Memeriahkan Festival Teater Pemuda GMIM 2022 yang berlangsung pada 21-23 Oktober di Jemaat GMIM Victory Kairagi Weru, Manado, berikut ini kami sajikan sekilas profil para dramawan generasi keempat atau terkini dalam sejarah Teater di GMIM, dirangkum Tim Barta1.com.
Achi Breyvi Talanggai
Sutradara teater dan penyair ini lahir di Manado 25 Juli 1990. Tahun 2010 kuliah di Fakultas Sastra Unsrat dan mengambil fokus Literatur di Sastra Indonesia hingga meraih gelar Sarjana Sastra.
Pada 2010 bergabung dengan Theater Club Manado dan juga sempat aktif di Bengkel Musik Manado Fakultas Sastra Unsrat (sekarang Fak. Ilmu Budaya). Karya-karyanya puisinya kemudian terbit dalam antologi puisi “Surat Kepada Wajah Sepi”. Sedangkan kumpulan cerpennya dibukukan dengan judul: “Aku Berhasil Menemukan Surga” pada 2012.
Ia juga aktif menulis drama, memainkannya dan menyutradarai pertunjukkan teater. Sejumlah pertunjukan yang diikutinya antara lain: “Salib Patah (2010),” “Republik Tikus (2011),” Topeng-topeng (2010). Prahara (2011). Usikan Nyamuk (2012). Universitas orang-orang Mati (2012-2013). Getar di Penjagalan (2013). Dekonstruksi Hantu-Hantu (2014).“Jesus is the Love (2014). The Dancing Of Soul (2012). From Academy to Zer (2012).
Kiprahnya sebagai aktor dan sutradara berkali-kali mengantar grup yang dipimpinya menjadi juara dan meraih sutradara terbaik. Naskah-naskah dramanya yang pernah dipentaskan antara lain: Mahasiswa Tai Minya (2011). Republik Tai Minya (2011). Dunia Terbalik (2012). Lonceng (2014). Sangkakala Ketujuh (2013). Tamu (2012). Riak-Riak Teater (2016). Gubernur Santa (2016). Robek Warna Biru (2017).
Awal Januari 2017 mendirikan Institut Seni Budaya Independen Manado (ISBIMA) dan menjabat sebagai Presiden Direktur. Selain itu ia Ketua Bidang Teater Dewan Kesenian Kota Manado, anggota Komite Sinematografi Dewan Kesenian Sulut. Kini melanjutkan studi S2 di UKIT YPTK Tomohon mengambil fokus pada bidang Agama, Budaya dan Masyarakat.
Cristy Puitika Tinungki
Cristy Puitika Tinungki salah seorang aktor Sanggar Kreatif Manado yang boleh dikata memiliki prestasi mencolok. Di tahun 2016 ia bermain dalam lakon “Kata Mati” pada Festival Teater Remaja Indonesia di Grand Teater Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang mengantar Sanggar Kreatif menjadi grup teater terbaik Indonesia dan menyabet 5 penghargaan sekaligus meraih aktor terbaik tanpa jejang.
Aktor kelahiran Tahuna, Sangihe, 4 Juli 1995 ini telah bergabung di Sanggar Kreatif sejak masa Sekolah Dasar (SD). Terlibat dalam banyak pertunjukan teater sekolahnya SMA Eben Haezar Manado. Bersama grup Teater Sodanama SMA Eben Haezar, ia beberapa kali meraih penghargaan aktris terbaik dalam festival teater pelajar Sulawesi Utara, dan grupnya menjadi grup terbaik teater pelajar Sulut.
Selain terlibat sebagai aktor dalam puluhan pertunjukan Sanggar Kreatif, Teater Nazaret Kreatif, dan Manado Teaterholic, ia juga tercatat aktif menyutradarai sejumlah pertunjukan teater gereja dan menjadi juri festival teater. Ikut membintangi sejumlah film televisi di antarannya Film Anak “Semateir” yang terpilih sebagai Film Anak Terbaik Indonesia pada Festival Film Anak Piala Gatra Kencana TVRI tahun 2017. Pada 2018 ia ikut membintangi film “Kinatoanku” yang disiarkan TVRI Nasional.
