• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Senin, Mei 18, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Kultur

Bincang Buku: Singer on the Sand

by Agustinus Hari
19 Agustus 2020
in Kultur, Sastra
0
Bincang Buku: Singer on the Sand
107
SHARES
375
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh : Solaiman Bakir

Sudah ada beberapa buku berbahasa Indonesia yang terbit, isinya membahas tentang atau berkaitan dengan Kepulauan Sangihè, Talaud dan Sitaro. Selain buku-buku berbahasa Indonesia, ada juga buku berbahasa asing yang menulis tentang Sangihè.

Sepanjang pengetahuan penulis, selain artikel ilmiah yang dimuat dalam jurnal-jurnal internasional atau jurnal-jurnal berbahasa asing, koran berbahasa Belanda dan juga laporan-laporan dari pemerintah Hindia Belanda, atau kemudian catatan-catatan perjalanan dari pelaut-pelaut eropa dan asia yang pernah melabuhkan kapalnya di kepulauan ini, satu-satunya tulisan berbahasa asing dalam bentuk buku yang membahas tentang kebudayaan dan cara hidup masyarakat Kepulauan Sangihè adalah Singer on the Sand. Sesuai dengan judulnya, buku ini ditulis dalam bahasa Inggris.

Secara ringkas, dengan memakai cara bertutur orang ke tiga, buku ini mengungkapkan tentang bagaimana proses perubahan kebudayaan yang terjadi dan dialami oleh penduduk di Kepulauan Sangihè. Diceritakan hampir semua unsur kebudayaan mengalami perubahan, namun yang paling menonjol adalah perubahan pada unsur budaya kepercayaan atau Religi.

Pada bagian awal buku dikisahkan tentang kedatangan misionaris dari Eropa dengan menggunakan perahu kecil tiba di Kepulauan Sangihè, serta bagaimana tingkah laku Satoo, yang adalah tokoh utama, sekaligus mewakili tingkah laku pada umumnya penduduk setempat menyambut kedatangan orang asing yang berbeda dengan mereka dalam hal perawakannya, tinggi badan, warna kulitnya dan warna rambutnya. Tentu, bagi pembaca yang lahir di Sangihè atau mengenal dekat kebiasaan-kebiasaan di Sangihè, akan membayangkan adegan pada saat Satoo melihat dan menyaksikan kedatangan orang asing (baca: Bule), hampir mirip dengan membayangkan bagaimana tingkah laku saudara-saudara kita di kampung ketika pertama kali melihat Bule, penulis yakin bagi pembaca yang pertama kali membaca buku ini akan terkekeh-kekeh dibuatnya.

Bagian tengah dari buku ini, lebih banyak berkisah tentang bagaimana perjumpaan antara kuasa kegelapan yaitu kekuatan magis, kepercayaan penduduk akan dewa-dewa, roh-roh, serta amulet-amulet dengan kuasa Injil yang diberitakan oleh sang misionaris dan keluarganya. Namun sebelum perjumpaan dua kuasa ini tercipta, benih-benih konflik yang dikemudian hari meluap, sebenarnya sudah ditunjukkan oleh sikap pemimpin kelompok atau kepala desanya, yang mana enggan memberikan sepetak tanah di desa itu untuk dijadikan tempat tinggal bagi keluarga misionaris. Di benak Meradin, sang kepala desa, orang asing yang baru datang ini adalah pembawa malapetaka, sebab kepala desa ini percaya pada dewa-dewa atau roh-roh yang mendiami gunung api yang terletak di seberang pulau tepat di depan desanya, bahwa ada hubungan antara kedatangan misionaris Eropa dengan meningkatnya aktivitas di dalam gunung api itu yang ditandai dengan semakin seringnya gunung api meluapkan percikan-percikan kecil api dari dalam gunung ke langit seperti memancarkan cahaya indah di malam hari. Pendapat kepala desa mendapat dukungan dari seorang lelaki bernama Tama, yang tidak lain adalah sang dukun dan tukang sihir.

Seiring waktu, cara hidup kekristenan telah menawan hati beberapa orang penduduk di tempat itu, dan tiap hari makin banyak orang yang datang di rumah misionaris yang letaknya terpaksa harus berada sedikit ke luar dari batas kampung. Batas antara darat dan laut, di tepi pantai. Melihat perubahan-perubahan masyarakat yang terjadi di desanya, Meradin dan Tama khawatir kalau-kalau kebiasaan atau adat lama mereka, seperti pesta makan, minum-minuman Saguer(terj. Penulis), serta tari-tarian sebagai bentuk pemujaan kepada dewa-dewa dan roh-roh akan lenyap perlahan-lahan. Maka, mereka berdua sepakat untuk melenyapkan pengaruh kekristenan di kampungnya, dengan cara mendatangkan ajaran tandingan, yaitu agama Islam yang pengaruhnya besar di seberang selatan pulau Sangihè.

