Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen pada Minggu, 10 Maret 2024 diberi judul: Yesus Menceriterakan Kematian-Nya sesuai bacaan Matius 26:1-2.
Tak ada satupun manusia di dunia tahu kapan ajalnya tiba. Tak ada satupun manusia yang tahu apa yang akan terjadi dalam hidupnya besok atau di masa yang akan datang. Satu-satunya Manusia yang tahu kapan Dia meninggal dan dengan cara apa serta di mana Dia akan mati, hanyalah Yesus Kristus saja. Selain Yesus, tidak ada satupun manusia yang tahu.
Satu-satunya yang diketahui oleh manusia tentang hari depan dan kematiannya adalah bahwa suatu saat dia pasti akan mati atau meninggal. Tentang apa yang akan terjadi hari esok atau di masa yang akan datang, tak ada satupun yang diketahui manusia. Semuanya tergantung waktu Tuhan atau Kairos Allah. Yesus adalah Tuhan, jadi Dia tahu semuanya. Dia adalah pencipta dan pemilik kehidupan umat manusia. Tetapi, ketika Dia menjadi manusia untuk menebus dosa umat-Nya, malah murid-Nya mengkhianati, umat-Nya menolak dan menghina, menyiksa menyalibkan dan membunuh-Nya.
Yesus tahu bahwa Dia akan mati disalib. Kita bayangkan, sebelum meninggal Dia sudah tahu. Bahkan jauh sebelumnya, Dia sudah tahu kapan waktunya akan mati, dengan cara bagaimana Dia mati dan di mana Dia akan mati. Yakni Dia akan ditangkap dan disalib sebelum hari raya Paskah, dengan cara mati tersiksa tersalib di bukit Golgota. Kematian-Nya itu sudah diketahui ratusan tahun sebelumnya. Karena Dia tahu kedegilan hati manusia terutama umat Israel yang selalu menolak kebaikan Allah.
Dia hari sebelum Dia akan ditangkap dan dibunuh, Yesus ulangi lagi hal itu. Bahwa sudah pasti Dia akan disalib oleh orang-orang berdosa yang dimotori dan diotaki oleh para ahli Taurat, imam-imam kepala dan tua-tua Yahudi. Yesus berkata, pada saat itu, Dia sebagai Anak Manusia akan diserahkan untuk disiksa dan disalibkan.
Kita bisa bayangkan bagaimana perasaan Yesus yang masih hidup dan sedang menantikan detik-detik kematian-Nya. Dia mati bukan karena sakit, bukan karena kecelakaan. Tapi ada pembunuhan terencana yang sangat sadis yang sudah Dia ketahui jauh sebelumnya. Dan kini, detik-detik kematian oleh tindakan kriminal yang brutal dan tidak berprikemanusiaan itu sudah di ambang pintu. Kematian-Nya sudah di depan mata. Betapa sedihnya hati Yesus. Apalagi Dia akan dibunuh tanpa salah, tanpa dosa. Karena Dia amat sangat baik dan amat sangat mengasihi semua manusia, termasuk mereka yang iri dan dengki bahkan yang mau membunuh tubuh-Nya itu.
Terbayangkah kepada kita betapa keji penyiksaan itu. Betapa sadianya pembunuhan itu. Orang Benar dihukum mati tersiksa. Sungguh sangat menyayat hati. Tapi itulah realita yang harus Yesus jalani. Peristiwa itu bukan lagi akan terjadi, tapi sudah nyata terjadi 2.000 tahun silam. Yesus akhirnya mati tersiksa di atas Kayu Salib. Mari kita ikut merasakan proses pembunuhan perlahan-lahan dalam keadaan sadar. Yesus ditikam, dicambuk, dipaku, dan tergelantung hidup tersiksa hingga mati sangat tragis dan sadis. Membayangkannya saja sudah mengerikan, apalagi Yesus yang mengalaminya langsung.
Betapa perihnya hati Yesus menyampaikan itu kepada murid-murid-Nya bahwa Dia akan segera mati sesadis dan setragis itu. Ironinya lagi, murid kepercayaan-Nya yang mengkhianati dengan menyerahkan Dia kepada orang-orang berdosa. Itu Yesus sampaikan kepada mereka untuk kesekian kalinya. Dan pada kali keempat Dia mengungkapkan itu kepada para murid Yesus lakukan usai Dia mengajar tentang banyak hal kepada orang banyak dan juga murid-murid-Nya.
Itulah kematian yang paling mengerikan sepanjang sejarah umat manusia, karena Yesus diperlakukan seperti (maaf) hewan yang hendak dibawa ke tempat pembantaian untuk disembelih, dan sudah tak berdaya lagi selain pasrah penuh kepada pembantai yang sudah dikuasai iblis.
Demikian firman Tuhan hari ini: Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya: “Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan, (ay 1-2).
Sungguh Yesus menjalani proses hidup yang penuh kesengsaraan. Yesus tanpa dosa, suci dan bersih. Hidupnya penuh cinta kasih. Dia melakukan segalanya untuk manusia, supaya kita selamat dan beroleh hidup kekal. Demi kita, Dia rela menjalani semuanya dengan hati yang tulus dan suci, tanpa syarat.
Yesus menceritakan kematian-Nya karena kita dan untuk kita. Sangat besar pengorbanan-Nya. Jangan khianati Dia lagi. Bertobat dan berilah diri didamaikan dengan-Nya. Resapi sengsara Kristus. Hayatilah dan rasakan bagaimana Dia relakan segenap hidup-Nya demi cinta dan kasih-Nya yang sempurna untuk kita. Renungkn semuanya itu. Introspeksi dan datanglah pada-Nya. Lakukan kehendak-Nya, kita pasti selamat dan bahagia kekal bersama-Nya. Amin
Doa: Tuhan Yesus, ajar kami menghayati kesengsaraan-Mu dengan terus sedia pikul Salib dan senangkan hati Tuhan. Berkatilah kami selalu, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post