Pada tahun 2017, ia ikut terlibat sebagai aktor untuk Lakon “Museum” bersama Sanggar Kreatif Manado ke ajang Pekan Teater Nasional di Jogyakarta Yang disutradarai Vick Chenore. Pada 9 November 2019 ia kembali terlibat sebagai aktor dalam lakon “Museum” yang dipentaskan Manado Teaterholic di aula Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara.
Penyandang Sarjana Theologi yang juga Pendeta di lingkup Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM) ini selain dikenal sebagai aktor dan sutradara, ia juga seorang pembaca puisi yang handal dan memiliki talenta musik. Kini tengah menyelesaikan studi pasca sarjana di Fakultas Theologi.
Donald Gee Bentian
Berkali-kali menyabet penghargaan sutradara terbaik, serta menghasilkan sejumlah karya pertunjukan berkelas di kota kelahirannya, menjadikan Donald Gee Bentian dikenal sebagai salah seorang dramawan terbaik dari Kota Bitung. Lahir di Bitung, 16 Desember 1982. Pendidikan terakhir Strata 1 (Hukum) Universitas Pembangunan Indonesia. Berteater sejak duduk di bangku SMA pada tahun 1997 dalam binaan Sanggar Tangkasi Bitung.
Pada tahun 1998 terlibat sebagai pemain pada pementasan lakon “Nyanyian Padang Hidup”, kemudian berperan sebagai Tamasonte dalam lakon “Pangkunang” karya Leonardo Axsel Galatang pada 1997. Tahun 2011 berperan dalam lakon “Tragedi Cangkul” karya Leonardo Axsel Galatang untuk International Bali Art Festival di Bali yang diikuti oleh seratusan negara. Tahun 2012 bermain dalam “Sebatang Lilin Untuk Ninong” karya Leonardo Axsel Galatang pada pentas Hari Anti Korupsi yang di gagas oleh KPK di hall stasiun RRI Manado. Tahun 2013 berperan sebagai tokoh Aktivis dalam naskah “Kisah Cinta Putri Konglomerat” karya Leonardo Axsel Galatang pada pentas produksi Sanggar Tangkasi.
Karya penyutradaraannya antara lain: Tahun 2009 menjadi asisten sutradara pada Sanggar Mentari (SMA Negeri 2 Bitung) naskah “Membasuh Dengan Air Kencing” karya Leonardo Axsel Galatang yang disutradarai Jaladri Junius pada pekan Teater Tangkasi. Tahun 2011 menyutradarai naskah “Membasuh Dengan Air Kencing” karya Leonardo Axsel Galatang di Sanggar Biduk (SMP Negeri 9 Bitung) untuk kesertaan pada festival Teater Remaja Tangkasi. Menyutradarai lakon “Nyanyian Dari Tikungan” karya Leonardo Axsel Galatang di Sanggar Cahaya (SMA Negeri 3 Bitung) pada Festival Teater Remaja Tangkasi. tahun 2012 menyutradarai naskah “Pangkunang” karya Leonardo Axsel Galatang di Sanggar Caritas SMA Katolik Don Bosco Bitung pada Festival Teater Remaja Tangkasi.
Menyutradarai dan menulis lakon “Nyanyian Dari Selat” yang dipentaskan pada Festival Pesona Selat Lembeh. Menyutradarai dan menulis lakon “Surga Yang Jenaka” dipentaskan pada acara Natal Keluarga Besar Pendeta se-Sinode GMIM yang dilaksanakan di Raewaya Resort Kasawari Bitung. Tahun 2022 menyutradarai lakon “Pengadilan Aturan” karya Leonardo Axsel Galatang pada pentas teater produksi ke – 105 Sanggar Tangkasi.
