Manado, Barta1.com – Pegunungan akhir-akhir ini menjadi tempat yang paling banyak dikunjungi oleh para wisatawan lokal maupun mancanegara. Salah satunya adalah, Gunung Abang.
Gunung yang memiliki ketinggian 2.151 mdpl ini terletak di Kabupaten Bangli, Kecamatan Kintamani, Pulau Bali, Indonesia. Tepatnya, juga di sisi danau Batur.
Ketinggian Gunung ini dikategorikan diposisi ketiga, setelah Gunung Agung dan Gunung Batur, yang tracknya (medannya) mudah dilalui oleh kebanyakan pendaki, karena banyak papan petunjuk yang dibuat oleh para pengelola.
Hal itu juga dibenarkan oleh Cindy Lestari Pangajow. Menurutnya, perjalanan menuju puncak Gunung Abang terbilang mudah, hanya memakan waktu 2 sampai 3 jam saja.
“Salah satu pengunungan yang sudah tidak aktif ini hanya memiliki 2 pos. Dan untuk memulai perjalanannya, setiap pendaki pastinya melalui Desa Suter, kemudian akan melewati Museum Geopark Batur, ketika mengambil belokan kanan akan melewati hutan dengan jalan yang cukup sempit dan menantang,” ungkap Cindy kepada Barta1.com, Senin (7/04/2025).
Bahkan, kata mahasiswi Politeknik Negeri Manado (Polimdo), itu bahwa tracknya ada yang landai, naik, namun saat memasuki Pos 1 dan 2 dipenuhi dengan debu yang berakibat pada jalan yang licin hingga mendorong setiap pendaki harus safety.
“Saat melewati setiap track yang telah dibahas ini, setiap pendaki juga akan melihat berbagai kekayaan flora, seperti hutan lumut dan pinus yang terlihat begitu cantik, apalagi saat berada di area batu dinding. Sedangkan fauna, kurang dilihat, mungkin belum bertepatan saja,” jelasnya.
Apalagi di setiap pos, lanjut perempuan berparas cantik ini, ada Pura-nya yang mungkin digunakan oleh masyarakat Hindu untuk beribadah. “Hal ini mengingatkan kita semua untuk saling menghargai, menghormati kepercayaan orang lain, ikut menjaga, dan jangan pernah merusak.”
“Apalagi ketika sampai di puncaknya, setiap kita akan melihat pemandangan yang begitu indah, seperti melihat keindahan danau Batur, gunung Batur dan Kalderanya yang mendorong hati untuk kembali lagi. Begitupun dengan sunrise-nya yang sangat memanjakan mata, sekaligus dapat melihat jalur bukit terunyan,” ucap anak kedua dari dua bersaudara ini.
Perempuan kelahiran Kasuratan, 28 Maret 2004, itu menambahkan selain keindahan dan kekayaan alam yang bisa dilihat, ia juga diberikan keuntungan untuk mendapatkan pengalaman yang baru tentang dunia pendakian, yang di mana harus memperhatikan fisik, perlengkapan, logistik, dan pengetahuan.
“Kenapa pengetahuan itu penting, karena mungkin ada hal yang bisa kita dapatkan saat mengunjungi setiap daerah, misalnya di Gunung Abang ada hal yang tidak bisa dilakukan, yaitu dilarang untuk melanggar norma kesopanan, dilarang merusak flora dan fauna , dilarang membuang sampah sembarangan, mengingat ini salah satu Gunung yang disucikan di Bali. Sama halnya, ketika ingin dihargai orang, sebaliknya juga harus melakukan hal yang sama di mana pun kita berada,” kata Cindy sambil tersenyum.
Selain Gunung Abang, Cindy juga sudah melakukan pendakian sejak tahun 2019 dan beberapa Gunung yang sudah didaki, di antaranya Gunung Klabat, Ambang, Lokon, Tampusu, dan Batur.
“Namun, dalam setiap melakukan aktivitas pendakian, selalu yang diperhatikan soal kesiapan, selain fisik, perlengkapan, logis, pengetahuan. Dan tentunya, hal terpenting lainnya melihat kondisi cuaca, kalau musim hujan tentunya membawa ponco, kemudian melihat lokasi yang aman untuk didirikan tenda. Ketika cuaca sangat extreme, lebih baik jangan lanjutkan perjalanan, guna mengutamakan keselamatan,” tambahnya sembari mengungkapkan di mana Bumi dipijak, di situ langit dijunjung. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post