SANGIHE, BARTA1. COM – Cuaca ekstrem melanda wilayah perbatasan Indonesia–Filipina. Kampung Matutuang, Kecamatan Marore, Kabupaten Kepulauan Sangihe, mengalami longsor akibat hujan deras yang terjadi pada Jumat (3/1/2026) dini hari.
Longsor tersebut berdampak serius terhadap ketersediaan air bersih bagi warga. Sumber mata air utama yang selama ini menjadi andalan masyarakat tertutup material longsoran tanah, sehingga pasokan air minum terputus total.
Sekretaris Kampung Matutuang, Reksan Salur, mengatakan dampak terparah terjadi di wilayah Salesuge, lokasi sumber mata air minum utama warga.
“Seluruh sumber mata air dan bak penampungan air tertimbun tanah. Ini sangat mengancam ketersediaan air minum warga Kampung Matutuang,” ujar Reksan, Selasa (6/1/2026).
Akibat kondisi tersebut, warga terpaksa mencari sumber air alternatif. Sejak beberapa hari terakhir, masyarakat menyusuri pesisir pulau untuk menemukan mata air yang keluar dari celah-celah bebatuan di sepanjang pantai.
Namun, sumber air alternatif tersebut dinilai tidak mampu mencukupi kebutuhan warga dalam jangka panjang. Menurut Reksan, debit air yang ada saat ini hanya bisa bertahan sekitar satu bulan apabila tidak turun hujan.
“Kalau tidak hujan, sumber air ini hanya bisa bertahan satu bulan. Setelah itu akan kering,” katanya.
Selain terbatasnya debit air, warga juga harus menghadapi antrean panjang untuk mendapatkan air bersih. Untuk mengisi satu galon air berkapasitas 19 liter, dibutuhkan waktu sekitar 10 menit.
“Bayangkan kalau ada 15 orang yang mengantre, bisa berjam-jam menunggu,” jelas Reksan.
Warga Kampung Matutuang berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat segera turun tangan memberikan bantuan serta solusi jangka pendek dan jangka panjang guna mengatasi krisis air bersih yang kini mengancam kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan tersebut.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post