Kira-kira 8 jam sebelum waktu menunjukan Hari Perayaan Paskah tiba, asap hitam tebal membumbung di utara kota. Lapas Klas IIA Manado telah dibakar para Napi.
Harusnya itu waktu cukup sunyi untuk kawasan Tuminting yang berada di tepi Kota Manado. Apalagi di saat ketika semua warga menahan diri untuk keluar rumah, sebagai langkah memutuskan mata rantai penyebaran coronavirus.
Namun sore pukul 16.30 Wita itu, keheningan mendadak pecah. Padahal telah berlangsung lebih dari sebulan, lazim keramaian dan kesibukan warga bersejenak henti. Tapi kali ini, di waktu yang tak tersangka, riuh suara sirine mobil pemadam kebakaran dan mobil patrol polisi meraung-raung. Dan raungan kendaraan lain memekak diselingi sura orang-orang berteriak. Lapas Klas IIA Manado mencekam.
Saya sedang mencangkul kebun kecil yang ditanami umbi-umbian di belakang rumah, yang menjadi Sekretariat Kantor Barta1.com ketika riuh itu mulai. Jaraknya kurang lebih 900 meter dari Lapas Manado. Menyadari kejadian serius sedang berlangsung, saya bergegas turun dan langsung menyalakan laptop, membuka jaringan informasi redaksi Barta1.com. Ternyata, Albert P. Nalang, Meikel Pontolondo, dua wartawan Barta1.com itu telah berada lebih awal di tempat kejadian dan mulai melaporkan perkembangan demi perkembangan. Sesaat kemudian, pemimpin redaksi Agust Hari, juga ikut nimbrung ke lokasi.
Awalnya warga menyangka, peristiwa itu hanya sekadar accident biasa di dalam Lapas. Menit demi menit situasi ternyata kian mencekam. Pada pukul 17.30 Wita laporan Maikel Pontolondo, warga telah membludak di seputaran area Lapas. Social distancing seakan terabai begitu saja. Polisi pun membubarkan kerumunan massa.
Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manado menerjunkan ratusan personil pasukan untuk mengamankan kerusuhan. Kekuatan penuh tersebut kini tengah bersiap di depan Lapas. Kapolresta Manado AKBP Benny Bawensel mencoba masuk untuk melakukan negosiasi dengan para Napi. Sesaat Napi menjadi tenang.
Tak berapa lama kembali terjadi rusuh. Polisi pun memilih untuk menyerbu ke dalam Lapas. Para Napi yang berada di dalam Lapas kembali membakar bagian dari Lapas setelah sebelumnya sempat terjadi kebakaran besar. Bunyi tembakan terdengar dari dalam Lapas, aliran listrik ke dalam Lapas ikut dipadamkan sehingga situasi di sekitar Lapas gelap.
Kira-kira pukul 19.00, Albert P. Nalang berhasil masuk ke dalam Lapas, dan melaporkan kisruh yang terjadi lewat jaringan informasi Barta1.com. Foto-foto kejadian mulai dikirimnya. Nampak pemandangan betapa rusuh kejadian itu, kendati beberapa saat kemudian, ia diseret keluar oleh petugas.
Kantor Barta1.com sesungguhnya sedang tutup mengikuti protap Covid-19 di Manado, maka rapat redaksi mendadak pun berlangsung secara online, sebagaimana kelaziman jelang sebulan yang dilakukan lakukan redaksi.
Dan redaksi memutuskan menggali akar kejadian. Ady Putong yang ditunjuk meredakturi laporan peristiwa ini mulai menurunkan hasil liputan di laman Barta1. Laporan pertama menyebutkan: Hingga pukul 20.30 Wita, Sabtu (11/04/2020) malam, kerusuhan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Manado, Sumompo-Tuminting, masih belum teredam sepenuhnya. Kendati sejak sore hingga malam sebanyak 1 peleton aparat kepolisian sudah diterjunkan ke lokasi.
