• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Selasa, April 28, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Satria Yanuar Akbar, Teater NCCL dan 2 Pentas Akhir Tahun 2020

by Iverdixon Tinungki
21 Desember 2020
in Kultur, Seni
0
Satria Yanuar Akbar, Teater NCCL dan 2 Pentas Akhir Tahun 2020

Ilustrasi. (foto: istimewa)

0
SHARES
566
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Iverdixon Tinungki

Naluri estetika saya diseretnya seperti pelarian yang tertangkap. Dan antara belenggu panggilan dan ketololan, saya harus menoleh ke-2 pertunjukannya yang menutup akhir tahun 2020 dengan gemilang mengungkap sisi lain kelindan sejarah Minahasa.

Satria Yanuar Akbar, lelaki yang tak begitu kukenal. Wajahnya pun tak begitu kuhafal. Penulis lakon yang kiprahnya di Sulawesi Utara belum seberapa. Tapi ia, tiba-tiba merampas perhatian saya. Di lain sisi, teater, tak ada yang lebih menarik dari itu dalam hidup saya.

Sumpah! Saya paling tak suka menulis resensi, atau mengapresiasi pertunjukan teater yang berbau proyek. Kerena pertama-tama, ada ketidakadilan di sana, yaitu tak ada pembagian rezeki bagi seorang apresiator atau peresensi. Kedua, penyakit curiga saya yang buruk, selalu memandang pertunjukan proyek tak lebih kerja seniman petualang berburu uang.

Dan siang itu, matahari cukup terik menghujam pesisir Manado bagian utara. Harusnya saya terus asyik di depan laptop menulis telaah perangai budaya politik Pilkada Sulut 2020 yang bergelimang pernik menakjubkan. Namun, Satria Yanuar Akbar, lelaki yang tak begitu kukenal itu, tak bisa kutampik dengan alasan apapun. Ia menyuguhkan saya sebuah pengalaman teater yang tak terlupakan dan fenomena budaya yang sebenarnya di penghujung tahun berlumur bencana Covid-19.

Ada sebuah ungkapan yang menyatakan, “kesenian serius tak diperuntukan bagi orang kebanyakan”. Demikian teater. Dibutuhkan energy besar untuk memerankannya, juga dibutuhkan sejumput pengetahuan untuk menontonnya. Lazimnya penonton teater Eropa-Amerika, seseorang harus datang menonton dengan segala persiapan matang. Mengapa? Sebab, menonton teater tanpa persiapan berupa seperangkat pengetahuan yang dibutuhkan, maka pertunjukan itu akan menjadi semacam gema kosong yang datang pada saat anda tidur.

Tentang penonton teater ini, saya pernah mengutip kelaziman di Amerika dan Eropa dalam sebuah tulisan. Pecandu teater akan membaca berbagai resensi dan referensi sehubungan dengan pertunjukan sebelum mereka menyambangi gedung teater. Sebab mereka tak ingin membuang waktu untuk kesia-siaan. Mereka harus lebih awal tahu, mengerti, dan memahami apa yang akan dipertunjukan, sehingga mereka bisa menikmati pertunjukan.

Saya belum lama menonton “Hamilton” –sebuah film musical Amerika Serikat tahun 2020 yang terdiri dari rekaman panggung drama musikal Broadway 2015 yang diangkat Disney ke layar lebar– ketika Teater North Celebes Creative Lab (NCCL) mengundang saya ke press converence pertunjukan “Drama Musikal Bitung” yang berlangsung di Cafe Kemang Manado, penghujung September 2020.

Saat “Drama Musikal Bitung” pertama kali dipentaskan seiring perayaan HUT ke-30 Tahun Kota Bitung, Oktober 2020, bertempat di Gelanggang Olah Raga (GOR) kota berjuluk negeri Cakalang ini, hal pertama yang sepatutnya saya kemukakan adalah: “Satria Yanuar Akbar, lelaki yang tak begitu kukenal, bersama kelompok NCCL Bitung, telah menyuguhkan sebuah pertunjukan yang berkelas untuk khazanah teater di belahan timur Indonesia.

Seperti juga “Hamilton” film drama musikal yang berlatar sejarah salah satu pendiri Amerika Serikat Alexander Hamilton, yang terutama menarik dari Drama Musikal Bitung –yang mengangkat liku sejarah panjang terbentuknya kota pesisir itu– yaitu pendekatan garapan musical nan bernas dan kaya ragam seperti hip hop, R&B, pop, soul, dan langgam tradisional Makaruyen Minahasa hingga Masamper Sangihe Talaud.

Sebagai orang yang juga relatif intens mengikuti pertunjukan musical Teater Koma Jakarta, saya harus mengatakan ikut jatuh cinta pada pertunjukan Drama Musikal Bitung. Karya kolaborasi penulis Satria Yanuar Akbar, sutradara Eirine Debora , musikus Jacquard Lawalata, orkestrasi Riedels Sagai, penata vokal Meidi Sasambe ini harus dicatat berada pada titik paling depan dari semua pertunjukan drama musical yang pernah dipanggungkan di Sulawesi Utara.

