Manado, Barta1.com — Sony kembali memicu adrenalin para pemuja setianya di seluruh dunia. Raksasa teknologi asal Tokyo ini baru saja melepas amunisi flagship teranyarnya ke pasaran dengan membawa perombakan radikal yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Namun, alih-alih panen pujian instan berkat racikan spesifikasi mutakhirnya, babak baru perjalanan sang suksesor ini justru langsung disambut badai kritik yang riuh di jagat maya.
Hanya berselang beberapa hari sejak peluncuran resminya, lini teratas Sony Xperia 1 VIII mendadak jadi buah bibir sekaligus sasaran empuk perdebatan panas di berbagai platform media sosial.
Ironisnya, biang kerok dari kegaduhan ini bukan berasal dari cacat desain fisik atau performa mesinnya, melainkan dari fitur kecerdasan buatan (AI) kamera teranyarnya yang dituding netizen justru memperburuk kualitas tangkapan gambar.
Fenomena ini tentu sangat mengejutkan, mengingat sejak bertahun-tahun lalu dinasti Xperia selalu memposisikan dirinya sebagai pilihan paling ideal untuk kaum puris fotografi dan pengguna anti-mainstream.
Di saat vendor lain berlomba-lomba memangkas fitur esensial demi estetika minimalis, Sony Xperia 1 VIII justru tetap teguh mempertahankan kemewahan lawas berupa slot kartu microSD eksternal serta port jack audio 3.5mm—dua fitur legendaris yang kini sudah punah di kasta tertinggi ponsel pintar masa kini.
Tak berhenti di situ, Sony juga tampak enggan berkompromi dengan tren layar berponi (notch) atau lubang kamera (punch hole). Ponsel papan atas ini masih setia mengadopsi bezel dahi dan dagu yang cukup tebal di sisi atas dan bawah layarnya.
Kendati terkesan konservatif, pendekatan ini memberikan keuntungan fungsional yang mutlak: ruang yang ideal untuk meletakkan kamera selfie tanpa interupsi layar, sekaligus wadah bagi sepasang speaker stereo simetris dengan semburan volume yang jauh lebih lantang.
Lompatan visual yang paling kentara justru terlihat saat kita membalikkan bodi perangkat ini. Sony memperkenalkan bahasa desain modul kamera baru yang mereka sebut sebagai konsep “ORE”.
Kendati bodi keseluruhannya tetap mempertahankan filosofi simetris yang rigid, tata letak tiga sensor kamera belakangnya kini diatur ulang sepenuhnya dan tidak lagi berbaris rapi secara konvensional seperti generasi-generasi terdahulu.
Perubahan radikal posisi ini terjadi karena Sony memutuskan menempatkan modul lensa telefoto periskop di posisi paling bawah sasis kamera. Keputusan ini diambil demi mengakomodasi dimensi fisik sensor yang kini membengkak masif menjadi 1/1,56 inci—hampir empat kali lipat lebih bongsor dibanding pendahulunya.
Walau harus mengorbankan kemampuan optical zoom dinamis, sensor raksasa ini kini dipersenjatai kemampuan telemakro yang luar biasa tajam untuk menangkap detail objek mikro dari jarak jauh.
Sementara untuk dua sensor pendampingnya, Sony masih mempertahankan konfigurasi monster yang sudah teruji. Di sana tertanam lensa ultra-wide 50MP dengan bukaan f/2.0 fokal 16mm yang memiliki sudut pandang luas, serta sensor utama legendaris Exmor T 50MP berkekuatan f/1.9 fokal 24mm berdimensi 1/1.35 inci.
Seluruh sistem optik mewah ini dilapisi oleh teknologi T* coating besutan ZEISS untuk meminimalisir efek flare dan mendongkrak kejernihan gambar ke level maksimal.
Di atas kertas, kombinasi hardware kamera sekuat ini seharusnya mampu menghasilkan mahakarya fotografi tanpa cela. Sayangnya, petaka justru dimulai ketika Sony mencoba bermain-main di ranah komputasi modern dengan menyuntikkan fitur AI Camera Assistant yang ditenagai langsung oleh ekosistem kecerdasan buatan teranyar mereka, Xperia Intelligence.
Fitur inilah yang digadang-gadang mampu menjembatani pengguna awam agar bisa memotret layaknya fotografer profesional secara instan.
Cara kerja AI Camera Assistant ini sebenarnya cukup klise dan jamak ditemukan pada ponsel masa kini: mendeteksi skenario lingkungan serta objek di depan lensa secara real-time, lalu secara otomatis menyodorkan opsi serta kurva warna yang paling optimal agar hasil foto terlihat lebih menarik.
Namun, ketika teknologi manipulasi digital ini dipaksakan masuk ke dalam DNA Sony yang terkenal dengan reproduksi warna naturalnya, benturan filosofis pun tak terhindarkan.
Ruang-ruang diskusi digital di berbagai platform kini justru dipenuhi oleh unggahan bukti kegagalan pemrosesan perangkat lunak tersebut. Alih-alih mendapatkan foto yang estetis, jepretan yang mengaktifkan mode AI Camera Assistant dilaporkan sering kali menghasilkan gambar yang tidak natural.
Dalam beberapa skenario pencahayaan tertentu, algoritma AI tersebut justru memuntahkan visual yang mengalami kebocoran cahaya (over-exposure) yang parah atau malah terlihat sangat pucat kehilangan saturasi.
Kontroversi ini menjadi tamparan keras sekaligus ironi terbesar bagi pabrikan asal Jepang tersebut. Ketika mereka sukses memenangkan hati para antusias lewat komitmen penyediaan perangkat keras kamera kelas satu, reputasi itu seketika tereduksi akibat kalkulasi software processing yang dinilai belum matang dan terlalu agresif melakukan intervensi visual.
Netizen menilai algoritma komputasi Sony justru merusak karakteristik warna alami yang selama ini menjadi identitas utama lini Xperia. Kini, bola panas berada di tangan tim pengembang perangkat lunak Sony untuk segera merilis pembaruan firmware guna menjinakkan agresivitas Xperia Intelligence tersebut.
Di tengah riuhnya kritik negatif di media sosial, Sony Xperia 1 VIII tetaplah sebuah mahakarya bagi mereka yang memuja kejujuran lensa fisik di atas polesan kecerdasan buatan. Bagi Anda pencinta fotografi murni, mematikan fitur asisten pintar ini tampaknya menjadi jalan ninja terbaik untuk menikmati keperkasaan sensor Exmor T dan optik ZEISS yang sesungguhnya. (**)
Editor: Ady Putong


Discussion about this post