Dari pantauan di lapangan, sisi dalam Lapas Manado kian mencekam. Bunyi tembakan aparat berbalasan dengan teriakan-teriakan penghuni Lapas yang menolak untuk menyerah. Tapi upaya mengamankan situasi tetap dilakukan.
Beberapa bagian gedung hangus terbakar. Api telah melalap Lapas Manado sejak sore dan bertambah parah saat Napi meledakkan tabung gas. Di jalan-jalan utama Manado Utara masih terdengar sirene aparat serta pemadam kebakaran meraung-raung dan melaju cepat.
Kepala Lapas Kelas IIA Manado Sulistyo Ariwibowo masih tutup mulut saat ditanyai apa pemicu sehingga ratusan warga binaan nekad melakukan aksi berbuntut chaos. Begitu pun sejumlah pejabat kepolisian yang terlihat tegang, belum menjawab jelas pertanyaan wartawan.
“Kami belum tahu pasti penyebabnya, saat ini aparat sudah di sini untuk mengamankan lokasi dan dikirim dari berbagai satuan Polda dan Polres hingga Brimob,” kata Kapolresta Manado Kombes Pol Benny Bawensel didampingi Wakapolresta AKBP Faisol Wahyudi.
Sejumlah informasi sebenarnya sudah beredar duluan di lapangan. Salah satu sumber kuat menyatakan, aksi warga binaan adalah bentuk protes yang dilakukan Napi Blok Narkoba karena ada pembatasan kunjungan terhadap mereka. Kabarnya pembatasan itu merupakan kebijakan dari pengelola Lapas karena indikasi telah ada jalur narkoba yang masuk ke Lapas tersebut.
Faktor lain jadi pemicu adalah proses asimilasi yang membebaskan warga binaan karena Covid-19 sebanyak 113 orang. Yang tidak bebas diinformasikan kecewa sehingga mulai melempar batu ke petugas jaga. Juga ditengarai para napi berontak karena masalah jatah makanan.
Indikasi-indikasi tersebut faktanya masih akan diselidiki polisi. Kabid Humas Polda Sulut Kombes Pol Jules Abast mengatakan saat diwawancarai terakhir, sebisa mungkin pihak kepolisian dan pengelola Lapas melacak apa alasan yang memotivasi ratusan warga binaan melakukan aksi nekad. Apakah spontan atau ada dalang pemicu, itu juga akan diselidiki.
“Saat ini situasi sudah kondusif,” kata Jules. “Kami telah menguasai Lapas dan tengah dihitung berapa banyak warga binaan di dalam pasca-perisitiwa ini,” tambah dia. Soal korban yang jatuh baik dari warga binaan maupun aparat, sejauh ini Jules menginformasikan telah dievakuasi guna mendapatkan penanganan medis. “Dalam situasi begini korban memang tak terelakkan, tapi kondisinya masih cukup baik dan sudah dibawa berobat,” tambah dia.
Dua jam kemudian laporan kedua, Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulut memberikan pernyataan yang menyebutkan: Peristiwa kerusuhan yang terjadi di Lapas Klas IIA Manado ternyata dipicu ketakutan ratusan napi binaan akan virus Corona (Covid-19) yang tertular ke mereka.
“Iya bahwa pada pukul 16.30 WITA terjadi kerusuhan di Lapas Manado. Para Napi kuatir dengan virus Corona (Covid-19). Apalagi kemarin kami telah melepas 115 Napi untuk asimilasi yang di rumahkan,” ujar Kakanwil Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulut, Lumaksono pada wartawan di Lapas Klas IIA Manado.
Ia menyebutkan setelah ratusan Napi dilepas, sekarang di Lapas Manado ada 435 Napi. “Mereka sebagian takut COVID-19 ini sehingga minta dibebaskan. Namun keinginan para Napi tidak bisa dikabulkan karena tidak sesuai ketentuan yang ada. Ketentuan kami yang diasimilasi hanya Napi yang betul-betul Napi Pidana Umum saja. Sementara mereka yang meminta bebas adalah mayoritas Napi narkoba,” katanya.
