Manado, Barta1.com– Siapa yang tidak mengenal Bacharuddin Jusuf Habibie atau kebanyakan masyarakat Indonesia menyebutnya BJ Habibie. Presiden ke-3 RI itu, nyatanya menjadi salah satu panutan Justman Entjaurau dalam menjalani hidup kalah itu duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Lelaki kelahiran Essang, 13 September 1980 itu, mengagumi akan pengetahuan dari sosok pembuat pesawat pertama Indonesia ini.
“Sejak kelas 2 SMP saya berkeinginan untuk menjadi seperti Bapak BJ. Habibie yang bisa menguasai teknologi, ketika beranjak naik ke kelas 3 SMP. Saya mencoba mencari informasi jurusan apa yang tepat untuk dimasuki, sedianya ada kemiripan pengetahuan dengan Bapak BJ. Habibie,” ungkap Justman kepada Barta1.com, senin (27/11/2023).
Ketika lulus dari SMP tahun 1996, Justman memilih melanjutkan studinya di sekolah teknologi menengah (STM) Negeri Manado atau dikenal kini SMK Negeri 2 Manado, dan sekolah yang dimasuki itu direstui oleh kedua orang tuanya, yakni Djetro Entjaurau seorang guru dan Fatman Panaha sebagai Ibu rumah tangga (IRT). Anak ke 3 dari 6 bersaudara itu, mulai mandiri untuk pertama kalinya dan tidak tinggal bersama orang tuanya, demi mencapai apa yang dicita-citakan.
“Saya mendaftarkan diri di STM, namun jurusan teknik mesin yang dituju sudah ditutup, karena sudah di Manado, sebagai anak perantau terpaksa harus memilih jurusan lain dan berpikir sekolah saja dulu. Dan keputusan yang diambil, di mana saya memilih masuk jurusan bangunan gedung,”ujarnya.
Jurusan yang diambil saat itu, kata ketua Ikatan Alumni (IKA) Politeknik Negeri Manado (Polimdo) ini, menjadi salah satu pilihan dari orang tua dikarenakan pada zaman itu pelaksanaan pembangunan di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) sangat terasa, sehingga cita-cita saat itu, ketika selesai STM nantinya bisa bekerja di salah satu proyek.
“Selama bersekolah di STM saya tinggal sebagai anak kost di bangunan permanent milik salah seorang guru, ketika masuk tahun kedua saya izin pamit pindah kost, karena harus memilih kost yang bisa dijangkau, mengingat kondisi keuangan keluarga menurun, di mana ayah saya sedang membiayai 5 anak lainnya,” tuturnya sembari mengatakan yang terpenting saat itu memiliki tempat tidur, tempat belajar, dan tentunya bisa bersekolah.
Lanjut Justman, akhirnya ia mendapatkan tempat kost yang cukup walaupun kurang baik, mengingat kondisi kost saat itu dindingnya terbuat dari bambu, atau yang sering disebut masyarakat Manado bulu pitate.
“Dengan tempat tinggal yang sederhana ini, yang terpenting bagi saya tempatnya aman dan bisa ditinggali. Guna mempercantik kost, dinding bagian dalam saya tampalkan koran-koran atau majalah, yang tujuannya agar kamar saya tidak bisa dilihat oleh orang lain dari luar,” katanya.
Ia menceritakan tantangan lainnya yang dihadapi pada proses penyelesaian studi di STM, yakni ketersediaan makanan dan uang untuk membayar biaya sekolah yang sering terlambat, mengingat pengiriman uang membutuhkan waktu yang panjang, dikarenakan jarak serta kondisi transportasi laut waktu itu dari tanah kelahiran Prodisa-Nusanangin Essang sangat sulit.
“Dengan kondisi yang serba berkekurangan saya mulai mengatur menu makanan sesuai dengan kondisi keuangan. Seperti biasanya makanan anak kost perpaduan nasi, telur dan supermi, terkadang juga makan ikan, tapi tidak selalu. Satu waktu di kost hanya tersisah 1 telur saja, kemudian saya goreng dan dibagi menjadi 3 untuk makanan sehari,” jelasnya.
Bahkan untuk tidak membebani orang tua saat di perantauan, Justman memilih untuk bekerja sebagai tukang (knek) bangunan sambil mengaplikasikan pengetahuan yang didapatkan saat di sekolah. Uang yang didapatkan saat menjadi knek diperuntukan untuk pembayaran kost, SPP (sumbangan pembinaan pendidikan), kebutuhan makanan, dan pakaian sekolah.
