BARTA1.COM– Segala yang tumbuh di langit, seakan bisa tumbuh di sini. Bigitu pikir tetua Mamarimbing di suatu hari yang mendung. Namun, sejarah tidak pernah berjalan lurus. Sejarah selalu punya kelokan dan kecuramannya, tawa, dan kepedihannya.
Tiba-tiba, gemuruh guntur membelah langit, disusul sambaran kilat dahsyat. Dari suatu lembah, seruan perang membahana, “I Yayat U Santi!”.
Di atas bukit, jauh dari medan pertempuran itu, leluhur tua Mamarimbing sedang melantunkan syair lagu Lingkanwene, syair tentang padi, diiringi tabuhan tambur. Ia adalah seorang yang dianugerahi keahlian mengartikan suara burung.
Saat ia sedang hanyut dalam lantunan, seekor Burung Manguni hinggap di dahan. Suaranya beruntun, jeritan gelisah yang menusuk. Mamarimbing seketika terdiam. Wajahnya yang damai berubah risau.
“Cilaka! Cilaka! Buah terlarang itu… Buah terlarang itu…” seru Mamarimbing panik.
Toporundeng, salah satu yang berkumpul di sana, membuat api di dataran, bergegas mendekat. “Ada apa Mamarimbing? Ada bahaya apa?”
Dengan langkah gontai, Mamarimbing turun dari bukit, orang-orang mengikutinya dengan cemas.
“Padi… Padi baru saja menyulut pertempuran,” katanya lirih, “Tangga ke negeri khayangan telah patah.”
“Patah?” tanya orang-orang serempak, khawatir.
Burung Manguni kembali menjerit. Opo Mamarimbing mengangguk. “Ya. Patah. Tangga itu telah dipotong hingga putus oleh Teterusan Sumanti dari khayangan, atas perintah Dewi Padi Linkanwene.”
Turandang memberanikan diri bertanya, “Mengapa tangga itu dipotong Mamarimbing?”
Burung Manguni menyahut dengan jeritan. “Agar manusia bumi tak menyusup ke khayangan mencuri bibit padi.”
“Siapa yang menyusup, dan bertempur di sana, Mamarimbing?” tanya Toporundeng.
Sambil Burung Manguni menjerit menyebut nama, “Tumi’deng… Tumi’deng… Kururrr… Kururrr,” Mamarimbing menjelaskan.
“Dotu Tumideng dan pasukan Sio Kurur, melawan pasukan Linkanwene dan Sumanti dari khayangan.”
Setelah Burung Manguni menjerit lagi dengan suara yang khas seperti menyanyi, Opo Mamarimbing mengartikannya.
“Dotu kita Tumideng diusir dari Khayangan oleh Dewi Padi Linkanwene. Ia dipukul sampai terluka. Ia melawan namun pasukan khayangan yang dipimpin Sumanti terlalu kuat. Tumideng mundur ke bumi meminta bantuan Dotu Sio Kurur dan pasukan Waraney.
Peperangan dahsyat pecah di tepi hutan dekat tangga ke khayangan. Namun karena pasukan khayangan terlalu banyak, Dotu Tumideng dan Sio Kurur meminta para Waraney mundur.”
Tiba-tiba, burung itu menyela, “Sumanti memotong tanggaaaa… Sumanti memotong tanggaaaa…”
“Itu sebabnya Tetarusan Sumanti memotong tangga itu,” Opo Mamarimbing mengiyakan.
“Bencana! Ini bencana Mamarimbing! Bencana untuk kita semua,” keluh Rapar.
Keke yang cemas menimpali, “Betul itu Tua Rapar! Lantas bagaimana kita mendapatkan beras Mamarimbing? Selama ini kita hanya bergantung pada beras milik dewi Lingkanwene, yang kita tukar dengan telur burung Maleo dari negeri Malesung ini.”
Mamarimbing menatap mereka dengan teduh. “Berdoalah kepada Opo Empung. Karena hanya Opo Empung yang bisa membawa kita keluar dari masalah ini.”
