Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo), melalui Jurusan Teknik Elektro, kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap pengembangan potensi masyarakat, khususnya dalam mendukung pengelolaan desa wisata.

Kepedulian tersebut diwujudkan melalui penyerahan wahana perahu sepeda air yang dilengkapi motor penggerak kepada Desa Budo, Kabupaten Minahasa Utara. Desa Budo sendiri merupakan salah satu desa binaan Polimdo yang memiliki potensi wisata hutan mangrove.
Ketua Jurusan Teknik Elektro Polimdo, Marson Budiman, SST., MT., mengatakan wahana sepeda air tersebut merupakan bagian dari program Bina Desa yang dilakukan Jurusan Teknik Elektro melalui penelitian mahasiswa dan dosen.

“Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Manado melakukan Bina Desa melalui penelitian mahasiswa dan dosen, dengan membuat perahu sepeda air,” ungkap Marson kepada Barta1.com, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (23/09/2026).
Menurut Marson, selama ini Desa Budo lebih mengandalkan keindahan hutan mangrove dan panorama matahari terbenam (sunset) sebagai daya tarik wisata. Sementara itu, sambil menunggu waktu menikmati sunset, para pengunjung biasanya menghabiskan waktu dengan menikmati kuliner yang tersedia.

Namun, kata dia, sejumlah pengunjung juga menginginkan adanya wahana wisata yang berbeda. Kondisi tersebut kemudian mendorong Jurusan Teknik Elektro untuk menghadirkan inovasi baru melalui penelitian yang menjadi bagian dari program Bina Desa.
“Desa Budo itu hanya mengandalkan indahnya hutan mangrove dan sunset. Untuk menunggu sunset, mereka menikmati kuliner. Sementara banyak pengunjung ingin menikmati wahana yang berbeda. Akhirnya melalui penelitian yang dilakukan sebagai bagian dari Bina Desa di Desa Budo, Jurusan Teknik Elektro kembali meluncurkan produk, yaitu wahana sepeda air untuk pengunjung wisata mangrove,” jelasnya.
Dengan adanya wahana tersebut, pengunjung tidak hanya dapat menikmati kawasan mangrove melalui jalur yang telah dirancang dan fasilitas tempat duduk yang tersedia, tetapi juga bisa merasakan pengalaman berada lebih dekat dengan hutan mangrove menggunakan sepeda air.
“Jadi, pengunjung bisa berwisata di kawasan mangrove melalui jalan-jalan yang sudah dirancang dan tempat-tempat duduk yang disediakan. Tetapi mereka juga dapat menikmati hutan mangrove lebih dekat menggunakan wahana sepeda air,” terangnya.
Dilengkapi Motor Penggerak dan Sistem Kendali.
Marson menjelaskan, wahana sepeda air tersebut dirancang dengan sistem yang lebih modern karena dilengkapi motor penggerak. Sistem tersebut juga menjadi salah satu fitur keselamatan bagi pengunjung.
Jika wahana bergerak melewati batas area yang telah ditentukan, pihak pengelola dapat mengendalikan perahu menggunakan remote dari darat untuk mengarahkannya kembali ke lokasi awal.
“Jika perahu ini melewati batas, para pengunjung tetap merasa aman. Perahu ini dilengkapi motor penggerak otomatis ataupun dapat dikendalikan menggunakan remote dari darat untuk mengontrol dan mengarahkan perahu kembali ke lokasi,” katanya.
Menurutnya, sistem tersebut membuat wahana lebih aman digunakan oleh pengunjung.
“Jika wahana sepeda air ini digunakan melewati batas-batas area, maka bisa dikontrol oleh pihak pemegang remote untuk mengarahkan kembali ke lokasi awal. Jadi, wahana ini sangat aman bagi pengunjung yang akan mencoba,” jelasnya.
Wahana tersebut kemudian diserahkan langsung oleh Jurusan Teknik Elektro Polimdo kepada BUMDes Desa Budo untuk dikelola dan dimanfaatkan sebagai salah satu daya tarik wisata.