Jaladri Junius Bawotong
Jaladri Junius Bawotong, dikenal sebagai seorang dramawan produktif dari Kota Bitung. Kini ia menjabat Ketua Sanggar Tangkasi. Lahir di Bitung, 4 Juni 1986. Pendidikan SD GMIM 1 Madidir (1992-1998), SMP N 2 Bitung (1998-2001), SMA N 2 Bitung (2001-2004).
Sebagai aktor pernah berperan di antaranya dalam lakon “Tembang Sang Anak Terhilang” karya dan sutradara Michael R Jacobus pada 1998. Berperan sebagai Orang Gila dalam lakon “Simfony Dusun Ungu” karya dan sutradara Michael R Jacobus pada 1999. Berperan dalam lakon “Luka Wangsa” karya Reyner E Oentoe pada Festival Teater Remaja UKI Tomohon tahun 2002. Berperan sebagai Wan Abab dalam “Para Penjudi” karya N. Gogol yang disutradarai Erick MF Dajoh tahun 2012. Sebagai Wakil Rakyat dalam lakon “Parodi Kotak” karya Leonardo Axsel Galatang adaptasi Presi Wantah, pada HUT Sanggar Tangkasi 2021,
Karya-karya penyutradaraannya di antaranya, lakon “Luka Wangsa” karya Reiner E Oentoe, pada Festival Teater Remaja UKI Tomohon -tahun 2002. “Tanjung Pulisan” karya Leonardo Axsel Galatang, pada Festival Teater Remaja Tangkasi tahun 2004. Menulis lakon “Bartimeus” dan menyutradarainya untuk pentas Natal SMA N 2 Bitung tahun 2004. Menyutradarai lakon “Sama-sama Edan” karya Leonardo Axsel Galatang, pada Petra Smart and Talent Festival STIE Petra Bitung tahun 2005. Menyutradarai lakon “Surat Sunyi Rerumputan” karya Iverdixon Tinungki, pada Festival Teater Remaja Hardiknas Tangkasi tahun 2005. Menyutradarai “Surat Sunyi Rerumputan” karya Iverdixon Tinungki, pada Festival Teater Remaja Balai Bahasa tahun2005. Menyutradarai lakon “Luka Wangsa” karya Reiner E Oentoe, pada Festival Teater Remaja Tangkasi tahun 2005. Menyutradarai “Doa Profesor Tanah” karya Leonardo Axsel Galatang, untuk kesertaan Sanggar Mentari pada Festival Teater Remaja Tangkasi tahun 2008. Menyutradarai “Nyanyian dari Tikungan” karya Leonardo Axsel Galatang untuk Sanggar Cakrawala pada FTR Tangkasi 2008.
Menyutradarai sanggar Ekleshia lakon “Doa Profesor Tanah” karya Leonardo Axsel Galatang pada Festival Teater Remaja Tangkasi 2016. Menyutradarai dan menulis naskah “Setia Hingga Akhir” untuk pentas Kolaborasi dengan Kodim 1310 Bitung pada 17 Agustus 2016. Menyutradarai Sanggar Binsus /SMA Kr 2 Binsus Tomohon lakon “Nyanyian Dari Tikungan” karya Leonardo Axsel Galatang pada Festival Putih Abu Abu Balai Bahasa tahun 2014. Menyutradarai lakon “Pulang Ke Rumah Sang Kreator Agung” pada Festival Seni Pemuda Gereja tahun 2014. Menyutradarai “Puisi Pengharapan” karya Iverdixon Tinungki pada Festival Teater Remaja GMIM 2016.
Johanis Fernando Rinaldy Somba
Tahun 2018, Johanis Fernando Rinaldy Somba terpilih sebagai sutradara terbaik Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) lewat pertunjukan semi kolosal “Hadineas Sang Prajurit” yang disutradarainya. Di jagat teater Sulawesi Utara (Sulut), ia lebih dikenal dengan nama Ando Somba. Lahir di Manado, 29 Januari 1995.
