Dunia kesusastraan tanah air berduka. Telah meninggal dunia penyair, kritikus Sastra terkemuka Indonesia, Sapardi Djoko Damono sesudah menjalani perawatan di rumah sakit bilangan Bumi Serpong Damai (BSD) Jakarta, Minggu (19/7/2020) pagi tadi.
Ia banyak dikenal melalui karyanya yang membuming luas melalui antologi puisi Hujan Bulan Juni yang pertama kali dipublikasikannya pada tahun 1980-an dan diterbitkan kembali 102 puisi yang ditulis dalam kurun tahun 1964 hingga 1994 oleh penerbit Grasindo 1994.
Tulisan-tulisannya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk Hujan Bulan Juni yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris, Jepang, Arab, dan Mandarin. Sajaknya juga sangat diminati kawula muda, hal demikian terungkap jelas banyak yang mencomot digunakan dalam sablon baju seperti “yang fana adalah waktu, kita abadi”.
Bagi saya sendiri keindahan dalam sajak-sajak Sapardi Djoko Damono (SDD) adalah konfigurasi bahasa yang ia ciptakan begitu sederhana dan memberi ruang tersendiri bagi pembaca.
Penyair dan cerpenis nasional Isbedy Stiawan ZS mengatakan, “kesederhanaan itu, juga seperti dalam puisi-puisinya. Tetapi tersimpan makna yang amat dalam,” kata Isbedy ketika mengungkap kesederhanaan sosok Sapardi Djoko Damono, dikutip dari Republika.co.id. Meski demikian bagi Sapardi sendiri, membaca sajak adalah menghayati bukan memahami.
Berikut beberapa petikkan sajak menyentuh karya Sapardi Djoko Damono:
Dalam Doaku
Akun mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai
Mendoakan
Keselamatanmu……..(1989: Hujan Bulan Juni)
Aku Ingin
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
Yang Fana adalah Waktu
Yang fana adalah waktu. Kita abadi.
Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
sampai pada suatu hari nanti
kita lupa untuk apa.
“tapi, yang fana adalah waktu bukan?”
Tanyamu. Kita abadi.
Hujan Bulan Juni
Tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya kepada pohon berbunga
Itu
Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya yang ragu-ragu di jalan
Itu
Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono, lahir di Solo Jawa tengah 20 Maret 1940. Pendidikan terakhir Doktor Sastra Universitas Indonesia. Sejumlah penghargaan diberikan kepadanya antara lain, Hadiah Seni dari Pemerintah Indonesia (1990), Anugerah Puisi Putra dari Malaysia (1984), SEA-Write Award dari Thailand (1986), Kalyana Kretya Menristek (1995), Life-time achievement award Indonesia Institute tahu 2003 dan Akademi Jakarta tahun 2012.
Meski menulis begitu banyak sajak-sajak yang menarik dan diminati banyak orang, Sapardi mengangaku bahwa sajak yang paling bagus menurutnya belum pernah ditulisnya. “nggak, sajak saya yang paling bagus ya belum saya tulis. Artinya, saya akan terus menulis. Kalau sudah enggak kuat, yah sudah…..” ungkapnya lewat Koran TEMPO edisi 11 Februari 2017 silam.
Selamat jalan Sapardi Djoko Damono…
Penulis : Rendy Saselah


Discussion about this post