• Pedoman Media Siber
  • Redaksi
Jumat, April 24, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Daerah
    • Talaud
    • Kotamobagu
    • Edukasi
    • Nasional
    • Barta Grafis
    • Prodcast
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News

Darurat Kebudayaan di Sulut, Ratusan Seniman dan Praktisi Budaya Siap Turun ke Jalan

by Ady Putong
12 Oktober 2025
in News, Seni
0
Ilustrasi. (Gambar: Barta1)

Ilustrasi. (Gambar: Barta1)

0
SHARES
160
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Manado, Barta1.com — Pekan III Oktober 2025 bakal diwarnai peristiwa seni dan budaya terbesar dalam satu dasawarsa terakhir di Sulawesi Utara. Helatannya bukan pentas atau festival, tetapi aksi demonstrasi! Ratusan praktisi seni dan budaya siap turun ke jalan, ‘menggeruduk’ Kantor Gubernur dan DPRD, menyuarakan darurat kebudayaan. Tagar #kebudayaanmemanggil pun wara-wiri di media sosial.

Para praktisi seni dan budaya se-Sulawesi Utara yang biasanya duduk tenang, berkontemplasi dan berkarya, merasa terganggu dengan kabar pengalihan lahan Taman Budaya dengan peruntukkan lain; sebagai stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU).

“Padahal Taman Budaya Sulawesi Utara adalah sarana yang disiapkan pemerintah daerah sebagai rumah bersama para seniman dan pelaku budaya, dan kini pemerintah juga yang diduga akan menggeser fungsinya menjadi SPBU, ini membuat kami terpanggil untuk turun ke jalan,” ujar Aldes Sambalao, perupa teater, koordinator aksi, pada Barta1 Sabtu (11/10/2025).

Dalam aksi yang bakal bergulir medio pekan III Oktober, ratusan demonstran membawa misi besar; menolak pengalihan lahan Taman Budaya Sulut sebagai SPBU. Aspirasi ini akan disuarakan langsung kepada Gubernur Yulius Selvanus. Pendemo juga menargetkan bisa menemui para wakil rakyat dalam forum rapat dengar pendapat di gedung DPRD.

“Para seniman Sulut gelisah, mereka telah kehilangan ruang ekspresi setelah gedung kesenian Pingkan Matindas dialihkan bukan untuk kepentingan seni, pun senasib dengan Taman Budaya yang ditelantarkan. Kini kawasan terlantar tersebut hendak diubah menjadi SPBU. Bagi para seniman, ini adalah musibah kebudayaan,” cetus Alfred Pontolondo, perupa seni lukis.

Taman Budaya Sulawesi Utara embrionya telah ada sejak akhir tahun 70-an, tergabung dengan Museum Negeri Sulawesi Utara. Namun kemudian, Taman Budaya Sulawesi Utara dibangun secara terpisah di kawasan Rike, Kecamatan Wanea Manado, di lokasinya saat ini. Prof Dr Fuad Hasan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan saat itu meresmikan Taman Budaya Sulut pada 8 Januari 1987 .

Sejak saat itu, Taman Budaya Sulawesi Utara menjadi titik penting tempat bertemunya para seniman Sulawesi Utara dari berbagai disiplin seni. Baik teater, tari, musik dan seni rupa. Eksplorasi dan eksperimentasi karya pun dilakukan. Berbagai kegiatan, baik latihan, olah seni, pagelaran dan pameran karya seni rupa terus diadakan silih berganti. Taman Budaya menjadi rumah singgah sekaligus pusat olah kreativitas para seniman.

Puncaknya terjadi di tahun 2016. Saat itu, Taman Budaya Sulawesi Utara menjadi tuan rumah penyelenggaraan Temu Taman Budaya se-Indonesia yang mempertemukan ratusan seniman dari seluruh Provinsi di Indonesia. Kegiatan yang dilaksanakan saat itu adalah pagelaran seni, pameran seni rupa, diskusi maupun wisata seni ke berbagai lokasi di daratan Sulawesi Utara.

Sayangnya, kegiatan tersebut menjadi momentum terakhir bagi eksistensi Taman Budaya Sulut. Pada tahun 2017, bersamaan dengan dibentuknya Dinas Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Utara, Taman Budaya yang semula berbentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) dengan pimpinan kantor setingkat eselon III diturunkan levelnya menjadi setingkat seksi atau eselon IV.

Dengan alasan tidak menghasilkan Pendapatan Asli Daerah (PAD), Ferry Sangian, pimpinan Dinas Kebudayaan Sulut saat itu memerintahkan seluruh staf Taman Budaya untuk pindah ke kompleks Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara di Jl. WR Supratman. Taman Budaya Sulut di Rike pun dikosongkan.

Taman Budaya Sulut yang di tahun 2016 demikian rapi terawat dan menjadi rumah para seniman, kini bak hutan, lengang berisi bangunan rusak yang ditutupi tanaman rambat.

“Para seniman pun kehilangan rumah mereka, dan yang dihadapi sekarang adalah situasi darurat yang harus diketahui masyarakat Sulawesi Utara. Seni dan Budaya adalah jatidiri yang juga bagian penting dalam peradaban sebuah bangsa,” kata seniman senior Jhon Piet Sondakh.

Dalam rentang 2017 hingga 2025, sempat beredar kabar bahwa kompleks Taman Budaya hendak dijadikan kampus sekolah tinggi pariwisata. Namun rupanya batal. Kini kabar terbaru, tempat kebanggaan para seniman Sulut itu hendak diubah menjadi SPBU.

“Saya kira ini sudah di batas puncak kesabaran dan tidak bisa ditolerir lagi! Sudah cukup kesenian Sulawesi Utara direndahkan dan dianggap sektor tidak penting. Selama ini pemerintah terkesan hanya menganak-emaskan sektor ekonomi dan tidak peduli dengan kebudayaan,” tegas Vick Baule, perupa teater.

Aksi turun ke jalan ratusan pihak yang siap menyuarakan aspirasi kebudayaan sudah didahului dengan kampanye penyelamatan Taman Budaya. Beberapa hari terakhir di akun media sosial pribadi, mereka memasang tanda pagar (tagar) kebudayaan memanggil.

“Ini ajakan untuk seluruh rakyat Sulawesi Utara agar bisa menanggapi bahwa seni dan budaya juga bagian dari kita semua, tanpa seni dan kebudayaan kita kehilangan jatidiri, tanpa keduanya manusia kembali ke masa peradaban purba,” tandas Aldes Sambalao. (**)

Peliput:
Ady Putong

Barta1.Com
Tags: Taman Budaya Sulawesi Utara
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Ilustrasi. (gambar: Pexels)

Pemusnahan Aset Budaya

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Petinggi BSG ‘Dikuliti’ Kejati Sulut Soal Dugaan Korupsi CSR, Kapan Dirut? 24 April 2026
  • Gubernur Yulius Angkat Isu Lingkungan di Paripurna, 5.000 Warga Koha Krisis Air Bersih 24 April 2026
  • PLN UP3 Gorontalo Gelar Apel Serentak, Akselerasi Layanan dan Jamin Keandalan Pasokan Listrik 24 April 2026
  • PLN UID Suluttenggo Perkuat Mitigasi dan Keandalan Listrik di Desa Siaga Bencana Kinilow 24 April 2026
  • Paripurna DPRD Sulut, Feramitha Serukan Pembangunan Talud Muntoi dan Jalan Dumoga 23 April 2026

AmsiNews

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In