“Bukan menjadi tukang saja, saya pernah ikut saudara untuk menjadi panjaga wc/toilet di Pasar Pinasungkulan. Tugas saya saat itu membersihkan dan memastikan toilet yang dipakai orang dalam keadaan bersih, selain itu, pernah juga menjadi knek pengangkut bahan material. Bahkan pernah bekerja menggali sumur, semuanya untuk mencukupkan kebutuhan hidup. Ketika memasuki program PKL (Praktik Kerja Lapangan), saya ikut terlibat bekerja supaya mendapatkan pendapatan tambahan,” tambahnya.

Suami dari ketua Persatuan Antar Alumni (PATRA) Biro Kerohanian Kristen (BKK) Polimdo, Ruth Lengkong, menceritakan perjuangannya menyelesaikan sekolah di STM tidak lepas dari peran orang tua, yang selalu memberikan dukungan untuk tetap bersemangat dalam menjalani studi, agar nantinya bisa mendapatkan pekerjaan dan bisa berhasil. “Jangan pernah mengingat kesusahan orang tua, yang terpenting bisa bersekolah,” singkat Justman mengingat pesan kedua orang tuanya.
“Setelah lulus dari STM, saya mencoba mendaftarkan diri di kampus Polimdo tahun 1999, mengingat ilmu yang didapatkan di STM rasanya masih kurang. Keinginan untuk melanjutkan studi, tentunya meminta restu dari orang tua. Dan saya menyampaikan berkaitan dengan biaya perkuliahan dan kebutuhan lainnya, nanti saya akan tambahkan dengan uang dari pekerjaan tambahan yang akan ditekuni nantinya. Mendengar penjelasan saya, akhirnya orang tua mengijinkan dan akhirnya memilih jurusan teknik sipil,” cetusnya.
Saat memasuki perkuliahan Justman memegang prinsipnya yakni, mampu menyelesaikan studi dan bisa berprestasi. “Apapun yang terjadi harus dijalani, dialami, dan dilewati, karena ini bagian dari tantangan kehidupan, sehingga dengan tekad yang kuat bisa membuahkan hasil dengan beasiswa yang bisa saya dapatkan.”
“ Setelah menyelesaikan studi di Kampus Polimdo, kemudian saya diterima bekerja di salah satu perusahaan swasta yang memiliki cabang di Kota Manado, yang bergerak di bidang beton. Di perusahaan ini hampir 2 tahun saya bekerja sejak 2002 hingga 2004 pertengahan tahun. Berikutnya, saya ke perusahaan lokal yang saat itu lebih berorientasi kepada pekerjaan bengkel last dan body repair terhitung sejak tahun 2004 sampai 2009. Sampai akhirnya di tahun 2010 menjadi bagian dari ASN (Aparatur Sipil Negara),” ujar Bapak 3 anak itu.
Menurut Justman, mendaftarkan diri menjadi seorang ASN awalnya hanya ikut-ikutan, dan ternyata dirinya bisa lulus. “Lulus menjadi ASN dasarnya adalah ketika saya bekerja hampir 7 tahun di perusahaan swasta. Dari awalnya seorang pekerja yang diperintahkan oleh atasan, sampai menjadi orang yang memerintah di perusahaan, sehingga singkat kata oleh perusahaan swasta saya dinilai sangat tinggi untuk tetap bekerja di perusahaan dengan selerty dan asset yang diberikan sangat baik,” imbuhnya.

“Hari ini saya tinggal memetik setiap usaha yang sudah dilewati bahkan lebih dari apa yang dicita-citakan, semuanya karena pemberian Tuhan Yesus yang memberkati perjalanan hidup dan perjuangan ini. Kunci suksesnya adalah takut akan Tuhan, mengutamakan Tuhan dalam segala hal, disiplin, jujur, memiliki attitude yang baik, kerja keras, melibatkan diri dalam organisasi sehingga bisa menjalin kebersamaan dengan banyak orang, kemudian memiliki sifat dan sikap empati dan simpati, dan terutama memelihara kehidupan keluarga,” cetus Kasubag rumah tangga DPRD Provinsi Sulut ini.
Kata Justman, setiap kehidupan kadang terlalu susah dan kadang juga terlalu mudah. Untuk itu, jangan pernah putus asa dan mudah menyerah dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan ini. Percaya Pada Tuhan, percaya juga pada kemampuan pribadi, dan perlu mencari teman yang memiliki kesamaan visi dan misi. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post