• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Senin, Mei 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Mengingat 7 Kampung di Siau yang Musnah Akibat Erupsi Karangetang

by Ady Putong
13 Februari 2019
in Kultur, Sejarah
0
Mengingat 7 Kampung  di Siau yang Musnah Akibat Erupsi Karangetang

Semburan awan panas dari kawah Gunung Karangetang yang pernah terjadi beberapa tahun lalu. (foto: stenly gaghunting/barta1)

0
SHARES
437
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Warga Kampung Batubulan yang paling merasakan dampak erupsi Gunung Api Karangetang. Sejak lava pijar mulai meleleh pada 2 Februari 2019 melalui Kali Marebuhe dan Batuare, pemerintah setempat langsung melakukan upaya evakuasi terhadap penduduk Batubulan ke shelter di Paseng.

Berada di Batubulan serasa sangat dekat dengan puncak Karangetang, gunung berapi paling aktif di lingkar cincin api Pasifik. Soal aktivitas gunung itu, sejatinya masyarakat Pulau Siau di Kabupaten Kepulauan Sitaro sudah khatam betul dan selalu niscaya bahwa Karangetang bisa bererupsi sewaktu-waktu.

Kisah letusan Karangetang dalam benak warga Batubulan juga abadi. Tuturannya diturun-temurunkan dari ayah ke anak, ke cucu, begitu seterusnya. R Katilahe, lansia berumur 60-an, pengungsi dari Batubulan di Shelter Paseng, masih ingat cerita dari ucapan orang tuanya tentang letusan dahsyat Gunung Karangetang.

“Pernah terjadi tapi sudah lama sekali.” Katilahe lupa detil waktunya.

Erupsi Karangetang menjadi momok yang sangat menakutkan bagi mereka yang belum mengalami dan melihat akitivitas dari salah satu gunung api teraktif di Indonesia ini. Tapi bagi warga Siau khususnya penduduk yang ada di Siau bagian utara menjadi sebuah hal yang biasa. Tidak heran ada sebagian warga yang meskipun dalam kondisi yang sangat berbahaya dari ancaman lava dan awan panas, lebih memilih menonton semburan lava pijar sembari mengabadikannya dengan ponsel.

Ternyata bila dikaitkan dengan cerita warga, aktivitas gunung api Karangetang terutama di kawah II ini pernah memusnahkan 7 kampung yang ada di Siau Bagian Utara dan tentu saja meminta korban jiwa.

Peristiwanya sempat disentil misionaris Belanda, Daniel Brillman, yang pernah tinggal di Siau dan Tagulandang pada 1930-an. Dia mengutip dari catatan tua peninggalan Ds Valentijn, misionaris lainnya, soal letusan dahsyat Karangetang tahun 1715.

Mitos di Balik Erupsi dan Letusan Gunung Karangetang Siau

“Di mana Pulau Siau ini amat tinggi dan bergunung-gunung yang nampak di tengah-tengah negeri dan disitu juga ada gunung berapi yang menyala hebat dan menghanguskan. Kalau ada angin tertentu bergemuruh, melontarkan banyak abu, batu-batu besar dan juga air keluar dari tanur api. Bahkan hampir tidak ada satu haripun berlalu tanpa orang mendengar sesuatu,” tulis Brillman dalam bukunya Wilayah-Wilayah Zending Kita.

Seperti hari ini, Karangetang di masa lalu pun terekam sering beraksi pada pembuka tahun antara Januari dan Februari. Hingga 16 Januari 1712 menurut Brillman, gunung ini meletus dan ledakannya terdengar hingga Pulau Ternate. Padahal menurut dia, jarak antara Siau ke Ternate ada 40 mil jauhnya.

“Selain kepulan asap yang membumbung terus menerus orang melihat terlebih waktu malam cahaya belerang panas kemerah-merahan keluar dari kepundan, yang mempunyai garis tengah sekitar 300 meter,” ujar Brillman.

“Walaupun dalam tahun-tahun kemudian tidak pernah terjadi letusan hebat, namun penduduk selalu diingatkan dari waktu ke waktu, bahwa mereka berdiam di tanah gunung berapi,” lanjutnya.

Peristiwa dengan memori menyesakkan terjadi pada 1 dan 3 Oktober 1935. Masih dalam catatan Brillman, gempa hebat akibat rekasi Karangetang menggoyang Pulau Siau. Akibatnya di sebelah Utara Siau, ada 7 desa yang musnah. Korban pun berjatuhan.

“Kerusakan rumah-rumah, kebun, jalan-jalan besar, terlebih diakibatkan longsornya lereng-lereng gunung,” tulis Brillman, linear dengan tutur orangtua Katilahe, warga Batubulan.

Tidak diuraikan dalam catatan tersebut kampung-kampung mana saja yang pernah musnah. Bila ditelusur dari kawasan rawan bencana untuk wilayah bagian utara, kampung-kampung yang paling rawan terdampak erupsi gunung di antaranya Kampung Nameng, Batubulan, Kawahang, Kiawang, Hiung dan sekitarnya, Kinali, dan Mini.

“Perhatian khusus untuk daerah-daerah ini perlu dilakukan, dengan tidak juga mengabaikan daerah-daerah lainnya yang juga sangat rawan terkena bencana gunung api yakni wilayah Kecamatan Siau Timur (Sitim),” Hesli dan Rosna, warga Siau.

Sementara itu, kondisi Gapi Karangetang terkini, Selasa (13/02/2019), hingga pukul 12.00 wita sebagaimana laporan aktivitas gunung dengan sumber data KESDM, Badan Geologi, PVMBG, Pos Pengamatan Gunung Api Karangetang, secara visual gunung jelas hingga kabut 0-I, asap kawah bertekanan lemah teramati berwarna putih dengan intensitas tebal dan tinggi 100 meter di atas puncak kawah, serta asap putih kebiruan menyebar ke tubuh gunung bagian selatan. Sedangkan untuk status tingkat aktivitas gunung berada pada level III yakni Siaga. (*)

Penulis: Stenly Rein Mes Gaghunting

Barta1.Com
Tags: BatubulanDaniel BrillmanKarangetangsiauSitaro
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Serap Aspirasi Warga, Timpua Janji Kawal Hingga Realisasi

Serap Aspirasi Warga, Timpua Janji Kawal Hingga Realisasi

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Michael Thungari Serahkan Hewan Kurban di Embuhanga 25 Mei 2026
  • Berkomitmen Terus Melaju ‘MengEMASkan Indonesia’, PT Pegadaian Cetak Kinerja Gemilang di Awal 2026 24 Mei 2026
  • Sudah Sebulan Lebih Dikabarkan Keluar Daerah Tanpa Izin, Kades Tule Utara Diduga Kuat Pergi Menambang Emas di Manokwari 24 Mei 2026
  • Adhyaksa FC Home Base di Manado Makin Kencang, Persma Legend Dukung 23 Mei 2026
  • Semangat Konservasi di Pantai Saidan, Artsas Family Edukasi dan Tanam Bibit Mangrove 23 Mei 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In