Barta1.com– Oma Ice, lansia sebatang kara di kawasan pinggiran Manado, Mapanget, barangkali punya mimpi bila suatu ketika ia punya rumah layak huni.
Dan di hari jelang Paskah April 2026, di waktu yang tak pernah disangka, gubuknya menjadi rumah yang nyaman di tinggali.
Dalam reka senyuman bahagia perempuan tua itu, saya membaca apa yang dimaksudkan teolog dan filsuf Paul Tillich sebagai Ultimate Concern (keprihatinan tinggi), bahwa di luar tembok gereja, teologi berubah menjadi aksi nyata.
Ini yang dilakukan PS Irwan Hasan dan gereja YHS untuk menjawab impian Oma Ice dalam konteks teologi sosial atau teologi kontekstual lewat program bedah rumah dan bangun rumah baru untuk masyarakat miskin.
Gerakan ini seakan mengaktualkan ungkapan religius; “dunia selalu tak kekurangan kasih sayang, dan kebaikan selalu punyah cara membuat seseorang tersenyum.”
Begitulah jelang Paskah 2026, doa Oma Ice tak lagi sekadar kata-kata yang menggantung di udara; ia mewujud menjadi ketukan palu dan aroma kayu baru.
Bagi Irwan Hasan, apa yang dialami Oma Ice bukan sekadar bantuan sosial, melainkan sebuah manifestasi dari teologi kontekstual.
Di sini, iman Kristen tidak berhenti di balik altar yang megah atau jubah yang rapi. Iman justru menemukan rumahnya yang paling jujur saat ia bersentuhan dengan penderitaan manusia di luar tembok gereja.
Irwan, yang juga seorang Pastor dengan gelar Master Teologi, nampaknya sangat memahami kegelisahan filsuf Paul Tillich.
Baginya, agama bukanlah menara gading yang terpisah, melainkan substansi dari kebudayaan itu sendiri, yang harus mampu menjawab pertanyaan eksistensial manusia.
Lewat program bedah rumah Gereja YHS dan Yayasan Poros Baru Porodisa, Irwan mencoba meruntuhkan sekat antara yang sakral dan yang profan.
Ia membawa “gereja” ke dalam dapur-dapur warga yang berasnya hampir habis. Ia menarik “mimbar” ke halaman rumah warga yang atapnya bocor, mengubah khotbah menjadi aksi nyata yang bisa dirasakan kulit dan tulang.
“Dunia selalu tak kekurangan kasih sayang,” demikian kredo yang ia pegang.
Di tengah masyarakat miskin, teologi seringkali terasa abstrak jika hanya diucapkan. Namun, saat sebuah kunci rumah diserahkan kepada keluarga yang selama ini tidur dalam kecemasan, di situlah teologi menjadi hidup dan bernapas.
Filosofi ini tidak hanya berlaku di Manado dan Minahasa, tapi telah merambah hingga ke tanah kelahirannya Nusa Utara selama dasawarsa terakhir. Dari penyaluran paket sembako hingga perbaikan fasilitas umum, setiap tindakan dianggap sebagai refleksi keimanan.
Solidaritas sosial menjadi jembatan yang menghubungkan ajaran surgawi dengan realitas bumi yang seringkali pahit.
Dan bagi Irwan, kemiskinan adalah sebuah masalah teologis yang harus diselesaikan dengan keterlibatan aktif.
Ia menolak pemisahan antara spiritualitas dan situasi sosial-politik. Baginya, melayani Tuhan berarti juga memastikan tetangga tidak kelaparan dan memiliki tempat bernaung yang layak.
Kado Paskah untuk Oma Ice akhirnya menjadi simbol kecil dari narasi besar teologi ini. Bahwa di balik setiap senyum warga yang dibantu, ada sebuah pesan kuat: Tuhan tidak pernah jauh.
Ia ada di dalam tangan-tangan yang bergerak membantu sesama, membuktikan bahwa kebaikan selalu punya cara untuk membuat seseorang kembali percaya pada harapan.
***
Ada hari di mana, ada sesuatu yang bergetar di dalam dada Irwan Hasan saat ia menjejakkan kaki di 103 kampung di Pulau Karakelang, Salibabu, dan Kabaruan pada Juni 2024.
Bukan sambutan meriah yang membuatnya terenyuh, melainkan tatapan mata warga. Di sana, ia membaca sebuah buku tebal berisi curhatan tentang hidup yang kian menjerat.
“Hati saya tercekik,” kenang Irwan saat mengenang pertemuannya dengan para orang tua di pelosok Talaud.
Ia mendengar kisah-kisah tentang pasien BPJS yang terpaksa membeli obat sendiri karena stok di RSUD habis. Ketika itu, ia melihat kemegahan RS Kabaruan yang hanya menjadi monumen bisu tanpa alat kesehatan, sementara warga di sekitarnya merintih menahan sakit.
Air matanya tak sanggup dibendung saat melihat rumah-rumah sederhana yang nyaris tak layak disebut hunian.
Di daerah perbatasan itu, kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan wajah-wajah yang ia kenal. Pendapatan perkapita warga Talaud yang hanya berkisar Rp 80.000 per hari membuat mimpi tentang pendidikan tinggi bagi anak-anak terasa seperti kemewahan yang mustahil.
Cinta Irwan pada Nusa Utara bukanlah cinta seorang pengamat dari jauh. Ia adalah putra asli daerah yang lahir dan besar di sana.
Baginya, kembali ke kampung halaman adalah sebuah kewajiban moral untuk membalas budi pada tanah yang telah membesarkannya. Ia membawa kursi roda, bibit tanaman, hingga bantuan pangan seolah sedang mengobati luka lama.
Namun bagi Markus Berkati, warga Desa Tarun yang menerima kunci rumah baru lewat program bedah rumah Irwan Hasan, langkah itu adalah raksasa
Haru menyelimuti wajah Markus saat menyadari bahwa mimpinya memiliki rumah layak akhirnya dikabulkan oleh sesama putra daerah.
Irwan tidak ingin pemerintah bekerja sendirian memikul beban kemiskinan yang menggunung. Ia mengajak rekan-rekannya yang sudah sukses di luar daerah untuk kembali menengok “rumah” mereka.
Tak sedikit program bedah rumah, bangun rumah baru dan bantuan social juga pangan telah dilakukan di Nusa Utara.
“Dari sebutir beras hingga perbaikan jalan, maknanya sangat berarti bagi saudara-saudara kita,” ungkapnya dengan nada penuh harap.
Kemanusiaan di mata Irwan adalah sebuah kerja kolaboratif. Ia bermimpi menjadikan tiga kabupaten di Nusa Utara sebagai “rumah beratap kasih sayang,” di mana tidak ada lagi warga yang merasa ditinggalkan di pinggiran nasib.
Baginya, kekayaan sesungguhnya bukanlah apa yang ia kumpulkan di dunia usaha, melainkan seberapa banyak beban orang lain yang sanggup ia ringankan.
Kunjungan itu berakhir dengan doa-doa yang tulus dari warga. Di beranda-beranda rumah sederhana di Nusa Utara, Irwan Hasan tidak hanya meninggalkan bantuan material.
Ia meninggalkan sebuah janji tentang kepedulian yang tak akan putus, sebuah komitmen bahwa selama ia masih bernapas, warga kepulauan itu tidak akan pernah berjalan sendirian menghadapi badai kehidupan. (*)
Penulis:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post