Drama Musical Bitung tak saja menyajikan puncak-puncak komposisi music dramatic yang tergarap dengan apik juga berhasil menampilkan diorama rentang sejarah masyarakat Minahasa hingga terbentuknya Kota Bitung. Karya kolaborasi ini juga mampu menyajikan berbagai persoalan sosial dalam dialektika dramatik, termasuk mimik dan gerak para pemeran yang relatif berhasil disentuh Eirine Debora.

Lalu, pada Kamis, 3 Desember 2020, saya kembali bertemu karya Satria Yanuar Akbar lewat pementasan lakonnya yang berjudul “Hikayat Dotu dan Kekuasan” (HDDK), disutradarai Hanung Prabowo, berlangsung di Ex ruang sidang Kantor DPRD Sulut yang terletak di Sario, Manado

Dalam pertunjukan NCCL ini, tubuh tak sekadar alat ekspresi juga telah dipakai menjadi alat dialog. Tubuh yang mengungkap ide dan pesan. Tubuh yang menyatu dengan atmosfer cahaya, property dan hand property, lalu berubah menjadi gelombang semiotika. Ini sebabnya, harus diakui, saya hanyut dalam komposisi artistik yang terkonsep dan tergarap secara apik dan membentuk alur dramatiknya.

Pertunjukan lakon karya Satria Yanuar Akbar ini menggelitik saya karena berhasil membawa ke atas pangung teater sebuah simbol tubuh yang menjadi sebuah alat ucap dalam mengungkap kehidupan. Bahkan senjata yang kerap terbidik ke arah politik kekuasaan.

Sebagai kritik kekuasaan, Dotu dalam idiom Minahasa, memiliki kompleksitas representasi praktik kekuasaan yang sama bila kita membaca karya-karya klasik semisal Oedipus, Dionysus, King Lear, Hamlet, Machbet, Faust, Baal, Danton, Monserat, dan Caligula, atau karya-karya dramawan Indonesia N Riantiarno seperti Bom Waktu, Orang Kaya Baru, Suksesi, dan lain-lain.

Ide relasi kekuasaan hegemonik menjadi gagasan utama HDDK. Ada pertarungan kekuasaan dan kematian, pertarungan kekuasaan dan ketakutan yang amat terasa dalam memori kolektif masyarakat bawah yang selalu menjadi korban.

Di sini HDDK membongkar kesadaran kelektif kaum bawah yang disimbolkan dalam laku tokoh Rinte, seorang petani Garam yang justru memiliki kesadaran yang utuh tentang nilai-nilai kemanusiaan. Dengan pengalaman antologisnya, sosok Rinte menjadi peluru dari mulut senapan yang deras menghujam relasi kekuasaan hegemonik.

Satria Yanuar Akbar, lelaki yang tak begitu kukenal. Wajahnya pun tak begitu kuhafal. Penulis lakon yang kiprahnya di Sulawesi Utara belum seberapa, tapi lewat HDDK telah berhasil menggiring saya dalam sebuah kesadaran tokoh Rinte sebagai prototype pahlawan kaum bawah meski serupa dengan gambaran William Shakespeare dalam Macbeth, 1606, yang melukiskan; — Hidup adalah sebuah kisah yang diceritakan oleh orang idiot—yang tak berarti apa-apa di mata kekuasaan.

Lewat 2 pertunjukan inilah nuluri estetika saya diseretnya seperti pelarian yang tertangkap di penghujung tahun 2020. (*)

Barta1.Com
Tags: iverdixon tinungkiSatria Yanuar Akbar
ADVERTISEMENT
Iverdixon Tinungki

Iverdixon Tinungki

Jurnalis dan sastrawan. Pendiri dan Editor senior di Barta1.com

Next Post
Manado Zona Merah, Polimdo Wisuda Daring dan Kepemimpinan Maryke Alelo

Manado Zona Merah, Polimdo Wisuda Daring dan Kepemimpinan Maryke Alelo

Discussion about this post

Berita Terkini

  • SIEJ Sulut Soroti Pengakuan Izin Belum Lengkap di Kasus Gunung Tatawiran 28 April 2026
  • Menjalin Kolaborasi Global: Polimdo Ambil Peran Strategis dalam CITIEA 2026 28 April 2026
  • Polisi Ringkus Gembong Sabu Karombasan, Jaringan Dikendalikan dari Lapas Tuminting 27 April 2026
  • Akses Jalan Likupang Dikeluhkan Warga, DPRD Sulut Panggil PT MSM dan BPJN RDP 27 April 2026
  • Bupati Hadiri HUT ke-64 Jemaat GMIST Samaria Bulude, Letakkan Batu Dasar Ruang Serbaguna 27 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In