Manado, Barta1.com – Kegiatan Pengabdian Mahasiswa Berdampak Politeknik Negeri Manado (Polimdo) kembali dilaksanakan. Kali ini, kegiatan tersebut berlangsung di lingkungan Kampus Polimdo, Jumat (4/9/2026).

Pengabdian tersebut mengangkat tema “Pengembangan Model Infrastruktur Budidaya Ikan Nila Warna Berbasis Kolam Terpal Moduler yang Efisien, Ekonomis, dan Ramah Lingkungan untuk Mendukung Ketahanan Pangan Berkelanjutan.”
Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim AQUAFORGE (Engineering Sustainable Aquaculture) yang terdiri dari mahasiswa Polimdo. Tim menerapkan model infrastruktur budidaya ikan nila warna berbasis kolam terpal modular yang dirancang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya mahasiswa dalam menerapkan teknologi tepat guna yang dapat mendukung ketahanan pangan berkelanjutan,” ungkap John’s R.F. Runtunuwu, didampingi rekan-rekannya, yakni Yehezkiel Tumimbang Seanidji Sumantri, Prisilia Anjeli Pongayouw, Julivie Nadya Gogani, Jermias Caraen, Eunike Rosalin Emanuel Kajuwatu, Rafael Junior Assa, Kezia Jasmine Bonenehu, Gerry Vincensius Manein, dan Priskila E. Liunsanda.
Tim AQUAFORGE mendapatkan bimbingan langsung dari Wakil Direktur Bidang Kemahasiswaan Polimdo, Ir. Rudolf G. Mait, S.T., M.T. Tim yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Polimdo tersebut terlibat dalam berbagai tahapan kegiatan, mulai dari perancangan, penerapan, dokumentasi, hingga pendampingan.
Menurut tim, kegiatan ini dilatarbelakangi kebutuhan akan teknologi budidaya perikanan yang efisien dalam penggunaan lahan, ekonomis, serta mudah diterapkan.
“Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan akan teknologi budidaya perikanan yang efisien dalam penggunaan lahan, ekonomis, serta mudah diterapkan,” ujarnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah penggunaan sistem kolam konvensional dengan kondisi air yang cenderung stagnan. Kondisi tersebut dapat menjadi tantangan dalam menjaga kualitas air sekaligus memenuhi kebutuhan oksigen bagi ikan selama proses budidaya.
Sebagai solusi, Tim AQUAFORGE menerapkan kolam terpal modular yang dilengkapi dengan sistem sirkulasi air berputar (rotary water circulation).
“Teknologi ini dirancang agar air di dalam kolam terus bergerak melalui jaringan perpipaan, sehingga membantu menjaga sirkulasi dan distribusi oksigen di dalam kolam,” tutur John’s.
Dalam penerapannya, terlihat sejumlah unit kolam terpal modular yang telah terpasang dan saling terhubung menggunakan jaringan pipa PVC. Aliran air yang keluar melalui sistem perpipaan kemudian dialirkan kembali ke kolam sehingga menciptakan pergerakan air secara berkelanjutan.
“Aliran air yang keluar dari sistem perpipaan kemudian masuk kembali ke kolam sehingga menciptakan pergerakan air secara berkelanjutan,” ucapnya.
Kolam tersebut dirancang menggunakan rangka yang kokoh dan dapat diterapkan secara modular. Berdasarkan rancangan teknologi dalam proposal, setiap unit kolam memiliki kapasitas sekitar 3.000 liter dan dirancang agar mudah dibongkar-pasang, hemat lahan, ekonomis, serta dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi sekaligus budidaya.
“Program ini tidak hanya diarahkan pada penerapan teknologi, tetapi juga pada upaya mendukung ketahanan pangan dan pengembangan potensi ekonomi melalui budidaya ikan nila warna,” tambahnya.
Dalam proposalnya, kegiatan AQUAFORGE diarahkan untuk meningkatkan keterampilan budidaya, kapasitas manajemen usaha, produktivitas, serta pendapatan mitra. Model kolam yang dikembangkan juga diharapkan dapat menjadi contoh teknologi tepat guna yang dapat diterapkan dan dikembangkan lebih lanjut.
“Penggunaan sistem sirkulasi air juga menjadi bagian dari konsep ramah lingkungan karena dirancang untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air,” katanya.
Selain itu, air sisa dari kegiatan budidaya direncanakan dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik cair bagi tanaman di sekitar area penerapan.
Tim AQUAFORGE berharap inovasi kolam terpal modular dengan sistem sirkulasi air tersebut dapat menjadi teknologi budidaya yang efisien, ekonomis, dan ramah lingkungan, sekaligus memberikan manfaat nyata bagi ketahanan pangan serta pengembangan ekonomi.
“Program ini mendukung SDG 2 melalui ketahanan pangan, SDG 8 melalui peluang ekonomi dan peningkatan keterampilan, SDG 9 melalui inovasi teknologi dan infrastruktur, SDG 12 melalui penggunaan sumber daya yang lebih bertanggung jawab, serta SDG 17 melalui kolaborasi antara mahasiswa, perguruan tinggi, pembimbing, dan mitra,” sahutnya.
Ke depan, Tim AQUAFORGE berharap inovasi tersebut dapat terus dikembangkan dan direplikasi di berbagai tempat sebagai salah satu bentuk kontribusi mahasiswa Polimdo dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post