Oleh: Ir. John Harahap, MT
Dosen Teknik Sipil Politeknik Negeri Manado
Beberapa tahun terakhir, Politeknik Negeri Manado (Polimdo) tidak hanya dikenal sebagai institusi vokasi unggulan di Sulawesi Utara, tetapi juga sebagai “kawasan padat harian” akibat meningkatnya jumlah kendaraan yang melintas, berhenti, dan bermukim di sekitarnya. Tiap pagi dan sore, kawasan di sekitar gerbang utama kampus berubah menjadi sumbu kemacetan. Lalu lintas tersendat, antrean kendaraan menumpuk, dan akses pejalan kaki makin terabaikan.
Di tengah keresahan ini, muncul satu wacana menarik: pembangunan jalan lingkar (ring road) lokal di sekitar kawasan kampus. Tapi sebelum gagasan ini dilabeli sebagai “obat mujarab”, mari kita tinjau secara kritis, apakah ini benar-benar solusi, atau sekadar ilusi tata ruang yang sulit diwujudkan ?.
Fenomena “Bottleneck” di Zona Pendidikan
Wilayah sekitar kampus Polimdo kini menjadi titik temu tiga aliran lalu lintas: kendaraan pribadi mahasiswa dan dosen, aktivitas angkutan umum (mikrolet dan ojek online), serta kepadatan dari pemukiman dan pertokoan di koridor akses. Kombinasi ini menghasilkan fenomena bottleneck atau penyempitan alur yang memperlambat semua jenis pergerakan.
Data survei lalu lintas yang dilakukan oleh mahasiswa Teknik Sipil Polimdo (2024) menunjukkan Volume/Capacity Ratio (V/C) di Jalan Raya Polimdo telah menyentuh angka >0.9 di jam sibuk, yang secara teknis berarti kondisi mendekati jenuh. Ini belum termasuk dampak kendaraan parkir sembarangan di bahu jalan yang kerap menghalangi arus. Dalam kondisi ini, secara teoritis, membuka jalur baru (jalan lingkar) adalah strategi yang layak untuk mengurai kepadatan. Tapi apakah betul praktiknya semudah konsepnya?.
Apa Itu Jalan Lingkar?
Secara umum, jalan lingkar (ring road) adalah infrastruktur yang dibangun mengelilingi area pusat aktivitas, dengan tujuan mengalihkan arus lalu lintas yang tidak perlu masuk ke pusat tersebut. Dalam konteks Polimdo, jalan lingkar bisa diartikan sebagai jalur alternatif yang menghubungkan titik-titik masuk dan keluar kampus dari sisi lain, tanpa harus memusat di satu gerbang utama.
Contoh sukses mini ring road terjadi di kawasan UGM (Yogyakarta) dan ITS (Surabaya), di mana jalan kampus dirancang tidak hanya untuk kendaraan, tapi juga memprioritaskan sirkulasi orang dan sepeda, serta akses layanan darurat.
Antara Wacana dan Realita
Namun sayangnya, di banyak kota, jalan lingkar lebih sering menjadi wacana ketimbang realita. Mengapa? Karena tantangannya bukan sekadar membangun jalan, tapi:
1. Ketersediaan lahan: Pembangunan jalan lingkar memerlukan ruang baru yang tidak sedikit. Di sekitar Polimdo, sebagian besar lahan telah berubah menjadi perumahan, kos-kosan, dan bangunan komersial. Proses pembebasan tanah tentu tidak mudah dan seringkali berbiaya tinggi serta menghadapi resistensi warga.
2. Sinkronisasi dengan RTRW dan RDTR: Apakah dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado telah disiapkan koridor jalan lingkar kampus? Jika tidak ada di peta zonasi, maka wacana ini hanya akan berhenti di meja diskusi.
3. Skala kebutuhan vs anggaran: Apakah pembangunan ini benar-benar urgensi jangka pendek? Apakah lebih mendesak daripada memperbaiki jalur eksisting, menambah halte, atau menata manajemen parkir?
Solusi Parsial Bisa Jadi Permulaan
Meski membangun jalan lingkar penuh mungkin terasa jauh, ada pendekatan bertahap yang bisa diambil:
* Membuka akses pintu masuk kampus dari sisi lain. Hal ini bisa mengurangi konsentrasi lalu lintas di satu titik.
* Membuat jalur satu arah kampus dengan sistem kontrol gerbang otomatis. Dengan begitu, kendaraan dosen dan pegawai bisa masuk dan keluar dari pintu berbeda, tanpa bersinggungan dengan pengunjung umum.
* Mengembangkan “Ring Road Lokal” — bukan untuk kendaraan besar, tapi untuk sepeda motor, kendaraan listrik kampus, dan kendaraan darurat — yang melewati pinggir kawasan kampus secara internal, tanpa merusak area hijau yang masih tersisa.
Mendorong angkutan kampus terintegrasi berbasis minibus rute pendek yang berputar di titik-titik strategis, untuk mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.
Kampus Butuh Visi Mobilitas, Bukan Sekadar Jalan
Kita tidak bisa terus menambah jalan untuk menyelesaikan masalah yang diciptakan oleh terlalu banyak kendaraan. Prinsip tata kota yang baik bukan sekadar “make more roads”, tapi “move more people efficiently”.
Wacana jalan lingkar seharusnya menjadi pintu masuk menuju diskusi yang lebih besar: perlu tidaknya kampus memiliki masterplan transportasi berkelanjutan. Kampus besar seperti Polimdo seharusnya punya:
* manajemen parkir berbasis tarif dan digitalisasi,
* sistem sensor lalu lintas internal,
* zona bebas kendaraan pada jam-jam tertentu,
serta jalur pedestrian yang aman dan terhubung antarblok.
Sebagaimana disampaikan oleh Sutanto & Kencana (2024), konsep Mobility-Oriented Campus Planning di kampus vokasi harus berbasis data pergerakan harian, kepadatan titik kegiatan, dan proyeksi pertumbuhan mahasiswa dan infrastruktur.
Penutup: Wacana Butuh Arah, Bukan Sekadar Gagasan
Jalan lingkar di sekitar kampus bukan ide buruk. Tapi ia hanya akan jadi solusi jika disiapkan dalam konteks rencana ruang yang integratif, terukur, dan berbasis partisipasi. Jika tidak, ia hanya akan jadi ilusi tata ruang — seperti jalan yang hanya digambar tapi tak pernah dibangun.
Polimdo adalah pusat pendidikan teknik. Sudah selayaknya kita yang ada di dalamnya — dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan — menjadi pionir dalam membentuk kawasan kampus yang fungsional, manusiawi, dan tertata. Jalan lingkar bukan sekadar beton dan aspal, ia adalah simbol dari niat kita menata masa depan mobilitas kampus yang cerdas dan berkelanjutan.
Referensi:
Pemerintah Kota Manado. (2023). Rencana Detail Tata Ruang Wilayah Kota Manado 2022–2042. Dinas PUPR Kota Manado.
Sutanto, A., & Kencana, M. (2024). Mobility-Oriented Campus Planning in Technical Education Institutions. Jurnal Perencanaan Wilayah, 18(1), 33–49. https://doi.org/10.22146/jpw.v18i1.23457
Kementerian PUPR. (2021). Permen No. 16 Tahun 2021 tentang Bangunan Gedung dan Infrastruktur Jalan. Jakarta: Dirjen Cipta Karya.
Badan Pengelola Transportasi Kota Manado. (2024). Laporan Harian Volume Kendaraan di Jalur Pendidikan dan Zona Tertib Lalu Lintas.


Discussion about this post