Manado, Barta1.com – Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menggelar Workshop Kurikulum Berbasis Outcome Based Education (OBE) di Ruang Auditorium Prof. Tenda, Kamis (12/03/2026).

Kegiatan ini menghadirkan narasumber Ir. Ahmad Riyad Firdaus, S.Si., MT., Ph.D., yang merupakan Wakil Direktur Bidang Akademik Politeknik Negeri Batam. Workshop tersebut dibuka langsung oleh Direktur Polimdo, Dra. Meryke Alelo, MBA, yang juga menyampaikan sambutannya di hadapan para dosen dan peserta kegiatan.

Dalam sambutannya, Direktur Meryke menegaskan bahwa penerapan kurikulum OBE merupakan langkah yang harus dilaksanakan dalam sistem pendidikan politeknik.

“Sukses atau tidak, kurikulum OBE tetap harus kita jalankan. Kita harus mencoba dan melaksanakannya. Jika melihat pendidikan di politeknik, sebenarnya kita sudah mengadopsi dan menerapkan konsep OBE sejak awal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa Outcome Based Education (OBE) merupakan pendekatan pendidikan yang berfokus pada luaran akhir pembelajaran, seperti kompetensi, keterampilan, pengetahuan, sikap, serta kemampuan menampilkan keterampilan secara profesional.
Menurutnya, dalam sistem pendidikan politeknik, mahasiswa tidak hanya dituntut memahami teori, tetapi juga mampu mendemonstrasikan keterampilan secara nyata.
“Misalnya pada praktik pengelasan, mahasiswa tidak hanya memahami teorinya, tetapi harus mampu mendemonstrasikan cara mengelas yang baik dan profesional. Sebenarnya sejak awal kita sudah menjalankan kurikulum OBE, hanya saja kita belum menyadari bahwa itu adalah OBE,” tuturnya.
Ia juga memberikan contoh lain dalam bidang desain dan pariwisata. Ketika mahasiswa merancang sebuah rumah, mereka harus melakukan investigasi terlebih dahulu, memahami kondisi tanah, serta berbagai aspek teknis lainnya sebelum membuat desain.
Sementara di bidang pariwisata, mahasiswa tidak hanya mempelajari resep makanan secara teori, tetapi juga harus mampu meracik dan menyajikan makanan dengan baik.
“Mahasiswa harus tahu bahan apa yang digunakan lebih dahulu, bagaimana prosesnya, hingga akhirnya mampu mempresentasikan hidangan tersebut agar dapat diterima oleh berbagai kalangan, baik dari barat maupun timur,” jelasnya.
Direktur Meryke menambahkan bahwa pada dasarnya kurikulum OBE sudah lama diterapkan di lingkungan politeknik, meskipun kini terdapat beberapa format baru yang perlu disesuaikan.
“Kurikulum harus dapat diukur. Misalnya, apakah mahasiswa mampu mengetik dengan kecepatan 60 kata per menit. Kemampuan seperti itu harus bisa diukur secara jelas,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa capaian pembelajaran harus terukur dan dapat dicapai dalam waktu tertentu, baik dalam beberapa pertemuan, jam pembelajaran, maupun dalam satu semester.
“Saat mahasiswa mengoperasikan mesin, misalnya, itu harus terukur. Mesin harus dapat dioperasikan dengan baik tanpa menimbulkan risiko atau kesalahan. Target pembelajaran juga harus memiliki batas waktu yang jelas,” tambahnya.
Menurutnya, sejak awal berdirinya politeknik, semangat OBE sebenarnya sudah menjadi bagian dari sistem pembelajaran.
“Politeknik pada dasarnya memiliki ‘darah dan daging’ OBE. Sekarang kita hanya diingatkan kembali dan dipertegas penerapannya,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa para dosen yang hadir dalam workshop tersebut memiliki peran penting dalam implementasi kurikulum OBE, khususnya dalam penyusunan Rencana Pembelajaran Semester (RPS).
“Bapak dan Ibu dosen yang diundang di sini adalah pihak yang akan melaksanakan kurikulum ini. Perancangannya mungkin akan disusun bersama pimpinan jurusan dan kaprodi, tetapi implementasinya ada pada seluruh dosen. Nantinya juga akan ada pendamping yang membantu setiap jurusan,” imbuhnya.
Sementara itu, narasumber Ir. Ahmad Riyad Firdaus menyampaikan bahwa langkah Polimdo dalam memperkuat kurikulum berbasis luaran merupakan upaya yang tepat untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
“Ketika Polimdo mendapatkan akselerasi yang baik, maka manfaatnya akan dirasakan oleh masyarakat Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa mahasiswa akan menjadi pihak yang paling merasakan dampak dari peningkatan kualitas pendidikan tersebut.
“Mahasiswa akan memperoleh hasil dari kualitas pendidikan yang semakin baik. Menjadi bagian dari institusi pendidikan negeri bukanlah kerugian, karena kita memiliki tanggung jawab moral kepada bangsa Indonesia,” jelasnya.
Dalam workshop tersebut, ia juga membagikan pengalaman serta pemahaman terkait implementasi kurikulum berbasis luaran.
“Seperti yang disampaikan Ibu Direktur, sebenarnya politeknik sudah lama menjalankan konsep OBE. Istilahnya saja yang kini lebih populer. Dalam regulasi nasional, konsep ini juga selaras dengan berbagai peraturan menteri terkait pendidikan,” tambahnya.
Kegiatan workshop ini diharapkan dapat memperkuat pemahaman para dosen dalam menerapkan kurikulum OBE, sekaligus meningkatkan kualitas proses pembelajaran di Politeknik Negeri Manado. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post