Manado, Barta1.com – Renungan Kristen hari ini Kristen 9 Januari 2024 dengan judul Merasa Paling Benar dan Sombong Rohani. Renungan Kristen hari ini diambil dari bacaan Alkitab dalam Filipi 3:4-6.
Dalam kehidupan beriman jemaat Filipi yang sudah dewasa oleh penginjilan Paulus, terdapat banyak orang terutama dari kalangan Yahudi yang iri, sirik dan dengki. Mereka menganggap ajaran rasul Paulus sesat, dan merekalah yang benar. Artinya kalau berbicara soal rohani, termasuk soal keselamatan, kehidupan rohani dan beriman merekalah yang benar, sedangkan Paulus salah atau sesat.
Orang-orang itu merasa dirinya paling benar dalam kehidupan rohani, sehingga mereka jadi sombong rohani. Mengapa? Karena mereka mengukur keberimanan dan kerohanian mereka secara lahiriah atau secara fisik dengan melakukan atau menaati semua ajaran yang ada dalam hukum Taurat.
Karena itu mereka menyerang Paulus dengan mengatakan bahwa dia sesat karena tidak mematuhi hukum Taurat. Paulus dengan tegas menjawab mereka bahwa apa yang mereka lakukan itu justeru penyesatan kepada orang percaya. Sebab, jika memakai ukuran melakukan hukum Taurat sebagai standar kerohanian atau keberimanan, mereka sesungguhnya tidak sebanding dengan Paulus.
Sebab, secara fisik dan pribadi Paulus, dia adalah pelaku hukum Taurat yang setia dan sempurna. Dia sangat memenuhi syarat bahkan melebihi mereka. Karena secara hukum Taurat, dia disunat pada hari ke delapan, sesuai titah hukum Taurat. Dia keturunan bangsa Israel sejati, dari suku Benyamin, dan orang Ibrani asli, bahkan dari kalangan Farisi yang sudah pasti sangat taat dan fanatik dengan hukum Taurat. Soal kegiatan, dia telah menganiaya bahkan turut serta dalam membunuh jemaat. Dan tentang kebenaran dalam menaati hukum Taurat, dia tidak bercacat.
Hal ini dibuktikan ketika dia pergi ke Damsyik dengan maksud menangkap dan menganiaya para pengikut Kristus. Dia membawa surat kuasa dari para imam. Namun ketika itulah dia ditangkap oleh Yesus. Di tengah jalan ia bertemu Yesus, dia menjadi buta selama 3 hari dia tidak makan, hingga datanglah utusan Tuhan yakni Ananias yang menjamah matanya hingga bisa melihat lagi dan kemudian dia bertobat dan menjadi percaya kepada Yesus yang lahir, mati dan bangkit. Bahwa Dialah Juruselamat dunia. Hanya oleh kasih karunia-Nya kita diampuni, diberkati dan diselamatkan.
Tentang hal lahiriah dalam mengikuti ketentuan hukum Taurat itu, Paulus tidak menjadi sombong. Sebab ternyata apa yang dia andalkan dan anggap benar itu, salah. Sehingga segala kesombongan rohaninya itu ditinggalkannya. Hidupnya berubah. Dia percaya kepada Yesus, sebab Dialah sumber keselamatan, kehidupan dan segalanya. Dia bertobat dan memberitakan tentang Injil Kristus sebagai Sang Kebenaran dan Hidup yang sejati.
Paulus tidak merasa diri benar. Apalagi menjadi sombong dan kemudian merendahkan orang lain. Tetapi Paulus tegas menyampaikan kebenaran yang sebenarnya hanya ada dalam Yesus. Karena hukum Taurat itu tidak menyelamatkan. Justeru banyak orang Yahudi yang menaati hukum Taurat dengan melanggarnya. Artinya di satu sisi mengikuti Taurat, tapi pada sisi lain tidak melakukan kebaikan. Hatinya busuk dan penuh tipu muslihat. Jadi ketaatan mereka pada hukum Taurat penuh dengan kemunafikan.
Demikian firman Tuhan hari ini: Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi: disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi, tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat, (ay 4b-6).
Merasa diri paling benar dan menganggap orang lain salah, jelek dan rendahan, terkadang menguasai hidup kita. Di satu sisi kita hidup baik dan benar, tapi pada sisi lain kita suka menghakimi, menghukum, menghina, memfitnah dan menyerang orang lain. Kita menjadi sombong rohani karena merasa diri paling benar.
Ingatlah bahwa bukan hak kita menghakimi, merendahkan dan memfitnah orang lain. Sejelek dan sejahat apapun orang itu dalam pandangan kita, janganlah kita rendahkan dan hina. Jangan merasa diri paling benar dan menjadi sombong rohani. Justeru itu jahat di mata Tuhan. Itu munafik, sama seperti ahli Taurat dan para penyesat yang jahat.
Sebaliknya. Sejahat, serendah, sejelek apapun saudara kita, kasihilah. Ampunilah jika dia banyak dosa dan kesalahan. Pesan Yesus, musuh sekalipun harus kita kasihi, apalagi orang di sekitar kita. Kasihilah sesama tanpa merendahkan, milikilah hati sebagai hamba yang rendah hati dan tulus hati. Teruslah jaga hati dalam kesetiaan kepada Kristus, amin.
Penulis : Agustinus Hari
Sumber : RHK GMIM


Discussion about this post