Manado, Barta1.com – Dalam renungan Kristen hari ini Jumat 26 Januari 2024 diberi judul: Maju Tak Gentar Membela yang Benar. Renungan ini sesuai dengan bacaan Alkitab Kisah Para Rasul 25:11.
Sikap Preskius Festus sebagai wali negeri yang relatif memberi ruang kepada imam-imam kepala, tua-tua Yahudi dan ahli-ahli Taurat untuk menggiring rasul Paulus disidangkan lagi di Yerusalem, membuat Paulus tegas menyatakan sikapnya tentang keadilan dan kebenaran dalam penegakan hukum, terkait kasus yang dituduhkan kepadanya. Paulus tidak mau Festus berkompromi dengan rencana jahat dan tuntutan atau dakwaan palsu karena tidak mendasar dari para pemuka agama itu.
Paulus menyatakan bahwa Festus sebagai hakim tunggal dalam persidangan itu haruslah tegas dan jangan bimbang dan atau ragu apalagi takut dengan siapapun dalam mengambil keputusan. Kebenaran harus ditegakkan, keadilan harus dijunjung tinggi. Tidak boleh mengambil keputusan di bawah tekanan atau karena takut dengan siapapun. Harus obyektif dan berdasarkan fakta persidangan yang ada, yakni sesuai dengan pembuktian atas tuduhan atau gugatan kepadanya. Sehingga, proses persidangan berlangsung dengan baik dan benar, tidak diskriminatif dan subyektif.
Paulus menantang sekaligus meminta Festus dan juga para pendakwanya melakukan proses peradilan terhadap dirinya sesuai dengan prinsip persidangan yang berlaku. Yakni bahwa para penggugat harus membuktikan tuduhannya kepada Paulus, sehingga dapat diketahui atau diperoleh fakta dan kebenaran yang sejati dalam persidangan itu. Menurut Paulus, dia tidak takut dan tidak keberatan dengan apapun keputusan kepadanya, asal itu dilakukan secara obyektif dan adil.
Bagi Paulus, jika dia terbukti bersalah berdasarkan pembuktian yang diungkapkan oleh para imam kepala, tua-tua Yahudi, ahli Taurat dalam persidangan yang setimpal dengan hukuman mati, dia siap menerima dengan hati terbuka tanpa syarat. Paulus rela mati kalau memang dia terbukti melakukan kejahatan sesuai dengan tuntutan mereka. Jika semua tuduhan itu terbukti benar, dan memang dia terbukti bersalah, maka dia merelakan dirinya dihukum mati, sesuai tuntutan mereka. Paulus tidak takut dengan semuanya itu. Dia tahu apa yang dia perbuat, maka dia menantang agar para pendakwa atau penggugatnya silahkan mengajukan bukti secara fisik atau dalam bentuk yang lain.
Akan tetapi, jika mereka tidak mampu membuktikan tuntutan atau gugatan mereka kepada Paulus, mereka juga harus mengakui kesalahannya dan Festus harus membebaskan dia dari tuntutan itu. Dengan demikian, tidak ada seorangpun yang berhak menyerahkan dirinya sebagai anugerah kepada para penggugat. Karena hal itu bertentangan dengan prinsip keadilan dan penegakkan hukum yang adil dan benar.
Paulus sengaja menyampaikan itu karena dia tahu bahwa mereka tidak dapat membuktikan bahwa dia bersalah seperti yang mereka tuduhkan. Selain itu, Paulus menyuarakan suara kenabian sekaligus kritik itu kepada Festus sebagai pemimpin yang akan mengambil keputusan dalam persidangan itu agar tidak memihak pada ketidakadilan. Dia harus menegakkan keadilan dan mengambil keputusan berdasarkan kebenaran yang sesungguhnya. Bukan karena tekanan.
Meski dia seorang diri, tapi tidak membuat Paulus gentar menghadapi hadangan musuh yang jumlahnya banyak bahkan juga pemimpin umat. Paulus tahu bahwa apa yang dia perjuangkan adalah menegakkan kebenaran dan keadilan. Maka dia tidak mundur, sekalipun berhadapan dengan tua-tua Yahudi dan imam-imam kepala yang adalah tokoh masyarakat dan tokoh agama. Bagi dia membela kebenaran adalah mutlak dan menegakkan keadilan merupakan keharusan. Dia tak pernah gentar meski sendirian berjuang membela pelayanannya yang juga menjamin kehidupan orang banyak. Dia berani menantang maut dan siap mati demi memenangkan kebenaran. Sebab dia yakin, kebenaran akan keluar sebagai pemenang dalam segala hal, termasuk dalam peradilan dirinya.
Demikian firman Tuhan hari ini: “Jadi, jika aku benar-benar bersalah dan berbuat sesuatu kejahatan yang setimpal dengan hukuman mati, aku rela mati, tetapi, jika apa yang mereka tuduhkan itu terhadap aku ternyata tidak benar, tidak ada seorang pun yang berhak menyerahkan aku sebagai suatu anugerah kepada mereka. Aku naik banding kepada Kaisar!, (ay 11).
Berani membela kebenaran dan keadilan, haruslah menjadi prinsip hidup kita. Jangan menyerah, pasrah apalagi kompromi dengan yang jahat. Tolak segala kejahatan dan segala ketidakbenaran dalam bentuk apapun.
Jangan takut melakukan kebenaran, sekalipun kita sendirian. Tolaklah yang jahat. Hiduplah sesuai firman, taatilah hukum dan lakukanlah kehendak Tuhan tanpa takut dan gentar. Dialah Pembela dan Penolong kita. Jika kita hidup baik, benar, adil dan terus setia dan taat kepada Kristus, pasti kita akan menjadi pemenang dalam segala perkara, seperti Paulus, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post