Mengawali kiprahnya di dunia teater pada tahun 2009 baik sebagai aktor kemudian menjadi asisten sutradara untuk FSPG dengan naskah “Babel Edenia” karya dan Sutradara Vick Chenorre. Ia juga terlibat dalam sejumlah produksi dan pementasan teater di Sulut antaranya pada tahun 2013 menjadi aktor dalam Pentas Produksi lakon “Universitas Orang-orang Mati” karya Irwan Jamal yang disutradarai Christian Lumenta.
Ikut sebagai pekerja panggung dalam puluhan pertunjukan teater di berbagai kota. Menjadi asisten sutradara di beberapa pementasan. Menjadi tim tata artistik dan urusan panggung lainnya. Semua pengalaman di dunia panggung itulah kemudian mengantar dia menjadi salah satu sutradara terkemuka saat ini di Sulut. Pada tahun 2015 ia mengawali kiprahnya sebagai sutradara dengan lakon “Puisi Pengharapan” karya Iverdixon Tinungki. Tahun 2019 menjadi aktor di Pentas Produksi MTH dalam lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Richard Juandy Salensehe. Karya-karya yang pernah disutradarainya di antaranya: Lakon “Doa-doa Samara” karya Vick Chenorre. Lakon “Revolusi Lonceng” karya : Vick Chenorre. Lakon “Penyaliban” karya dan sutradara Ando Somba.
Randy Reza Datangmanis
Biru, sebuah nama sarkastik untuknya. Ia aktor sekaligus sutradara teater yang telah menyutradarai dan memerankan berbagai tokoh dalam lakon karya pengarang dunia seperti Slawomir Mrozek hingga Jhon Kirn. Selain sebagai aktor dan sutradara, ia juga menulis lakon di antaranya: Akhelos, dan Lentera Cahaya. Lahir di Manado, 18 Juli 1991. Pertama mengenal teater pada tahun 2006 menjadi aktor dalam naskah “Keranda Proklamasi “ karya Christian Lumenta yang dipanggungkan Teater Psycho dalam acara pentas seni yang diselenggarakan oleh Teater Karangmantra.
Pada 2007 pentas jalan bersama Teater Psycho di kelurahan Teling Tingkulu dalam rangka 17 Agustus 2009. Berperan sebagai Kaba di panggung Festival Seni Pemuda GMIM (FSPG) dalam lakon “Babel Edenia” karya dan sutradara Vick Chenorre. Dalam pentas produksi Paskah Teater Benteng ia berperan sebagai Simon dalam lakon “Penyaliban” karya dan sutradara Christian Lumenta pada 2010. Berperan Sebagai pemimpin paduan suara dalam lakon “Antigone” karya Sophokles disutradarai Vick Chenorre. Berperan sebagai Gagak dalam lakon “Universitas Orang-orang Mati” karya : Irwan Jamal yang disutradarai Christian Lumenta pada 2014 dalam pentas produksi bersama teater Muda Manado di Gedung Kesenian Bitung, di Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado serta di Teater Hall Sastra Unsrat.
Terpilih- sebagai Pembantu Aktor Terbaik 2015 dalam lakon “Babel” karya Vick Chenore, lalu sebagai aktor terbaik PSR dalam peran Junus pada lakon “Junus” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Vick Chenorre tahun 2016.
