Sangihe, Barta1.com – Setiap pagi buta, sebelum matahari membuka hari, Brayen Hariawang sudah lebih dulu menyibak dinginnya udara pelabuhan Tahuna. Dengan tubuh yang masih dibalut kantuk, ia menanti datangnya kapal yang membawa muatan dari luar pulau. Sesekali hujan menyapa, tak jarang pula sayuran terlepas dan jatuh ke laut. Tanpa pikir panjang, ia lompat ke air gelap, mengangkat kembali beban yang tercecer. “Sudah basah, dingin pula,” katanya ringan.
Brayen, 21 tahun, adalah mahasiswa semester dua di Politeknik Negeri Nusa Utara, Kepulauan Sangihe. Di sela-sela jam kuliah, ia menyambi sebagai buruh pelabuhan. Suaranya penuh tekad dan tulus. “Kalau minder, tentu tidak. Dari kecil orang tua saya sudah biasakan untuk tidak malu bekerja. Yang penting bukan mencuri atau minta-minta,” ujarnya, Kamis (1/5/2025).
Rutinitas Brayen padat dan mepet. Kadang ia mulai bekerja pukul tiga dini hari dan baru selesai sekitar pukul tujuh atau sembilan pagi. Padahal, pukul delapan ia harus sudah berada di kampus. “Jaraknya lumayan jauh dari Tahuna ke Manganitu, jadi saya sering telat. Tapi syukurlah, beberapa dosen tahu kondisi saya dan bisa mengerti,” kata Brayen.
Bukan perkara mudah menjalani dua peran yang sama-sama menuntut tenaga dan konsentrasi. Tapi anak muda ini punya alasan kuat untuk terus bertahan. “Motivasi saya orang tua. Saya ingin membahagiakan mereka tanpa harus membuat mereka susah,” katanya. Brayen hidup jauh dari kiriman uang orang tua. Ia memilih berdikari, menghidupi sendiri biaya kuliahnya. Dari pelabuhan ke ruang kelas, ia membawa harapan, bukan keluhan. Ia belajar tentang hidup secara nyata—bahwa hidup bukan tentang kemudahan, tapi tentang daya juang.
“Saya menemukan arti kehidupan yang sebenarnya: bahwa hidup itu tidak semudah yang dibayangkan. Belajar mandiri, tidak bergantung pada orang lain,” katanya lirih.
Tak hanya tangguh, Brayen juga adalah mahasiswa berprestasi di bidang olahraga, khususnya lari jarak jauh. Di tengah rutinitas kerja dan kuliah, ia tetap mampu menunjukkan kemampuannya dalam berbagai kejuaraan. Berikut sederet prestasi yang pernah ia raih:
- Juara 1 lomba lari jarak jauh HUT PLN di Tahuna tahun 2024
- Juara 2 lomba lari jarak jauh di Sitaro dalam rangka HUT Bhayangkara 2023
- Juara 3 lomba lari jarak jauh 10 kilometer di GMIST Kendagu Ruata tahun 2024
- Juara 1 lomba lari jarak jauh 8 kilometer di Kecamatan Tamako dalam rangka 17 Agustus 2024
- Juara 3 lomba lari jarak jauh 5 kilometer di Sitaro, panitia KONI Sitaro tahun 2024
- Juara 3 lomba lari jarak jauh 10 kilometer di SLH (Sekolah Lentera Harapan) Tahuna tahun 2022
- Juara 2 lomba lari jarak jauh 10 kilometer di GMIST Maranatha Tahuna tahun 2024
- Juara 3 lomba lari jarak jauh 10 kilometer di GMIST Kendagu Ruata tahun 2022
- Juara Harapan 1 pada Kejuaraan Daerah di Tondano (3 km dan 5 km) tahun 2023
- Juara Harapan 3 pada event lari 5 kilometer di Minahasa Utara, Sukur Aermadidi tahun 2023
Di tengah kesibukannya, Brayen tetap menyimpan impian yang besar. Ia ingin menjadi lebih baik dari hari ini. Ia ingin menjadi bagian dari anak muda yang ikut membangun bangsa dan menjadi berkat bagi sesama. Tak muluk-muluk. Tapi dari tekad dan keringatnya, sudah tergambar arah yang jelas: masa depan yang diperjuangkan dengan hati.
Di pelabuhan itu, di antara aroma garam laut dan suara kapal sandar, Brayen berdiri sebagai potret anak muda Sangihe yang tak gentar basah demi cita-cita.
Penulis: Rendy Saselah


Discussion about this post