga mereka menyuruh Dia turun untuk menyelamatkan diri-Nya. Yesus tak bergeming. Dia dengan setia menjalani proses itu, tanpa membantah apalagi mengutuk mereka. Sebab semua yang mereka katakan itu pada akhirnya memang terjadi.
Tak ada penderitaan seperti yang Yesus derita. Tak ada siksa, sesiksa yang dialami Yesus. Sudah dihukum mati, masih disiksa, dihina dan diolok-olok lagi. Dia didera karena dosa kita. Dia disalib untuk menebus dosa kita. Dia mati untuk menyelamatkan kita. Dosa kita dikuburkan dalam kematian-Nya.
Dan pada waktunya yang tepat, Dia bangkit dan hidup agar kita hidup berkemenangan dalam segala hal di bumi dan bahagia kekal selamanya di sorga bersama Dia Sang Agung. Tetapi Dia harus melewati semuanya dalam derita yang sungguh menyakitkan bahkan telah mematikan-Nya dari daging dan hidup yang fana di dunia.
Yesus terhina amat sangat. Dia tersiksa tak terkatakan. Dia mati mengenaskan, Dia tergantung dan terpaku tak berdaya diperlakukan seperti bukan kepada manusia, tak ada belas kasihan, yang ada hanya kebencian, kedengkian, dendam membara keganasan amarah yang ditumpahkan justeru kepada Orang benar. Hak asasi Manusia Yesus dicabut. Sehingga orang-orang seenaknya memperlakukan Yesus, menyiksa, menikam, memukul, menombak hingga membunuh-Nya. Membunuh Yesus gratis dan bebas sesuka hati. Tak ada pembelaan sedikitpun. Tak ada hukuman bagi pelaku kriminalitas terhadap Yesus. Semuanya dibenarkan. Hanya Yesus, Tuhan yang diperlakukan manusia seenaknya seperti itu.
Tak ada satupun yang dilawan Yesus, sekalipun Dia dapat melakukan itu, karena Dia memang adalah Tuhan pada hakekat-Nya. Dia dapat mengirim bala tentara sorga untuk membela dan menyelamatkan-Nya. Dia sendiri juga dapat melakukan apa saja termasuk membunuh orang yang membunuh-Nya itu. Namun Yesus menjalani semua proses kemanusiaan-Nya dalam ketaatan. Karena memang Yesus melakukan semuanya karena kasih-Nya yang amat sangat besar bagi kita.
Yesus tidak mau turun seperti yang mereka tantang. Juga belum merubuhkan Bait Allah seperti yang mereka minta untuk membuktikan Keilahian-Nya, karena memang segalanya ada waktunya. Yesus mengikuti semua proses misi-Nya di dunia dengan sabar, tekun, setia dan taat. Bahkan taat sampai mati di Kayu Salib.
Demikian firman Tuhan hari ini: Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia, dan sambil menggelengkan kepala mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, turunlah dari salib itu dan selamatkan diri-Mu!, (ay 29-30).
Di hari ini, peristiwa tragis 2000 tahun lalu itu peringati dan hayatiii. Hari ini kita mengingat penderitaan-Nya yang amat sangat berat demi menunggu dosa kita. Kita yang berdosa, Yesus yang digantung di Salib dan dihukum mati.
Kita diajarkan untuk bertobat dan jangan berbuat dosa lagi. Jangan salibkan Yesus lagi. Tetapi hidup dalam kesetiaan dan ketaatan kepada-Nya meski harus pikul Salib. Karena Salib itu bukan lagi kehinaan, tapi Salib itu adalah kemuliaan. Salib itu adalah keselamatan, kemenangan, sumber kebahagiaan dan sumber berkat dalam hidup kita. Maka ikutlah Tuhan dan pikullah Salib, karena Tuhan sangat mengasihi Saudara, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post