Tiba-tiba, beberapa Waraney masuk menggotong seorang rekan yang terluka parah. Keke menjerit pilu setelah menyadari Waraney yang terluka itu adalah kekasihnya, Wuri.
“Wuri… apa yang terjadi. Kenapa engkau Wuri?” tangisnya tersedu.
Seorang Waraney memberikan penjelasan, “Wuri terluka dalam pertempuran bersama Dotu Tumideng. Ia maju dengan berani ke depan menghadang pasukan Khayangan.”
“Wuri telah membuktikan keberanian anak Tanah Malesung ini,” ujar tetua Mamarimbing. “Keke, jangan terlalu bersedih, kau harus bangga punya kekasih yang berjiwa satria seperti Wuri.”
“Tapi Wuri terluka sebegini parah Mamarimbing! Kasihan dia, kasihan Wuri!” Keke masih terisak.
“Dalam perang hanya ada dua hal Keke: yang kalah menjadi abu, yang menang menjadi arang,” ujar Mamarimbing bijak.
“Maka dalam hidup ini sesungguhnya, tak ada yang lebih berharga selain damai. Siapa yang menyayangi kehidupan, haruslah menyayangi perdamaian. Hal inilah yang dikehendaki Opo Empung atas manusia. Antarlah kekasihmu ke rumah Keke, carilah tabib untuknya.”
Setelah Wuri dibawa pergi, perdebatan kembali berlanjut.
“Aku tidak habis pikir, mengapa Datu Tumideng sampai pergi ke khayangan,” ujar Rapar. “Hanya karena benih padi, bumi dan langit bisa seretak ini.”
“Persoalannya, mengapa khayangan tak mau berbagi,” Turandang menyanggah. “Padahal, itu hanya segenggam benih Padi. Bukankah padi adalah benih dari tanah Tuhan yang dikaruniakan untuk kehidupan semua makhluk. Mengapa hanya khayangan yang menguasainya? Bukankah padi juga bisa tumbuh di tanah Minahasa yang terberkati ini.”
“Makanan dan harta selalu meruncingkan peperangan. Kekuasaan dan harga diri ditegakkan sebagai senjata,” Opo Mamarimbing menghela napas. “Tapi sudahlah. Bila Opo Empung berkenan, pasti ada jalan lain untuk mendapatkan bibit padi yang kita impikan.”
Sesaat kemudian, Burung Manguni kembali dan mengeluarkan suaranya.
“Apa yang dikatakan burung Manguni Makasiouw itu Mamarimbing?” tanya Toporundeng penasaran.
Wajah Opo Mamarimbing mendadak berseri. “Burung ini mengatakan, dari luka di kaki Dotu Tumideng, telah ditemukan tiga butir padi yang terselip di sana. Tiga butir padi itu telah disemai di sebidang tanah Malesung ini.”
“Moga bibit padi itu akan tumbuh dengan baik. Opo Mamarimbing!” ujar Toporundeng penuh harap.
“Jalan menuju berkat, terkadang harus ditempuh lewat perjuangan yang sulit,” tutup Mamarimbing haru. “Di ujung derita dan air mata justru kabar baik itu berada. Terima kasih Opo Empung Tuhan pengasih. Engkaulah Juru Selamat bagi bumi.”
***
Dari tiga butir benih padi yang terselip di luka Dotu Tumideng itu, ladang-ladang di Tanah Minahasa akhirnya dipenuhi padi. Padi dirayakan sebagai karunia. Lumbung-lumbung penuh.
Namun, liku sejarah terus berlanjut. Para perompak datang menjarah, dan kemudian kapal-kapal kolonial berlabuh, memerangi Minahasa karena tanah ini dipandang sebagai lumbung logistik yang penting.
Perang demi perang menghibahkan air mata dan luka di atas sejarah padi negeri Minahasa, dan mungkin suatu ketika nanti akan diterjang Minamata akibat serakah tambang. (*)
Penulis/ Editor:
Iverdixon Tinungki


Discussion about this post