Manado, Barta1.com – Sampah salah satu permasalahan pelik yang dihadapi masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Indonesia masuk peringkat ke tiga sebagai penyumbang sampah ke laut, setelah India dan Cina.
Hal itu, menjadi tantangan yang perlu dihadapi secara bersama-sama baik itu pihak pemerintah, swasta, pengusaha dan masyarakat itu sendiri. Melihat hal itu, beberapa pengiat lingkungan di Indonesia melakukan inovasi.
Termasuk Ing Samiadji, salah satu pengiat lingkungan asal Sulut yang membuat kerajinan berbentuk hewan endemik menggunakan sampah bekas, baik itu sampah plastik maupun puntung rokok.
“Berkreasi menggunakan sampah bekas dari dalam rumah sudah menjadi bagian kampanye menyelamatkan lingkungan kita bersama,” ungkap Ing Samiadji kepada Barta1.com, Sabtu (9/7/2022).
Menurutnya, sampah yang masuk dalam rumah berujung dibuang sembarangan. “Jika tidak dimanfaatkan maka sampah-sampah ini akan merusak lingkungan kita, serta berdampak buruk dalam kehidupan manusia,” jelasnya.
Untuk mengurangi permasalahan sampah, dirinya membuat bentuk hewan endemik berupa babi rusa, tarsius, yaki, dan burung maleo menggunakan kulit supermi, shampo, kopi, puntung rokok, bekas korek api dan sampah lainnya.
Lanjutnya, lebih berbahaya lagi jika sampah dari rumah ini di buang ke laut, dengan sekejap pastinya terjadi pencemaran dan membahayakan kehidupan biota laut berupa ikan dan karang, hingga kehidupan manusia pun terganggu ketika mengkonsumsi ikan yang terkontaminasi mikro plastik akibat pencemaran yang terjadi.
“Hasil karya yang saya buat ini sudah ditampilkan dibeberapa pameran besar, dan memiliki tujuan untuk mengajak masyarakat luas untuk bisa melakukan kreativitas dari dalam rumah, dari sampah terdekat kita,” terang anggota KMPA Tunas Hijau ini, sembari menyebut dirinya memulai kreativitas membuat kerajinan dari sampah sejak tahun 2018.
Selain sampah, Ing Samiadji juga meminta pemerintah untuk tidak terlibat perusakan lingkungan atau merampas ruang hidup manusia. “Pemerintah seharusnya melihat apa yang menjadi keluhan dan kebutuhan masyarakat, bukan merampas ruang hidup masyarakat yang terjadi di Sangihe dan Kalasey dua,” pungkas lelaki kelahiran 10 November 1980 ini.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post