Manado, Barta1.com — PT PLN (Persero) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Manado Utara yang berada di bawah naungan UP3 Manado kembali menggulirkan program edukasi berkelanjutan bertajuk “PLN Goes to School” pada Senin (08/06/2026).
Langkah korporasi ini menjadi bentuk komitmen nyata dalam memperluas literasi ketenagalistrikan, khususnya bagi generasi muda, guna menekan risiko kecelakaan yang ditimbulkan dari instalasi tegangan rendah maupun menengah di area publik.
Kegiatan yang berpusat di SMA Negeri 4 Manado, Kelurahan Perkamil, ini mendapat sambutan positif dari ekosistem sekolah. Agenda edukatif tersebut diikuti secara antusias oleh puluhan siswa-siswi yang menjadi delegasi kelas, jajaran tenaga pendidik, hingga pengurus komite sekolah yang berkepentingan langsung terhadap penegakan standar keselamatan di lingkungan pendidikan.
Pemahaman mendalam mengenai Keselamatan Ketenagalistrikan (K2) ini menjadi krusial mengingat mayoritas pasokan listrik komersial dan rumah tangga di Kota Manado disuplai melalui Jaringan Tegangan Menengah (JTM) 20 kiloVolt (kV) yang kemudian diturunkan fasanya menjadi 220 Volt untuk konsumsi harian.
Potensi kecelakaan fatal dapat terjadi jika masyarakat awam mengabaikan standar ruang bebas atau Right of Way (RoW) minimal 3 meter dari konduktor/kabel telanjang PLN.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo (Suluttenggo), Usman Bangun, menegaskan edukasi langsung ke instansi pendidikan merupakan langkah mitigasi preventif di hulu masyarakat.
“Generasi muda adalah agen perubahan yang sangat efektif. Melalui program PLN Goes to School, kami ingin menanamkan awareness sejak dini bahwa di balik kemudahan energi listrik yang kita nikmati, ada aspek keselamatan yang wajib dijaga,” ungkap Usman.
Lebih jauh, Usman menaruh harapan besar agar transfer keilmuan mengenai K2 ini tidak terputus hanya di batas gerbang sekolah.
“Kami berharap para siswa dapat menjadi perpanjangan tangan PLN dalam mengedukasi keluarga dan lingkungan sekitar mereka mengenai bahaya listrik,” tambahnya, menegaskan visi perusahaan dalam menekan fatalitas kecelakaan umum akibat kelalaian teknis.
Sejalan dengan visi tingkat wilayah tersebut, Manager PLN UP3 Manado, Revi Aldrian, menyampaikan bahwa sosialisasi jemput bola ini merupakan pilar esensial untuk mewujudkan budaya keselamatan ketenagalistrikan yang terstruktur di Manado.
“Kami berkomitmen tidak hanya mendistribusikan energi listrik yang andal, tetapi juga memastikan masyarakat aman dalam menggunakannya,” terang Revi.
Menurut pemaparan Revi, minimnya literasi tentang pedoman instalasi di tingkat perumahan kerap bermuara pada risiko kerugian material dan korban jiwa.
“Kolaborasi dengan instansi pendidikan seperti SMA Negeri 4 Manado ini sangat krusial demi meminimalkan potensi risiko kecelakaan listrik akibat minimnya informasi teknis di tingkat rumah tangga,” ungkapnya, merujuk pada pentingnya penerapan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL).
Manager PLN ULP Manado Utara, Yuga Marlindrah, turut menyoroti realitas empiris di mana gaya hidup digital generasi milenial dan Gen-Z sangat terikat pada konsumsi daya listrik tanpa henti.
“Listrik sangat dekat dengan aktivitas anak muda saat ini, namun potensinya juga berbahaya jika kita lalai. Melalui edukasi ini, kami ingin para siswa tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga pelopor keselamatan yang ikut mengingatkan lingkungan sekitar mereka,” kata Yuga.
Dalam sesi pemaparan teknis, tim Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3L) PLN membedah berbagai ancaman di lingkungan keseharian. Bahaya tersebut mencakup risiko korsleting sekunder akibat kebiasaan menumpuk beban arus listrik (Ampere) melampaui kapasitas stopkontak, bahaya intervensi mekanik berupa bermain layang-layang di dekat kabel aktif, hingga aturan tata ruang untuk tidak mendirikan struktur bangunan yang menyalahi radius aman kabel transmisi.
Edukasi ini tidak sekadar berhenti pada tataran teoretis, melainkan dieksekusi dengan peragaan teknis penanggulangan insiden darurat. Tim PLN mensimulasikan langkah krusial dalam mengisolir api dengan cara mematikan sistem proteksi pada Miniature Circuit Breaker (MCB) di meteran ketika terjadi korsleting, sekaligus menekankan kewajiban mutlak penggunaan produk instalasi kabel berlabel Standar Nasional Indonesia (SNI) yang tahan terhadap degradasi panas.
Untuk memoderenisasi sistem pelaporan gangguan kelistrikan, siswa-siswi juga diarahkan untuk memanfaatkan layanan pengaduan real-time berbasis aplikasi pintar PLN Mobile.
Rangkaian program komprehensif ini lantas ditutup dengan simulasi pemadaman percikan api dasar, sesi tanya jawab interaktif, serta kuis berhadiah guna mengukur tingkat penyerapan materi sekaligus menanamkan insting tanggap darurat di benak para pelajar secara permanen. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post