Nah, pada pukul 05.30 WITA terjadi negosiasi dengan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkunham Sulut beserta jajarannya dengan para Napi. “Negosiasi ini untuk mendengar apa kehendak dan kemauan mereka. Namun negosiasi tidak tercapai sehingga pukul 19.00 WITA diambil tindakan tegas. Namun akhirnya pukul 19.30 WITA, situasi bisa dikendalikan,” paparnya.
Saat ini kerugian dan kerusakan sedang diinventarisir. “Lalu ada blok yang dirusak, maka ada sekitar 100 Napi akan dipindahkan ke tempat lain yang ada di Sulut. Kami juga mendata korban yang luka. Dan sejauh ini tidak ada Napi yang lari,” pungkas Lumaksono.
Laporan ke tiga: Kepolisian Daerah (Polda) Sulawesi Utara berhasil mengamankan 20 orang warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Klas IIA Manado saat terjadi kerusuhan. “Para provokator itu dalam pemeriksaan secara intensif oleh polisi,” ujar Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Jules Abbas di Manado, Minggu (12/4/2020).
Ia mengatakan saat ini situasi di Lapas Klas IIA Manado sudah dalam keadaan kondusif. Setelah negosiasi yang dilakukan baik oleh petugas Lapas maupun pihak kepolisian tidak berhasil. “Maka pada pukul 18.30 WITA dilakukan tindakan tegas terukur oleh personil gabungan. Dan berkat kesigapan personil gabungan sehingga sekitar pukul 19.30 WITA situasi di Lapas Manado dapat dikuasai dan telah kondusif,” katanya.
Sedangkan warga binaan yang diduga sebagai provokator dan terlibat langsung pada kerusuhan tersebut sedang menjalani pemeriksaan. “Ada kurang lebih sekitar 20-an warga binaan yang dilakukan pemeriksaan setelah situasi Lapas Manado telah kondusif dan dapat dikuasai kembali oleh kepolisian dan petugas Lapas serta rekan-rekan TNI,” ujar Jullest.
Dia menambahkan sejauh ini para pelaku dari warga binaan Lapas Manado sebagian ada yang dititipkan ke Lapas-Lapas yang ada di seputaran Sulut. “Terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penanganan kerusuhan yakni personil kepolisian dari Polda, Polres, Polsek, dan Brimob. Ada juga rekan-rekan TNI, Dinas Pemadam Kebakaran, dan unsur medis,” ujarnya.
Sebelumnya, kondisi mencekam terjadi di Lapas Manado. Para napi ketakutan dengan penyebaran virus Corona (Covid-19 sehingga meminta mereka diasimilisasi. “Iya para Napi kuatir dengan virus Corona.
Menanggapi kepanikan, dr Haz Algebra, mengungkap kalau anda tidak panik maka anda psikopat. Dokter yang juga seniman- budayawan ini belum lama menuliskan sebuah perspektif (evolusioner) tentang bagaimana “cemas bisa meningkatkan peluang sintas” individual dalam masa-masa pandemi. Tulisan itu boleh dikata bergesekan dengan narasi para fisikian, psikiater, hingga influenser yang pada dasarnya sedang mengamplifikasi retorika negara: “Jangan Panik!”
“Kalau Anda ketik kata kunci “anxiety” bersama “covid-19” atau “coronavirus” di Google, rerata artikel yang keluar adalah tentang bagaimana “mengalahkan kecemasan” dalam masa-masa pandemi, bukan “memanfaatkan kecemasan,” ungkapnya.
Saya bersepakat sejauh “kepanikan” (dalam arti tindakan “irasional”) hanya berada pada skala individual, tapi bukan pada negara.
Negara adalah institusi nir-emosi, dan harus senantiasa rasional. Negara sengaja dibentuk untuk memunculkan jalan rasional di atas irasionalitas individu. “Jangan panik!” — ingatkan itu kepada Negara, bukan ke Individu.
Editor : Iverdixon Tinungki

Discussion about this post