Cara Kerja Wahana Sepeda Air.
Marson menerangkan, cara menggunakan wahana tersebut pada dasarnya menyerupai sepeda biasa, yakni menggunakan pedal. Namun, pedal yang dikayuh akan memutar propeler sehingga menghasilkan gerakan pada perahu.
“Hasil penelitian mahasiswa dan dosen menciptakan wahana baru bagi wisata Desa Budo,” ujarnya.
Dalam sekali perjalanan, wahana tersebut dapat digunakan oleh dua orang. Meski demikian, konstruksi sepeda air mampu menahan beban hingga sekitar 400 kilogram.
Untuk tahap awal, Jurusan Teknik Elektro baru menyerahkan satu unit wahana sebagai bagian dari uji coba sebelum nantinya dikembangkan lebih lanjut.
“Untuk sementara baru diserahkan satu sepeda sebagai bagian dari uji coba, yang nantinya akan dikembangkan. Wahana ini juga dapat menunjang pendapatan BUMDes. Ketika mereka merasa terbantu dari sisi pendapatan, tinggal melihat kemungkinan penambahan wahana tersebut. Ketika ada tambahan, mungkin akan ada nilai di dalamnya,” tuturnya.
Antusiasme pengunjung pun disebut sudah terlihat sejak wahana tersebut diturunkan di Desa Budo. Marson mengatakan, sejumlah pengunjung bahkan langsung menanyakan apakah wahana itu sudah dapat digunakan.
“Banyak pengunjung mau menggunakan wahana ini, padahal baru saja diturunkan. Semoga ini bisa membantu dan bermanfaat dalam pengembangan Desa Wisata Budo,” terangnya.
Berawal dari Penelitian Mahasiswa.
Marson yang juga merupakan Ketua Senat Polimdo menambahkan, pengembangan wahana sepeda air tersebut bermula dari penelitian mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, khususnya mahasiswa listrik, bersama dosen.
Penelitian tersebut awalnya berfokus pada pengendalian perputaran kecepatan motor DC yang digunakan untuk memutar propeler dengan beban hingga 400 kilogram.
“Wahana sepeda air ini bermula dari penelitian mahasiswa listrik untuk mengontrol perputaran kecepatan motor DC untuk memutar propeler dengan beban sampai dengan 400 kilogram,” tambahnya.
Menurut pria berdarah Sangihe, itu bahwa wahana tersebut juga dirancang agar tetap dapat digunakan tanpa terus-menerus bergantung pada tenaga listrik. Pengunjung yang mampu mengayuh dapat menjalankan wahana menggunakan pedal hingga kembali ke lokasi.
Namun, motor listrik tetap disediakan sebagai sistem pendukung untuk mengantisipasi apabila pengunjung mengalami kelelahan atau kesulitan menggerakkan wahana kembali.
“Daya pakainya sangat murah meriah. Jika mereka yang tahu bersepeda, mereka akan pergi dan balik tanpa menggunakan listrik lagi. Tetapi ketika disediakan motor listrik, gunanya untuk mencegah jangan sampai pengunjung tidak bisa kembali atau mengalami kelelahan. Jalan keluarnya adalah menggunakan sistem yang sudah dibuat oleh Jurusan Teknik Elektro Polimdo,” jelasnya.
Terkait daya tahan baterai, Marson mengatakan baterai pada wahana tersebut dapat digunakan sekitar delapan jam. Bahkan, masa penggunaan baterai bisa lebih lama apabila wahana lebih banyak digerakkan menggunakan tenaga pedal.
“Penggunaan baterai sekitar delapan jam. Kalau sering dipakai dan wahana berjalan baik tanpa listrik, maka penggunaan baterainya bisa lebih lama lagi,” jelasnya.
Ia uberharap kehadiran wahana sepeda air tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan pengelola wisata Desa Budo, sekaligus menjadi inovasi baru yang mampu memperkaya pengalaman wisatawan saat menikmati keindahan hutan mangrove.
“Sekali lagi, kiranya dengan adanya wahana sepeda air bisa bermanfaat bagi pengelola Desa Budo ini,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post