Sangihe, Barta1.com – Sejumlah seniman, pegawai negeri sipil, dan pejabat eselon II, termasuk Asisten 1 Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe, berkumpul untuk merayakan ulang tahun seorang sastrawan besar dan pejuang kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sangihe, yaitu Jan Engelbert Tatengkeng.
Acara perayaan tersebut tidak hanya dihadiri oleh seniman, tetapi juga para pegawai negeri sipil dan pejabat eselon II, termasuk Asisten 1 Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe, yang turut serta dalam membaca puisi karya J.E. Tatengkeng, pada Kamis, (19/10/2023).
Perayaan hari lahir Tatengkeng diselenggarakan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti musikalisasi puisi, baca puisi hingga diskusi mengenai proses kreatif penulisan karya, yang melibatkan kehadiran novelis Ninik Karalo dan penulis sejarah, Jupiter Makasangkil.
Ketua tim produksi perayaan, Ronny Serang, menjelaskan bahwa tema perayaan ini adalah “Rindu Dendam” dan bertujuan untuk merayakan karya dan warisan intelektual J.E. Tatengkeng.
“Tatengkeng dengan karya-karyanya telah membawa nama daerah ini ke kancah nasional. Bahkan namanya sejajar dengan tokoh-tokoh sastra nasional bangsa ini di zamannya, oleh sepinya perayaan dan pengenalan akan tokoh sejarah ini maka giat ini kita beri tema “Rindu Dendam” yang tak lain juga adalah judul kumpulan puisi J.E. Tatengkeng,” kata Ronny.
Menurut Ronny, penting bagi generasi muda untuk mengenal dan menghargai J.E. Tatengkeng, yang bukan hanya seorang sastrawan, tetapi juga seorang pejuang kemerdekaan Indonesia.
“Dia adalah pejuang kemerdekaan, bahkan pernah menempati posisi yang amat penting di waktu Negara Indonesia Timur (NIT) terbentuk, yaitu menjabat sebagai perdana menteri sekaligus sebagai menteri pengajaran. Jadi hendaklah generasi muda kita mengenal J.E. Tatengkeng,” ungkap Serang.
Johanis Pilat, Asisten 1 Pemerintahan Kabupaten Kepulauan Sangihe, memberikan apresiasi atas upaya yang dilakukan oleh anak-anak muda dalam menyelenggarakan acara ini. Menurutnya, setiap generasi harus mengenal dan menghargai karya perjuangan para pendahulunya.
“Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai perjuangan pahlawannya. J.E. Tatengkeng adalah inspirasi bagi kita. Produktivitas karyanya, intelektualitasnya, bahkan semangat perjuangannya di zaman revolusi fisik memerdekakan bangsa Indonesia,” kata Pilat.
Pilat juga berharap bahwa kegiatan ini, yang sebelumnya telah dia gagas, dapat menjadi sebuah agenda tahunan yang memiliki dampak luas dan dapat membantu orang-orang lebih mengenal siapa sebenarnya J.E. Tatengkeng.
“Kita berharap ini menjadi agenda tahunan dari teman-teman, supaya generasi muda kita lebih dalam lagi mengenal ketokohan J.E. Tatengkeng di panggung nasional,” kata Pilat.
Kegiatan yang dilaksanakan di Cafe SELO Pesasombangeng ini mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak yang ikut berpartisipasi menyukseskan kegiatan ini.
Jan Engelbert Tatengkeng, yang lahir di Kolongan Sangihe pada tanggal 19 Oktober 1907, dikenal sebagai seorang penulis esai, puisi, dan karya drama yang berpengaruh. Selain sebagai seorang penyair, J.E. Tatengkeng juga merupakan seorang tokoh pendidikan dan negarawan.
Ia pernah menjadi guru bahasa Indonesia di Tahuna pada tahun 1932, Kepala Schakelschool di Pulau Siau, Kepala Sekolah HIS di Tahuna, Menteri Muda Urusan Pengajaran pada tahun 1948, dan terakhir Kepala Jawatan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan Kemendikbud perwakilan Sulawesi pada tahun 1951. Di Makassar, ia turut mengajar dan membidani lahirnya Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.
Sebagai seorang negarawan, J.E. Tatengkeng pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Negara Indonesia Timur dalam rentang tahun 1949-1950. Perayaan ini adalah wujud penghormatan kepada warisan intelektual dan perjuangan besar J.E. Tatengkeng yang telah memberikan kontribusi berharga bagi bangsa Indonesia.
Peliput: Rendy Saselah


Discussion about this post