Seiring waktu berjalan, proses peng-Islam-an pun dilakukan oleh guru Mula dan guru-guru Islam lainnya yang diambil dari negeri Selatan dengan menggunakan perahu kecil milik kepala desa. Banyak konflik yang terjadi di bagian tengah buku ini. Selebihnya dapat dibaca sendiri dengan kaca mata akulturasi budaya.

Bagian akhir dari buku ini adalah pelukisan sebuah peristiwa bencana alam maha dahsyat yang menghantam desa itu. Mula-mula adalah letusan gunung api, lalu kemudian diikuti dengan gelombang pasang air laut yang tinggi sekali (Tsunami, terj. Penuilis). Seluruh desa porak poranda dibuatnya, kecuali rumah sang misionaris. Sebagian penduduk meninggal karena bencana ini. Hanya keluarga misionaris dan penduduk yang memilih berlindung di rumah sang misionaris yang selamat. Juga penduduk yang bersamaan dengan kejadian itu telah berhasil meloloskan diri ke arah bukit yang agak lebih tinggi dari ketinggian gelomban pasang itu sendiri.

Dari ulasan di atas, sangat jelas bahwa Singer on the Sand adalah karya tulis yang terinspirasi dari semangat penginjilan pada abad 19 dan jelang abad 20.

Tentu, bagi pembaca yang mengenal baik kebudayaan Sangihè, sangat wajar kalau kemudian akan mengajukan beberapa argumen-argumen atau komentar-komentar di sana-sini pada beberapa bagian di dalam buku itu.

Dalam pandangan penulis, Norma Youngberg, sang penulis Singer on the Sand, kemungkinan besar menulis buku ini berdasarkan informasi ke dua yang ia peroleh dan kumpulkan, mungkin saja dari laporan-laporan pemerintah Hindia Belanda tentang bencana yang dimaksud atau catatan-catatan dan juga penuturan misionaris yang saat itu sedang bertugas di Kepulauan Sangihè. Pandangan ini didasarkan pada beberapa alasan sebagai berikut:

Pertama, jika membandingkan dengan cerita dari Zendeling P. Kelling, yang adalah saksi dari bencana Tsunami yang pernah terjadi di pulau Tagulandang pada tahun 1870, yang juga sekaligus adalah anak dari Zendeling F. Kelling sebagaimana ditulis oleh Zendeling Brilman, bahwa kejadian Tsunami yang menimpa pulau Tagulandang memang benar-benar terjadi tetapi dengan cerita yang agak berbeda dari versi Youngberg. Hal ini dapat dilihat dalam buku Onze Zendingsvelden de Zending op de Sangi en Talaud Eilanden, hal 118-119.

Ke dua, di kepulauan Sangihè-Besar tidak akan pernah dijumpai adanya gunung api yang jauhnya hanya diukur dengan penglihatan menyerupai titik sejauh perahu berlayar. Hanya di sebelah selatan pulau Sangihè-Besar, terletak gunung api, itupun di bawah laut yang tak bisa di lihat kecuali air laut dalam keadaan surut. Bagian yang timbul pun kira-kira hanya satu atau dua meter di atas permukaan air laut. Sementara itu gunung Karangetang yang berada di pulau Siau, sebelah Selatan dari pulau Sangihè-Besar akan terlihat dari puncak gunung Sangihè jika cuaca sedang cerah. Dan kalau ada perahu kecil yang berlayar ke arah gunung itu, tidak akan dilihat menyerupai titik di kejauhan, malahan menghilang di kejauhan dan pendaratannya di gunung itu pun tak dapat disaksikan dengan mata telanjang. Sangat berbeda dengan apa yang dilukiskan oleh Youngberg.

Ke tiga, soal pakaian yang digunakan oleh penduduk setempat. Dalam Singer on the Sand, penduduk setempat, khususnya kaum lelaki disebutkan menggunakan cawat (Loincloth), yang mana hal penggunaan cawat lebih familiar dan banyak ditemukan pada penduduk suku-suku di pedalaman Kalimantan. Di Sangihè pada waktu itu, sesuai dengan foto-foto zaman dahulu dan masih sesuai dengan keterangan dari D. Brilman, penduduknya menggunakan Laku Baļi yang terbuat dari kain Koffo, sejenis kain yang terbuat dari anyaman serat batang pisang.

