Manado, Barta1.com – Renungan Kristen hari ini Minggu, 25 Februari 2024 berjudul: Bukan Pejabat, Tapi Hamba dengan bacaan Alkitab Markus 8:31-32.
Markus adalah kitab Injil tertua. Ditulis oleh rasul Markus sekitar tahun 56 M. Itu artinya, bangsa Israel masih berada di bawah pemerintahan Kekaisaran Romawi. Tepatnya lagi, Kaisar Nero sebagai pemimpin tertinggi pemerintahan ketika itu. Kaisar Nero (37-68 M), terkenal bengis, jahat dan sangat anti orang Kristen. Kehidupan orang Kristen terancam, tertindas, diintimidasi bahkan dikejar-kejar untuk dibunuh. Banyak para penginjil yang mati sahid demi Injil. Termasuk para rasul, antara lain Petrus yang dihukum mati dan disalib terbalik dengan kepala di bawah. Orang Kristen dituduh membakar kota Roma, sehingga kehidupan Kekristenan dilarang. Bahkan, banyak orang Kristen yang disiram Ter kemudian dibakar dan dijadikan obor hidup. Sungguh sangat memprihatinkan.
Karena itu, ketika lahir Yesus Sang Mesias, orang Israel merasa lega. Karena mereka Mesias atau Juruselamat yang akan datang yakni Yesus Kristus itu, dalam gambaran dan harapan mereka akan menjadi seperti Daud ataupun Musa, yakni sebagai raja yang akan membebaskan mereka dari penindasan bangsa-bangsa. Yesus diharapkan menjadi pahlawan perang, pemimpin politik atau pejabat negara, sebagai raja yang akan memimpin sebagai bangsa sekaligus memimpin mereka berperang melawan bangsa yang menganiaya dan menjajah mereka.
Termasuk Petrus dan sejumlah murid-murid Yesus yang lain juga begitu. Mereka pun berharap kelak bahwa ketika Yesus menjadi raja atas Israel, mereka turut menjadi penguasa atau pejabat pemerintahan atau pemimpin politik di lingkungan pemerintahan Israel bersama Yesus Kristus. Karena memang mereka sudah ratusan tahun memiliki raja dan kerajaan mereka sudah hancur akibat pelanggaran mereka. Hidup mereka juga relatif terlunta-lunta.
Itulah sebabnya, ketika Yesus lahir, ada harapan baru bagi masa depan bangsa sesuai harapan mereka itu. Namun, ternyata kehadiran Yesus tidak seperti yang mereka inginkan. Karena Yesus datang bukan untuk dilayani, tetapi melayani. Yesus datang bukan menjadi raja atau pemimpin atau pejabat negara (Israel), tapi sebagai hamba. Dan dalam kehambaan-Nya itu, Dia akan menderita sengsara. Tersiksa, dihina, difitnah hingga mati tersalib dengan keji. Itulah yang Yesus sampaikan kepada para murid-Nya dalam pemberitahuan awal tentang penderitaan dan kesengsaraan-Nya. Bahwa Dia sebagai Anak Manusia harus menanggung segala kesengsaraan dan penderitaan demi menebus dosa manusia.
Ketika Yesus sedang mengajar, Dia mulai menjelaskan kepada murid-murid-Nya, bahwa Dia akan menanggung banyak penderitaan dan kesengsaraan. Para ahli-ahli Taurat, tua-tua Yahudi dan imam-imam kepala akan menolak bahkan menentang dan menjerat Dia. Mereka akan menangkap dan membunuh Yesus. Namun kemudian Yesus menambahkan dan menguatkan mereka bahwa meski Dia akan mati terbunuh dalam penderitaan-Nya itu, Dia akan bangkit pada hari yang ketiga. Yesus berkata jujur tentang keberadaan-Nya itu, karena memang sudah saatnya bagi Dia mempersiapkan para murid-Nya menerima kenyataan tentang beban amat sangat berat yang akan Dia tanggung dan pikul. Karena untuk itulah Dia datang ke dunia.
Mendengar hal itu, Petrus langsung protes. Dia langsung menegur Yesus. Hal ini mau menunjukkan bahwa Petrus tidak bisa menerima kenyataan itu. Bahwa bagi Dia, Yesus akan menjadi pahlawan mereka. Yesus akan menjadi pemimpin besar bagi bangsa Israel. Apalagi Israel ketika itu belum stabil pemerintahannya. Dia dan teman-temannya tahu dan percaya serta berharap hal itu tidak boleh terjadi. Yesuslah yang akan memimpin mereka sebagai bangsa untuk membawa bangsa menjadi lebih baik. Mereka tidak menerima pernyataan Yesus itu.
Petrus dan tentu murid-murid yang lain berharap bahwasanya Yesus menjadi pemimpin politik bagi bangsanya. Tapi tidak! Yesus melaksanakan misi Allah yang agung. Dia datang menjadi tebusan. Dia menanggung dosa umat manusia. Dia menjadi pemimpin bukan hanya pemimpin dunia tapi pemimpin segala zaman, dari kekal sampai kekal. Dia adalah pemimpin dari awal yang tiada akhirnya.
Namun, Dia harus datang untuk menyelamatkan manusia, agar kita tidak binasa dan menderita kekal, tetapi beroleh keselamatan. Demi kita, Dia yang amat sangat maha besar, amat sangat maha kuasa, pencipta dan pemilik kehidupan, rela menjadi rendah, sebagai manusia, menderita sengsara dan mati mengenaskan di Kayu Salib. Itu semuanya, demi kasih-Nya akan kita, akan isi dunia. Dia rela menjadi hamba yang menderita. Tetapi, Dia bangkit dan menang, sesuai dengan kebesaran-Nya sebagai Tuhan. Yah, Yesus menderita untuk kita. Bukan seperti yang dipikirkan oleh Petrus bahkan umat Israel.
Demikian firman Tuhan hari ini: Kemudian mulailah Yesus mengajarkan kepada mereka, bahwa Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari. Hal ini dikatakan-Nya dengan terus terang. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, (ay 31-32).
Yesus yang amat sangat maha besar dan maha agung, rela menjadi hamba. Dia tidak mempertahankan keagungan dan kemahakuasaan-Nya sebagai Tuhan. Dia rela meninggalkan sorga, hanya demi kita yang berdosa. Dia tidak memilih kemuliaan, kehormatan dan kemewahan dunia dengan menjadi pemimpin dunia. Tapi Dia menjadi hamba yang hina. Semua karena cinta dan kasih-Nya yang sempurna, tak terbatas dan tiada akhir untuk kita.
Sebagai anak Tuhan, marilah kita menghayati kesengsaraan Kristus. Janganlah menyengsarakan Yesus lagi dengan berbuat dosa. Tapi, pikullah salib. Sedialah menderita demi Injil. Lakukan segala perintah-Nya dengan hidup setia dan taat pada-Nya. Pasti kita dikasihi dan diberkati-Nya secara heran, dahsyat dan luar biasa, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post