• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, Juni 10, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home News Edukasi

Rumah Hijau Harga Bersahabat: Mimpi atau Masa Depan Sulut ?

by Meikel Eki Pontolondo
8 April 2025
in Edukasi
0
Dosen Teknik Sipil Polimdo, Nixon Servius Mantiri, ST., MT. (foto: istimewa)

Dosen Teknik Sipil Polimdo, Nixon Servius Mantiri, ST., MT. (foto: istimewa)

0
SHARES
34
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Nixon Servius Mantiri, ST., MT – Dosen Teknik Sipil Polimdo

Krisis perumahan di Indonesia selama ini sering dipahami sebagai masalah kuantitas: kurangnya unit untuk dihuni. Benar — tapi ada dimensi kedua yang tak kalah penting: kualitas dan ketahanan. Di Sulawesi Utara — provinsi yang menunjukkan pertumbuhan penduduk dan urbanisasi moderat — pertanyaan yang mesti kita jawab bukan hanya “berapa banyak rumah?” tetapi “apakah rumah-rumah itu hemat energi, tahan bencana, dan terjangkau bagi masyarakat?” Jawaban modernnya: hunian ramah lingkungan yang ekonomis. Tapi apakah itu realistis untuk Sulut sekarang, atau sekadar mimpi indah aktivis lingkungan?

Saya menilai dari tiga sudut: kebijakan dan inisiatif nasional, bukti lapangan dan pilot program, serta realitas lokal Sulawesi Utara.

1. Kebijakan nasional sudah bergerak — tinggal implementasi
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah pusat memasang target ambisius: program Green and Affordable Housing (IGAHP) dan peta jalan nasional untuk pembangunan bangunan hijau. Inisiatif ini tidak hanya soal label “hijau” — mereka menghubungkan akses pembiayaan, insentif green mortgage, dan standar desain hemat energi untuk perumahan terjangkau. Program dan roadmap ini membuka peluang konkret agar hunian ramah lingkungan juga menjadi terjangkau. GBPNclimatepolicydatabase.org

Singkatnya: secara kebijakan, arah nasional sudah menguat. Pertanyaannya bergeser ke: bagaimana daerah—termasuk Sulut—memanfaatkan instrumen itu?

2. Ada bukti konsep — green affordable housing bukan sekadar retorika
Proyek pilot dan pedoman desain hemat energi yang didukung World Bank/Gap Fund serta studi tentang pembiayaan hijau menunjukkan bahwa intervensi skala kecil (retrofit, desain pasif, ventilasi silang, pemanfaatan material lokal, sistem pengumpulan air hujan) mampu memangkas biaya operasional rumah secara signifikan — sementara modal tambahan bisa ditutup lewat skema pembiayaan hijau dan bantuan subsidi. Implementasi awal menyasar ratusan unit uji coba yang menunjukkan manfaat nyata untuk rumah tahan iklim dan hemat energi. World BankCPI.

Artinya: teknologi dan model pembiayaan sudah tersedia. Masalahnya bukan “apakah bisa” tetapi “siapa membayar, siapa memimpin, dan siapa mengawal.”

3. Kondisi Sulawesi Utara: peluang sekaligus tantangan
Statistik demografis dan data rumah tangga di Sulut menunjukkan distribusi hunian yang beragam — dari kawasan padat di perkotaan hingga permukiman rural. Infrastruktur dan akses pembiayaan di perkotaan (Manado, Tomohon) relatif lebih baik, tapi untuk rumah terjangkau di pinggiran dan pedesaan, barrier utama tetap pembiayaan formal dan kapasitas kontraktor lokal menerapkan solusi hijau. Data lokal juga menandakan kebutuhan intervensi yang ditargetkan, bukan program seragam. sulut.bps.go.id+1
Ini menuntut strategi yang berbeda: paket desain modular yang murah dan adaptif, dukungan pelatihan tukang lokal, serta skema KPR/pembiayaan mikro yang mempermudah akses rumah berkualitas.