Ke empat, meski pemilihan nama toko adalah kebebasan seorang penulis/pengarang, namun nama-nama tokoh lokal (penduduk setempat) yang ada dalam cerita ini, seperti Satoo, Meradin, Tama, Gola sama sekali bukanlah nama-nama lokal yang lazimnya ada di Sangihè di waktu itu. Sepengetahuan penulis, nama-nama lokal yang sempat dicatat oleh sejarah adalah deretan nama-nama sebagai berikut: Melintangnusa, Melikunusa, Ansiga, Tangkuliwutang, Makaampo, Timbangsehiwu, Somposehiwu, Bulaeng, Batahi, Posumah, dan seterusnya. Setidak-tidaknya pemberian nama di Sangihè waktu itu memiliki arti tertentu dalam alam pikiran masyarakat Sangihè. Pertanyaanya kemudian, mengapa Youngberg tidak menggunakan nama-nama lokal seperti yang sudah disebutkan tadi, sehingga pelukisan atau kesan tentang kelokalannya menjadi lebih kuat?

Ke lima, jika melihat tahun terbit buku ini pertama kalinya, yaitu pada tahun 1964 dan mengaitkan dengan peristiwa 100 tahun lalu sebagaimana sub judul buku itu, the true story of an occurrence on the island of Great Sangir north of the Celebes more than a hundred years ago, maka kemungkinan besar peristiwa ini cocok dengan peristiwa letusan gunung api dan kemudian disusul Tsunami yang menghantam desa Tagulandang di tahun 1870. Selain kecocokan tahun, letak geografis antara pulau Tagulandang dan Gunung Ruang juga sangat dekat, dan jaraknya masih bisa digambarkan dengan perahu yang akan menyerupai titik sejauh perahu itu berlayar dan masih bisa disaksikan dengan mata telanjang apabila perahu itu tiba di tepi pantai gunung ruang.

Kecocokan akan kisah yang ada dalam Singer on the Sand dan kisah yang terjadi di Tagulandang pada tahun 1870, tentu hanya pembaca yang dapat mengambil simpulannya sendiri.

Mungkin perlu ditambahkan soal latar belakang penulisnya. Norma Youngberg lahir di Iowa, salah satu negara bagian di Amerika Serikat, dengan nama lahir Norma Rhoads. Ia besar dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang terdidik. Orang tuanya adalah guru, misionaris dan penulis. Pada tahun 1916 ia menikah dengan Gustavus B. Youngberg, seorang penginjil protestan. Dan pada tahun 1919 mereka beserta anak-anaknya bertugas di Malaya. Setelah itu, berpindah-pindah di beberapa tempat antara lain, di Singapura, daerah Kalimantan Utara (Sandakan, terj. Penulis), Sarawak dan Indonesia. Tidak disebutkan suaminya pernah bertugas di Kepulauan Sangihè, Talaud atau di Siau, Tagulandang dan Biaro. Kemudian pada tahun 1940, keluarga ini kembali ke Amerika Serikat.

Tentu, masih banyak lagi hal-hal yang bisa dan perlu didiskusikan dari buku ini. Namun demikian, menurut penulis, terlepas dari semua yang telah dibicarakan di atas, Singer on the Sand adalah sumbangsih yang tidak kecil nilainya dalam merekam jejak kebudayaan dan sebab-sebab perubahan kebudayaan yang terjadi di tanah Sangihè, utamanya dalam unsur budaya kepercayaan atau Religi.

Tahuna, 17 Agustus 2020.

Penulis, Magister Arsitektur dalam bidang Perancangan Arsitektur lepasan Institut Teknologi Bandung 2016. Dalam kesehariannya menjalankan praktek arsitektur. Menulis dan melukis adalah kegiatan yang dilakukan ketika senggang dari kerja profesi. Selain itu, menaruh minat juga pada dunia sastra yang mana, sedikit atau banyak telah mempengaruhi proses kreatif di bidang arsitektur. Tamat dari jenjang pendidikan Sarjana Arsitektur di Universitas Sam Ratulangi pada tahun 2012.

Barta1.Com
Tags: Singer on the Sandsolaiman bakir
ADVERTISEMENT
Agustinus Hari

Agustinus Hari

Pemimpin Redaksi di Barta1.com

Next Post
Pemain Sulut United Main Tarkam, Ridho: Jika Benar Ada Sanksi

Drawing Liga 2: Sulut United di Grup Neraka, Ridho: Baku Abis Jo

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Apple Rilis MacBook Neo, Laptop ‘Perusak Harga’ yang Lebih Murah dari iPhone 18 Mei 2026
  • Menakar Amunisi ‘Fashion-Tech’ Terbaru Xiaomi yang Siap Mengguncang Akhir Mei 18 Mei 2026
  • Pemkot Resmi Buka Pendaftaran Calon Direksi Perumda Pasar dan Bangun Bitung 18 Mei 2026
  • 24 Dosen Polimdo Ikuti Sertifikasi Asesor TKK, Siap Tingkatkan SDM Konstruksi Sulut 18 Mei 2026
  • Dana Revitalisasi Sekolah Terkendala Pajak, Komisi IV DPRD Sulut Soroti Pengawasan Dinas Pendidikan 18 Mei 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In