Teater pelajar di Sulawesi Utara sejatinya sudah berkembang pada pertengahan 1980-an. Namun puncak yang semarak baru terjadi semenjak Balai Bahasa Sulut menggelar festival tahunan dan pelatihan “Bengkel Sastra” dimulai tahun 2000.
Inyo Cawan, sosok lelaki bersuara serak, ceking hitam dan kriting. Generasi peteater terkini mungkin tak banyak mengenalnya. Namun menelisik jejak pembinaan teater pelajar di Sulawesi Utara, kita tak mungkin meluputkan namanya.
Inyo, sapaan akrabnya. Ia dramawan berkarakter khas di era 1980. Liar dan eksploratif adalah cara dia saat menampilkan medium tubuhnya ke atas panggung teater. Sering tampil dalam pertunjukan teater terkemuka bersama dramawan Husen Mulahele, Wempy Lontoh, Karel Takumansang, Kamajaya Alkatuuk. Sebelum merantau ke luar negeri, Inyo Cawan bertahun-tahun menggawangi Teater SMA Kristen YPKM Manado.
Di tangan Inyo Cawan, Teater SMA Kristen YPKM Manado menjadi grup teater pelajar paling terkemuka pada masa 40 tahun silam itu. Tak saja menggelar sujumlah pertunjukan lepas, mereka juga aktif mengikuti festival teater terbuka tingkat umum dan menjuarainya.
Dari era yang sama, panggung festival teater Sulut juga disemaraki pertunjukan grup teater SMP Katolik ST Hubertus. Grup binaan dramawan Uche Ismail ini, menjadi pesaing terberat untuk grup-grup luar sekolah, karena dalam beberapa festival tingkat umum, Hubertus mampu menundukan grup-grup luar sekolah yang telah mapan.
Sekolah menengah pertama yang terletak di Tuna, Kombos ini, sebagaimana tradisi pertunjukan teater di sekolah-sekolah Katolik yang memang terbina baik di kurun itu tak saja aktif menggelar pertunjukan, juga mengikuti festival-festival tingkat umum. Pertunjukan yang penuh totalitas Grup ST Hubertus tercatat antara lain “Nyanyian Angsa” sebuah dramatisasi puisi WS Rendra, serta “Polahi’ lakon karya Uche ismail.
Sementara pada 1983, sekembalinya dari pendidikan teater di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) Dramawan John Piet Sondakh menggarap Teater SMPP Negeri 29 (saat ini SMA Negeri 7 Manado). Lewat garapan dramawan yang saat ini lebih dikenal dengan nama panggung Papanialo itu, Teater SMPP Negeri 29 Manado berhasil mementaskan sebuah pertunjukan spektakuler Antigone, sebuah tragedi yang ditulis Sophokles, pengarang Yunani paling terkenal di dunia, sebelum tahun 442 SM.
Di Bitung, pada 1983, dramawan Leonardo Axsel Galatang mendirikan Teater Repsas di SMA Negeri Bitung. Setelah menggelar dua kali pementasan, Axsel ditangkap aparat Orde Baru dengan dalih pementasannya tak berizin dan dianggap ‘menghasut’, dan ‘merongrong’ penguasa. Lepas dari tahanan aparat, Axsel mengganti nama sanggar teaternya menjadi Sanggar Tangkasi sampai sekarang. Sanggar Tangkasi sendiri telah berkembang menjadi grup mandiri yang besar, menanungi pembinaan teater di berbagai sekolah di kawasan yang berjuluk Kota Samudera itu.
Di atas tahun 1990, grup teater pelajar nyaris merambah semua sekolah-sekolah menengah atas di Manado. Para dramawan yang melakukan aksi masuk sekolah menangani ekstrakurikuler drama menjadikan panggung teater pelajar kian marak. Dua grup yang menonjol dan patut dicatat pada tahun-tahun itu yaitu teater SMA Negeri 1 Manado yang dibina dramawan Posma Tambunan dan SMEA Negeri Manado (saat ini SMK Negeri 1 Manado).
Kepeloporan Balai Bahasa Sulut
Tentang perkembangan teater pelajar dalam 20 tahun terakhir tak lepas dari kepeloporan Balai Bahasa Sulut yang meluncurkan program “Bengkel Sastra”, sebuah program pembinaan sastra dan teater yang melibatkan sekolah-sekolah yang dumulai pada tahun 2000.
Kegiatan itu bermula sejak ahli bahasa dan sastra Prof. Dr. Hunggu Tadjuddin Usup menjadi Kepala Balai. Seniman teater direkrut untuk menjadi pelatih dan narasumber pelatihan bagi para siswa. Balai Bahasa Sulut juga menggelar festival tahunan untuk grup-grup teater, baik tingkat SLTA dan SLTP se-Sulawesi Utara.
Festival tahunan teater pelajar pun menjadi tonggak yang kokoh menopang pertumbuhan grup-grup teater sekolahan. Puluhan teater pelajar dari kabupaten kota se-Sulut menjadikan festival tahunan itu sebagai ajang unjuk kreatifitas mereka.
Dalam 20 tahun terakhir itu, sejumlah grup teater pelajar tercatat berhasil menempati rengking terkemuka dalam festival tahunan tersebut, antaranya, Teater Sodanama SMA Eben Haezer Manado. Grup Teater Sodanama SMA Eben Haezer Manado yang dibina dramawan Vick Cenore Baule ini, selain berkali-kali menjuarai festival tahunan Balai Bahasa, juga aktif menggelar pertunjukan terbuka untuk para pelajar.
Sementara Sanggar 909 SMAN 4 Manado bisa dikata sebagai grup teater pelajar paling eksis. Tak saja berkali-kali menjuarai festival tahunan, grup binaan dramawan Johny Sangeroki ini juga sering mengikuti festival di berbagai kota di Indonesia.
Grup-grup teater pelajar terkemuka lainya, antaranya: Teater SMA Negeri 1 Bitung, SMA Negeri 2 Bitung, Teater SMA Negeri 2 Tahuna, Teater SMK Negeri 1 Tahuna, Teater SMA Negeri 9 Binsus Manado, Teater MAN 1 Kotamobagu, Teater SMA Negeri 7 Manado, Teater SMA Negeri 1 Tondano, Teater SMA Negeri 3 Tondano. SMA Kristen 2 Binsus Tomohon, Teater SMP Eben Haezar Manado, Teater SMP Garuda Manado.
Penulis : Iverdixon Tinungki


Discussion about this post