4. Strategi praktis agar “hijau” bisa murah
Berdasarkan bukti dan praktik terbaik global serta pilot program di Indonesia, beberapa langkah konkret bisa membuat hunian ramah lingkungan menjadi terjangkau di Sulut:

  • Desain pasif sederhana: orientasi bangunan untuk ventilasi dan pencahayaan alami, penggunaan kanopi dan shading, meningkatkan isolasi atap — langkah-langkah ini menurunkan kebutuhan AC dan tagihan listrik.
  • Material lokal dan ekonomi sirkular: memprioritaskan material lokal (bambu diproses, bata ringan dari limbah, panel insulasi sederhana) menekan biaya logistik dan mendongkrak ekonomi lokal.
  • Model pembiayaan hybrid: kombinasi subsidi pemerintah, green mortgage, dan kredit mikro untuk perbaikan rumah yang memungkinkan keluarga berpenghasilan rendah meningkatkan kualitas tanpa beban besar di muka. Pemerintah pusat dan lembaga donor sudah menyiapkan skema pilot yang bisa direplikasi. The World Bank DocsCPI
  • Capacity building: pelatihan tukang, developer skala kecil, dan perencana lokal agar mampu menerapkan prinsip bangunan hijau sederhana namun efektif. Tanpa kapasitas lokal, konsep akan berhenti di kertas.

5. Risiko kegagalan: politisasi biaya dan standar eksklusif
Kekhawatiran valid: istilah “hunian hijau” mudah diselewengkan menjadi label mahal yang hanya untuk kelas menengah. Kalau standar hijau ditetapkan tanpa penyesuaian biaya dan kontekstualisasi lokal, solusi akan menjadi barang mewah, bukan jawaban untuk keluarga berpenghasilan rendah. Untuk menghindari itu, standar harus modular — ada paket dasar hijau yang murah dan paket opsional tambahannya. Dan yang paling penting: subsidi serta skema pembiayaan harus diarahkan ke yang paling membutuhkan.

Penutup: realistis, bukan romantis

Jadi, apakah Rumah Hijau Harga Bersahabat itu mimpi atau masa depan Sulut? Jawaban praktisnya: keduanya, tergantung kepemimpinan dan desain policy yang kita pilih sekarang. Jika Sulawesi Utara memanfaatkan program nasional, mengadaptasi desain yang sesuai iklim tropis lokal, menggerakkan pembiayaan inovatif, dan melatih tenaga lokal — hunian ramah lingkungan yang ekonomis bukan sekadar slogan; itu bisa menjadi norma.

Kuncinya: jangan menunggu skema ideal turun dari ibu kota. Mulai dari pilot kota—Tomohon, Manado—gabungkan kampus, dinas terkait, dan sektor swasta untuk mendemonstrasikan satu atau dua model rumah hijau yang murah, nyaman, dan terukur. Bukti nyata di lokasi akan membuka jalan bagi skala lebih besar. Kalau kita bertindak cepat dan cerdas, mimpi itu bisa berubah jadi masa depan Sulut — yang lebih hijau, lebih tangguh, dan lebih adil.

Referensi (pilihaan 2023–2025)
GBPN Indonesia. (2024). Indonesia Launches National Roadmap for Green Building Implementation. GBPN
World Bank / Gap Fund. (2024). Green and Energy Efficient Design Guidelines and Pilots in Indonesia. World Bank
Climate Policy Initiative. (2024). Financing Green Buildings in Indonesian Cities. CPI
Asian Development Bank. (2023). Supporting Green and Affordable Housing Finance (Indonesia). Asian Development Bank
BPS Provinsi Sulawesi Utara. (2023). Statistik Rumah Tangga dan Data Perumahan Sulawesi Utara.

 

Barta1.Com
Tags: Dosen Teknik Sipil PolimdoMTNixon Servius MantiriRumah Hijau Harga Bersahabat: Mimpi atau Masa Depan SulutST.
ADVERTISEMENT
Meikel Eki Pontolondo

Meikel Eki Pontolondo

Jurnalis di Barta1.com

Next Post
Panitia FAC 2025. (foto: istimewa)

First Aid Competition Bagi Palang Merah Tingkat Pelajar Hadir di Sulut

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Polres Bitung Sidak Antrian BBM Subsidi di Girian dan Manembo-Nembo 9 Juni 2026
  • Wali Kota Bitung Panen Jagung Bersama Kelompok Tani Sehati di Tanjung Merah 9 Juni 2026
  • Pemkab Sangihe Tetapkan Status Tanggap Darurat 14 Hari Pasca Gempa M 7,7  9 Juni 2026
  • Bupati Sangihe Bertolak ke Marore Rabu Malam, Prioritaskan Sembako untuk Korban Gempa M 7,7 9 Juni 2026
  • Nobar Menolak Punah di area Kampus Polimdo, Tansa – Tarantula – Coffe HitamKribo Bahas Dampak Fast Fashion terhadap Lingkungan 9 Juni 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In