Manado, Barta1.com – Nonton bareng (nobar), diskusi, hingga mimbar bebas menjadi rangkaian kegiatan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda bertema “Refleksi Gerakan Pemuda Sulut”. Kegiatan tersebut berlangsung di Pantai Karangria, Tuminting, Kota Manado, Rabu (28/10/2026).
Sasa Betina Issue, saat diwawancarai, menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan membangun silaturahmi sekaligus memperkuat solidaritas antarkelompok pemuda di Sulawesi Utara (Sulut).
“Kegiatan ini tujuannya pastinya untuk membangun silaturahmi antar teman-teman Cipayung dan kolektif di Sulut,” ungkap Sasa, yang juga menjadi salah satu pengisi acara dalam peringatan Sumpah Pemuda di Kota Manado.
Melalui kegiatan tersebut, ia berharap para pemuda dapat memperluas jaringan dan relasi, baik antarkelompok Cipayung maupun dengan organisasi lainnya. Lebih dari itu, ia mendorong agar gerakan pemuda semakin masif dan memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap berbagai persoalan lokal.
“Teman-teman lebih masif lagi dalam gerakan, serta lebih peduli terhadap isu lokal,” ujarnya.
Sasa menambahkan, kegiatan ini diharapkan tidak berhenti pada pertemuan semata. Menurutnya, perlu ada tindak lanjut melalui diskusi rutin antarkelompok Cipayung maupun aksi langsung di tengah masyarakat dalam bentuk advokasi terhadap berbagai persoalan lokal.
“Selain itu, mungkin nanti kami akan membuat tindak lanjutnya, entah gerakan diskusi setiap Cipayung ataupun turun di basis massa dalam bentuk advokasi di setiap isu lokal yang ada,” jelasnya.
Terkait pelaksanaan mimbar bebas, Sasa mengatakan bahwa agenda tersebut menjadi ruang bagi para pemuda untuk mengekspresikan talenta sekaligus menyuarakan keresahan mereka. Berbagai bentuk ekspresi ditampilkan, mulai dari pembacaan puisi, bernyanyi, monolog, hingga teatrikal.
Sementara itu, melalui agenda nonton bareng dan diskusi, panitia mengangkat film Gie sebagai bahan refleksi mengenai gerakan pemuda.
“Kami mengangkat film Gie karena melihat pemuda yang masif dalam gerakan pada zaman Orde Lama hingga Orde Baru. Itu menjadi pemantik bagi teman-teman pemuda, khususnya juga bagi yang suka dalam dunia pendakian,” ucapnya.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan ruang alternatif bagi pemuda untuk tetap menyampaikan kritik, termasuk bagi mereka yang tidak dapat turun langsung dalam aksi demonstrasi. Menurutnya, kritik terhadap kebijakan yang tidak berkeadilan bagi masyarakat dapat disampaikan melalui tulisan maupun bentuk ekspresi lainnya.
“Sedianya kegiatan ini bisa memperkokoh solidaritas teman-teman. Jika, misalnya, ada ketidakadilan di basis-basis advokasi teman-teman, bisa turun sama-sama dan ikut bersolidaritas,” tambahnya.
Dalam momentum Sumpah Pemuda, Sasa turut mengajak generasi muda untuk terus menjaga semangat perjuangan. Ia menyoroti kecenderungan sebagian pemuda yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan gawai dan media sosial masing-masing.
Untuk itu, ia mengajak para pemuda agar tidak hanya aktif di ruang digital, tetapi juga terlibat langsung dalam diskusi dan gerakan sosial yang membahas persoalan masyarakat.
“Untuk itu, kami mau mengajak pemuda-pemudi untuk lebih peduli dan kritis dengan ikut bergabung dalam setiap diskusi tatap muka, bukan hanya sekadar visual, tetapi ikut peduli. Tentunya, jika teman-teman ingin mengutarakan sesuatu, bisa langsung ke kami,” tuturnya.
Peringatan Hari Sumpah Pemuda tersebut turut melibatkan sejumlah organisasi dan komunitas, di antaranya Aliansi Tolak Reklamasi, LBH Manado, WALHI, PMII Metro, KOPRI Metro, Gusdurian Manado, IMM, BPK Oi Manado, Aliansi Perempuan Indonesia, Betina Issue, Kohati, HMI Cabang Manado, Korps IMMAWATI Sulut, Badan Tadzkir Unsrat, GMKI Komisariat Solafide, serta GMKI Cabang Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post