Manado, Barta1.com — Butuh cara tepat untuk memberdayakan masyarakat pesisir yang ujungnya peningkatan kesejahteraan. Salah satu solusi yang bisa digunakan adalah konsep desa ekowisata. Pemberdayaan warga pesisir berbasis desa wisata telah lama diinisiasi Manengkel Solidaritas, non-government organization (NGO) lokal di Sulawesi Utara.
Manengkel yang dipimpin Sella Runtulalo beberapa tahun silam dikenal luas ketika bergiat mengembangkan konsep itu di Desa Bahoi, Minahasa Utara dan Bahowo di Kota Manado. Teamwork Manengkel menggunakan kucuran dana dari beberapa funding untuk melakukan penanaman mangrove di lokasi-lokasi desa dekat bibir pantai itu.
Namun yang menjadi tujuan akhir bukan hanya menjaga ekosistem pesisir dari abrasi dan efek pemanasan global. Lama kelamaan, padang mangrove yang tumbuh subur menarik perhatian berbagai pihak untuk dikunjungi.
Pada hari ini Bahoi dan Bahowo dikenal sebagai salah satu objek wisata konservasi di pesisir yang menerima kunjungan banyak wisatawan. Mangrove Park Bahowo bahkan bisa menyejahterakan warga sekitar. Menurut Sella, income warga mencapai nilai ratusan juta rupiah per tahun.
Tapi jalan menuju pemberdayaan warga pesisir seperti ini butuh kerja keras. Tidak serta-merta langsung menuai hasil.
“Kita butuh dukungan dan kepercayaan masyarakat, kemudian mengajak semua pihak di situ untuk peduli baik pemerintah desa hingga perusahaan-perusahaan yang ada di dekat lokasi,” kata Sella dalam seri diskusi Road To Green Press Community (GPC) 2026, Rabu (03/12/2025) di Sekretariat Manengkel, Paal 2 Manado.
Diskusi itu melibatkan sejumlah anggota Society of Environtmental Journalist (SIEJ) Sulut, sebagai pelaksana GPC 2026 di mana Manado menjadi tuan rumah event prestisius ini.
Agar prospek kesejahteraan bisa berkelanjutan, Manengkel ikut melakukan penguatan pada sumber daya desa. Lokasi kerja saat ini, di Desa Kapitu Minahasa Selatan, dengan konsep pengembangan yang sama yaitu Ekowisata, Manengkel bahkan melibatkan ratusan warga.
Mereka dilatih berbagai hal. Pengelola Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) diedukasi agar mampu melakukan tata kelola usaha hingga membuat proposal pendanaan. Puluhan warga lain diajak melakukan pembangunan fisik fasilitas yang mendukung pesisir Kapitu sebagai objek wisata.
Bawah laut Desa Kapitu lanjut Sella ternyata menyimpan pesona luar biasa sebagai spot penyelaman. Sella berani bilang panorama bawah lautnya adalah paduan antara Bunaken dan Lembeh.
“Jadi kami ajak pengusaha pariwisata dan dive club ke Kapitu untuk menunjukkan pesonanya, kami perlihatkan bagaimana masyarakat bisa bertanggung jawab dalam tata kelola dan pelestarian, sehingga stakeholders berjanji akan mempromosikan Kapitu ke wisatawan dalam dan luar negeri,” tutur Sella.
Ketua SIEJ Sulut Findamorina Muhtar mengatakan diskusi dengan Manengkel membuka berbagai ruang persepsi pada tata kelola pesisir berkelanjutan. Hal mana menurutnya sejalan dengan tema besar event Green Press Community 2025; Jurnalisme Melindungi Wilayah Pesisir & Pulau-pulau Kecil.
Giat SIEJ Sulut sejak 2014 terfokus pada bagaimana mengangkat persoalan lingkungan sebagai kebijakan dalam ruang redaksi. Ini mengingat ada semacam anggapan di kalangan jurnalis bawah isu-isu lingkungan kurang sexy.
“Alasannya isu lingkungan itu tidak profit, sehingga kita terus membangun paradigma di redaksi masing-masing bahwa pelestarian lingkungan harus punya space dalam pemberitaan karena ini krusial,” jelas Finda
Di sisi lain, membangun relasi dengan NGO lokal adalah langkah SIEJ pada keterbukaan akses informasi berbasis data yang kredibel. Jurnalis juga melihat NGO sebagai narasumber terpercaya setelah mengamati kerja-kerjanya terfokus pada hasil yang berdampak bagi masyarakat.
Selaras dengan itu, Sella menyebut NGO pada umumnya membutuhkan media sebagai sarana edukasi dan publikasi program.
“Saya kira organisasi non-pemerintah dan media saling membutuhkan, keterlibatan media pada kerja-kerja NGO di Sulut masih minim dan ini ke depan yang harus kita pikirkan bersama,” tutur Sella.
SIEJ Sulut yang belum lama ini mengalami perusahan status kepengurusan dari simpul menjadi pengurus daerah, mendapat kepercayaan dari pengurus nasional sebagai tuan rumah GPC. Setelah Manengkel, SIEJ Sulut juga akan menggelar diskusi berseri dengan berbagai pihak membicarakan beragam isu lingkungan lewat Road to GPC 2026. (*)
Peliput:
Ady Putong


Discussion about this post