Aceh, Barta1.com — Operasi pemulihan kelistrikan di Aceh pasca-bencana banjir bandang dan longsor memasuki fase percepatan kritis, didukung penuh oleh pengerahan alutsista militer.
Dalam sebuah langkah krusial, material infrastruktur vital PLN, termasuk unit-unit tower emergency, dikerahkan dari pusat menggunakan pesawat Hercules TNI Angkatan Udara (AU) dan diangkut menggunakan helikopter ke titik-titik instalasi yang terisolasi. Kolaborasi ini menyoroti peran strategis militer dalam penanganan darurat infrastruktur.
Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yang mengoordinasikan pengerahan logistik, menekankan pentingnya kecepatan dan mobilitas tinggi dalam operasi ini. Ia secara langsung mengapresiasi upaya PLN dan mendorong optimalisasi seluruh sumber daya yang ada.
“Langkah pertama adalah memperkuat mobilitas udara. Semua logistik kita konsentrasikan. Listrik harus segera hidup dalam waktu singkat. Kita akan tambah kekuatan helikopter,” ujarnya, baru-baru.
Salah satu tantangan terbesar PLN adalah mengirimkan material berukuran besar, seperti tower emergency, ke lokasi-lokasi yang akses daratnya tertutup total akibat longsor. Solusinya, unit tower emergency ini diterbangkan dari Jakarta ke Banda Aceh menggunakan Hercules TNI AU.
Di lokasi terdampak, pengiriman kemudian dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan truk TNI Angkatan Darat (AD) dan secara ekstrem menggunakan helikopter ke titik site yang hanya bisa dijangkau dari udara.
Inisiatif logistik yang didukung TNI ini bertujuan mempercepat penyambungan kembali jalur transmisi utama yang terputus. Hilangnya pasokan listrik di sejumlah daerah terdampak sangat memengaruhi layanan publik.
PLN menargetkan pemulihan cepat untuk area-area penting, sejalan dengan Sistem Kelistrikan Aceh yang harus kembali beroperasi di atas 90% dari daya mampu normalnya dalam waktu singkat untuk melayani sekitar 1,6 juta pelanggan di seluruh provinsi. Keberhasilan pengiriman material ini sangat menentukan tercapainya target tersebut.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, memberikan apresiasi mendalam atas kekompakan yang terjalin antara tim teknis PLN dengan personel TNI dan Polri di lapangan. Ia menjelaskan bagaimana personel militer dan kepolisian tidak hanya membantu pengamanan, tetapi juga terlibat aktif dalam membuka akses dan mendukung konstruksi.
“Kami harus menggunakan helikopter untuk membawa material ke lokasi. Ada helipad yang perlu dibuka, dan di sana pasukan dari TNI dan Kepolisian ikut membantu. Kekompakan ini menjadi kekuatan besar dalam percepatan pemulihan,” kata Darmawan.
Selain bantuan fisik, Darmawan juga menggarisbawahi peran Polri yang membantu memastikan kelancaran komunikasi di tengah terputusnya jaringan telekomunikasi di beberapa titik terdampak. Sinergi ini meluas ke Pemerintah Daerah dan BPBD Aceh, yang bersama-sama membantu koordinasi, evakuasi, dan distribusi logistik bagi personel PLN yang bekerja di medan sulit.
Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, juga menegaskan kolaborasi ini esensial untuk stabilisasi layanan publik. Ia menekankan bahwa pemulihan listrik merupakan prioritas nasional.
“Kebutuhan listrik ini sangat krusial. Kami bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, dan PLN terus mempercepat pemulihan untuk memastikan masyarakat terdampak dapat segera menikmati layanan listrik,” ucap Tito.
Lebih dari sekadar pemulihan infrastruktur, kolaborasi ini juga menyentuh aspek kemanusiaan. Seluruh komponen kekuatan, termasuk PLN, TNI, dan Polri, bergerak bersama mendirikan posko dan dapur umum di lokasi bencana, menunjukkan solidaritas Indonesia.
“Seluruh komponen kekuatan Indonesia bergerak bersama. Dengan semangat perjuangan kami merasakan kekompakan luar biasa. Semoga Allah SWT memudahkan segala ikhtiar ini, sehingga Aceh dapat segera pulih,” pungkas Darmawan.
Editor:
Ady Putong


Discussion about this post