Jakarta, Barta1com — Guru Besar Bidang Kelembagaan Negara, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Dr. Zainal Arifin Mochtar, mengajak insan pers untuk kembali menghadirkan jurnalisme yang berani melawan.
Pesan tersebut disampaikan Prof. Zainal dalam perayaan HUT ke-32 Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia yang berlangsung di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (7/8/2026), yang lalu.
Menurut Prof. Zainal, jurnalisme memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga ingatan publik sekaligus membangun imajinasi tentang masa depan bangsa.
“Kita panggil kembali jurnalisme yang melawan, jurnalisme yang luar biasa, karena itulah harga yang memang harus dilakukan untuk membayar jasa-jasa korban pelanggaran HAM, korban kekerasan dan militerisme,” ungkap Prof. Zainal.
Ia mengatakan, begitu panjang dan banyaknya korban dari berbagai peristiwa kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) membuat jurnalisme harus terus hadir untuk mengingatkan publik. Jurnalisme juga diharapkan mampu membayangkan bentuk perlawanan yang tepat dan bermartabat bagi bangsa ini.
“Jurnalisme punya dua tugas utama sebenarnya. Dia merawat ingatan sekaligus pada saat yang sama dia merawat imajinasi. Jurnalisme harus berdiri di situ,” ujarnya.
Karena itu, kata dia, jurnalisme harus memegang teguh kedua peran tersebut dan terus merawatnya.
“Kenapa begitu? Karena jurnalisme bicara soal fakta. Dan fakta itu adalah fondasi penting dari keberadaan atau eksistensi ruang publik. Itu pun kata Hannah Arendt,” jelasnya.
Demokrasi Tidak Bisa Dipisahkan dari Ingatan.
Prof. Zainal juga meyakini bahwa demokrasi memiliki kaitan yang erat dengan kemampuan masyarakat dalam menjaga dan merawat memori.
“Jadi, nyaris sebenarnya tidak ada demokrasi tanpa ingatan,” tegasnya.
Menurut dia, seluruh mekanisme demokrasi dibangun di atas kemampuan masyarakat untuk mengingat berbagai peristiwa. Namun, kekuasaan kerap memiliki kecenderungan untuk mengendalikan ingatan publik.
“Seperti jadi hukum sejarah, bahwa setiap rezim mau bertahan itu pasti melakukan upaya untuk mengendalikan yang namanya sejarah resmi, mengendalikan bahasa, mengendalikan cerita, serta imajinasi,” tuturnya.
Ia menilai, dalam situasi seperti itu, sejarah dapat dipelintir, dibelokkan, bahkan dipendekkan. Ingatan masyarakat pun dapat diarahkan sesuai kepentingan penguasa.
“Kita tahu bersama, hak asasi adalah catatan yang paling kelam dari rezim kali ini,” katanya.
Sejarah dan Ingatan yang Berulang Kali Dihapus.
Lebih lanjut, Prof. Zainal menyebut Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai berbagai upaya untuk menghapus atau mengendalikan ingatan publik.
Menurutnya, praktik tersebut bukan hanya terjadi pada masa sekarang. Bangsa Indonesia pernah melakukan berbagai tindakan yang merusak atau mengubah catatan sejarah.
“Indonesia punya sejarah panjang, upaya menghapus ingatan. Bukan hanya milik sekarang, kita sudah pernah melakukan apa pun, kita sudah pernah memperlihatkan perilaku brengsek untuk merusak sejarah.”
Ia kemudian mengingatkan sejumlah praktik yang pernah terjadi, mulai dari penggantian dan perusakan buku sejarah, penghapusan nama, hingga pelarangan diskusi.
“Apa yang tidak kita lakukan? Kita sudah mengganti buku sejarah, kita sudah merusak buku sejarah, pernah menghapus nama, bahkan pernah melarang diskusi,” ucapnya.
Menurut dia, berbagai bentuk pembungkaman juga pernah dilakukan, termasuk membungkam arsip, membakar buku, menangkap, hingga mengkriminalisasi para pengabar atau jurnalis.
“Apa yang tidak pernah dilakukan oleh negeri ini.”
Karena itu, berbagai upaya untuk menghapus ingatan tersebut harus terus dilawan melalui jurnalisme yang bersemangat dan bermutu.
“Yang begitu banyak upaya menghapus ingatan, harus dipanggil kembali oleh jurnalisme-jurnalisme yang bersemangat dan bermutu, karena kalau tidak, semua perilaku itu tidak ada yang mengingatkan. Plus, pada saat yang sama, tidak ada yang mengontrol. Jurnalisme punya peran besar di situ,” tambahnya.
Jurnalisme Harus Membangun Imajinasi.
Bagi Prof. Zainal, jurnalisme tidak sekadar berbicara tentang ingatan. Jurnalisme juga membutuhkan imajinasi, yakni kemampuan untuk membayangkan Indonesia yang belum ada, Indonesia yang dicita-citakan, maupun Indonesia yang diharapkan oleh masyarakat.
“Imajinasi adalah kemampuan untuk membayangkan Indonesia, bahkan yang belum ada atau Indonesia yang dicita-citakan, atau Indonesia yang dibayangkan. Dan setiap jurnalisme itu seharusnya mengabarkan itu.”
Ia menegaskan, peran tersebut berbeda dengan pesan-pesan yang disampaikan negara. Jurnalisme justru memiliki ruang untuk membangun optimisme sekaligus mengingatkan masyarakat terhadap berbagai ancaman terhadap demokrasi.
“Ini tidak sama dengan pesan-pesan yang dilakukan oleh negara. Kalian membangun optimisme. Jurnalisme harus mengingatkan bahwa ada jebakan ketika otoritarianisme bergabung dengan populisme. Bahayanya adalah model-model seperti ini,” imbuhnya.
Ia menyoroti munculnya pola ketika masyarakat seolah-olah dihadapkan pada garis pemisah antara rakyat dan negara. Dalam kondisi tersebut, negara digambarkan sebagai pihak yang paling memahami kepentingan rakyat.
Sementara itu, mereka yang berada di posisi berseberangan atau mengkritisi negara justru kerap dianggap sebagai pihak yang tidak mencintai rakyat.
“Orang yang beroposisi, orang yang mengkritisi negara, itu dianggap sebagai orang yang tidak mencintai rakyat.”
Jangan Biarkan Imajinasi Dibajak Algoritma.
Pada bagian terakhir, Prof. Zainal mengingatkan bahwa imajinasi masyarakat juga dapat dibajak oleh perkembangan teknologi dan algoritma di ruang digital.
Menurutnya, masyarakat kini semakin didorong untuk memiliki ingatan yang pendek dan mengonsumsi informasi secara terpotong-potong.
“Imajinasi ini sering dibajak, algoritma pembajaknya. Orang-orang dipaksa punya ingatan-ingatan pendek. Orang tidak menikmati sesuatu yang utuh.”
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat orang kerap memberikan komentar tanpa terlebih dahulu mempelajari suatu persoalan secara mendalam.
“Karena dengan dunia digital sebenarnya orang menjadi punya informasi, tapi bukan punya pengetahuan,” pungkasnya. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post