Karya-karya penyutradaraannya antaranya: : “Akhelos” dipentaskan pada FSPG 2014. “Lentera Cahaya” dipentaskan pada Pesta Seni Remaja GMIM 2011. Menyutradarai lakon “Babel Edenia” karya Vick Chenorre, untuk FSPG 2012. Menjadi asisten sutradara lakon”Babel” karya dan sutradara Vick Chenorre pada PSR 2012. Sebagai asisten sutradara dalam lakon “Nabi Kembar” karya Slawomir Mrozek yang disutradara Vick Chenorre pada tahun 2013. Sebagai aktor dan sutradara dalam pergelaran Teater Psycho bersama BNN Tondano dan Manado. Menyutradarai “The Cell” sebuah lakon karya Jhon Kirn untuk FSPG. Menjadi asisten sutradara dalam pentas Produksi Teater Benteng untuk lakon “Puisi Pengharapan” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Ando Somba.
Sebagai penata artistik dalam lakon “Kata Mati” karya Iverdixon Tinungki pada Festival Teater Remaja Nasional di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Sebagai penata artisitik untuk lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Vick Chenorre pada Pekan Teater Nasional di Jogyakarta 2017.
Richard Juandy Salensehe
Berawal dari aktor dan pekerja belakang panggung, Richard Juandy Salensehe belakangan menjadi salah satu sutradara teater Sulawesi Utara yang selalu tampil dengan pertunjukan bermutu. Pada 9 November 2019, lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Richard Juandy Salensehe memukau ratusan penonton yang memadati Aula Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Pementasan tunggal Manado Teaterholic yang digarapnya itu disponsori Harian Tribun Manado dan didukung Sanggar Kreatif Manado. Selain merupakan pementasan yang sukses, karya penyutradaraannya ini mendapatkan apresiasi dari sejumlah pengamat teater dan para spektator sebagai salah satu pertunjukan yang bermutu yang pernah hadir di Sulut.
Dramawan yang akrab disapa Opo ini lahir di Manado pada 14 Juni 1993. Pendidikan terakhir S1 Teknik Mesin (industri) di UNSRAT. Sejak tahun 2014 pada pementasan Festival Seni Pemuda Gereja (FSPG) ia menjadi aktor untuk pertama kali dalam lakon “Ketika Iblis Menikahi Perempuan” karya Nicolo Machiaveli yang di sutradarai Vick Chennore. Ia kemudian bermain dalam sejumlah pertunjukan di beberapa kota di Sulut. Tahun 2015 menjadi sutradara untuk pertama kali untuk lakon “Orang Asing” karya Rupert Brook saduran. D. Djajakusuma.
Naskah-naskah yang pernah disutradarainya untuk Teater Benteng dan beberapa teater Pemuda Remaja antaranya: “Primus senja” karya Iverdixon Tinungki. “Ijinkan aku membunuhmu” karya Axel Galatang. “Orang-orang Terusir” karya Iverdixon Tinungki. “Kata Mati” karya Iverdoxon Tinungki. “Penyesalan Tak Berujung”. “Tarsi” Karya Iverdixon Tinungki. “Tarman Sang Perampok” karya Iverdixon Tinungki. Pada 2016 ikut dalam tim artistik untuk lakon “Kata Mati” Sanggar Kreatif Manado pada Festival Teater Remaja Nasional di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Kemudian pada tahun 2017 ikut sebagai penata musik dalam lakon “Museum” di Pekan Teater Nasional di Jogyakarta bersama Sanggar Kreatif. Ia juga ikut terlibat dalam pertunjukan Sanggar Kreatif pada Natal Nasional 2017 yang berlangsung di Tondano yang dihadiri Presiden RI Joko Widodo.
Beberapa kali terpilih sebagai sutradara terbaik pada festival teater di Sulut. Saat ini ia menjabat Ketua Manado Teaterholic. Di tanganya, grup binaannya tersebut mendapatkan Piagam penghargaan dari BNN yang diserahkan gubernur Sulut untuk prestasi dan keterlibatan dalam sosialisasi bahaya narkoba lewat pementasan.
Seftino Sandro Sambalao
Pada musim panas Agustus-September 2018, Seftino Sandro Sambalao, pertama kali terlibat sebagai aktor dalam pementasan teater internasional Dionysus di Toga Toyama Prefecture Jepang bersama teater Suzuki Company of Toga, salah satu teater terkemuka negeri sakura itu. Pentas internasinal Dionysus berikutnya yang diikutinya pada Oktober 2018 di Pelataran Candi Prambanan, Indonesia, lalu di Singapore International Festival of Arts (SIFA) tahun 2019.
Aktor Sanggar Kreatif Manado kelahiran Manado, 15 September 1994 ini tercatat sejak tahun 2016 terundang mengikuti pelatihan teater di Suzuki Company of Toga. Selama mukim dan menimba ilmu teater dari sang Maestro Tadasi Suzuki, di Suzuki Company of Toga, salah satu pusat perkembangan teater kontemporer dunia, ia mengaku mendapatkan pelajaran yang langka, dan tak pernah terpikirkan sebelumnya. Selama di Toga, ia dan Tim Scot digembleng habis-habisan dengan latihan dasar Suzuki Method meliputi “Stomping”, gerak “Basic”, “Jang Jaka Jang”, dan berbagai pelatihan persiapan menuju penggarapan drama “Dionysus”, karya adaptasi Tadashi Suzuki dari “The Bacchae” karya pengarang Yunani Euripides (c. 480 – c. 406 BC).
Aktor yang kini bekerja di salah satu instansi pemerintah sebagai PNS ini mulai aktif di teater sejak tahun 2010, ia bermain dalam sejumlah pertunjukan Sanggar Kreatif Manado. Terlibat sebagai aktor dalam beberapa festival teater di Sulawesi Utara dan meraih penghargaan aktor terbaik. Ia juga terlibat sebagai sutradara dalam beberapa pertunjukan di Sulawesi Utara. Pada tahun 2016 ia meraih aktor terbaik tanpa jejang dalam Festival Teater Remaja Indonesia yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki Jakarta dalam lakon “Kata Mati” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarai Vick Chenore dan Aldes Sambalao.
Pada 2017 terlibat sebagai aktor untuk Lakon “Museum” karya Iverdixon Tinungki bersama Sanggar Kreatif Manado ke ajang Festival Teater Nasional (FTN) di Jogyakarta yang disutradarai Vick Chenore. Terakhir ikut main dalam pertunjukan Manado Teaterholic sebagai aktor utama dalam lakon “Museum” yang disutradarai Richard Juandy Salensehe yang berlangsung pada 9 November 2019 di Aula Mapalus Kantor Gubernur Sulawesi Utara. Selain eksis di dunia teater baik sebagai aktor dan sutradara, ia juga terlibat sebagai Juri Festival Teater Pemuda GMIM.
Sylvester Setligt Ompi
Sylvester Setligt (Ompi) mencuat sebagai salah satu dramawan fenomenal dengan memenangkan dua festival sekaligus yaitu, Festival Teater Remaja GMIM 2019 yang berlangsung pada 30 Agustus 2019 di Kawangkoan, Minahasa dan Festival Seni Pemuda Gereja (FSPG) GMIM 2019 di Wilayah Manado-Teling. Lewat lakon “Tarsi” karya Iverdixon Tinungki yang disutradarainya.
Ia mengenal teater sejak SMA. Mengikuti Pelatihan Bengkel Sastra garapan drama di Balai bahasa Sulut. Ikut bermain dalam sejumlah lakon yang di sutradarai dramawan Eric MF Dajoh untuk pentas nasional.
Pernah magang di Teater Keliling Jakarta selama 2 tahun. Berkali-kali terpilih sebagai aktor terbaik dan Sutradara terbaik dalam beragam festival teater. Berhasil mengatar Teater Jemaat GMIM Yerusalem Kolongan Atas (Sonder) dan teater Jemaat GMIM Syaloom Kolongan Atas (Sonder) sebagai grup terbaik dalam festival teater Rema dan Pemuda GMIM tahun 2019. (*)
Penulis: Tim Barta1


Discussion about this post