Manado, Barta1.com – Dilahirkan di tengah-tengah warga mayoritas berprofesi petani, dimana kekayaan geologi alamnya yang sangat subur. Itu yang membuat Fabiola Tirsa Kansil terdorong ikut bersama kedua orang tuanya memanfaatkan kesuburan alam tersebut.
Ladang pertanian yang luas, menjadi hal yang biasa bagi anak-anak di Desa Guaan, Kecamatan Mooat, Bolaang Mongondow Timur, Sulut, untuk bertani sedari kecil hingga mereka dewasa bersama kedua orang tuanya, termasuk Tirsa sapaan akrab bagi rekan-rekannya itu.
“Saya ingat sewaktu kanak-kanak, ketika musim cengkeh, saya dan teman-teman sebaya memenuhi kawasan kebun cengkeh milik bapak Max dan Joni. Di kebun itu, kami memungut satu per satu buah cengkeh yang jatuh ke tanah, dan saat itu cengkeh dihargai 5 ribu per liter untuk kualitas mentah, dan kami menjualnya setelah terkumpul,” ungkap Tirsa sembari menyebut hasil jualan cengkeh dibuat jajan sehari-hari maupun di sekolah.
Ia menambahkan, kebiasaan buruh tani adalah bekerja atau mengelola hasil dari perkebunan, dan hal itulah yang mengakar bagi dirinya, kakak dan adiknya. “Untuk mengisi waktu libur sekolah, kami terbiasa memanfaatkannya ke kebun bersama ibu dan bapak,” tuturnya.
“Menggarap sebuah lahan untuk ditanami rempah-rempah, sayur-sayuran dan lain-lain. Saya mengawalinya dengan mengamati, orang-orang yang sudah terbiasa dengan dunia penggarapan ini, termasuk ibu saya,” ucapnya.
Menurut perempuan kelahiran Lolak II, 15 Juli 1999 ini, setelah ia menggarap sebuah lahan bersama bapak dan ibunya, saat itu pula dia diberikan gaji oleh bos dari bapak dan ibunya itu. Gajinya saat itu, sudah setara dengan perempuan dewasa lainnya, sebesar Rp 70 ribu.
“Menjadi seorang petani tidak harus dinilai dari ekonominya, tetapi bagi saya, dengan memiliki skill bertani, akan selalu memiliki sisi ekonomis yang menguntungkan bagi setiap orang, karena lapangan pekerjaannya sudah tersedia dan gajinya cukup besar,” imbuhnya.
“Hasil dari bertani kebanyakan saya tabung, beberapa lainnya juga saya pakai untuk mencukupi kebutuhan saya secara pribadi, itu di masa saya duduk di bangku SMP hingga SMA,” sahutnya.
Setelah lulus dari SMA, dirinya, Tirsa, tidak pernah terpikirkan sebuah cita-cita, yang ia pikirkan hanyalah bagaimana menjadi lebih baik dari hari kemarin dan terus belajar guna membekali diri untuk masa depan. “Selama sekolah, saya memahami diri ini lebih tertarik dengan bidang sosial humaniora dibandingkan dengan bidang eksakta. Ketertarikan itulah, membawah saya masuk di Universitas Sam Ratulangi Manado, di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, dengan program studi Administrasi Publik,” jelas Wakil Ketua Komunitas Dinding Manado periode 2018-2022 ini.
Semasa studinya, Tirsa lebih banyak bersentuhan dengan dunia pemerintah, pelayanan masyarakat dan kegiatan birokratis, yang telah membentuk dan meyakinkan kepribadiannya. Bahwa setelah ia lulus S1, dirinya akan berkontribusi untuk kemajuan pemerintahan, pelayanan publik dan pendidikan yang lebih baik di Indonesia.
“Selama mengenyam pendidikan. Baik itu, dari sekolah dasar hingga perguruan tinggi, saya mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari pemerintah. Dan itu, menjadi tiket emas bagi saya hingga saat ini,” ujarnya.
Untuk itu, dirinya, Tirsa, ingin berkontribusi untuk pemerintah Indonesia. Beberapa pertanyaan sempat melintasi di pikiran anak ke 2 dari 3 bersaudara. Dari pasangan Yunus Kansil dan Andriana Baguna ini. Jika benar-benar ingin berkontribusi untuk pemerintah, mengapa tidak menjadi bagian dari aparatur sipil negara (ASN). “Apalagi saat ini, saya mendengar akan dibuka penerimaan P3K untuk pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja,” katanya.
“Saya sendiri terkadang sulit menjawab pertanyaan yang ada dalam pikiran saya. Namun, saya memiliki harapan yang besar untuk dapat melanjutkan studi ke jenjang magister,” harapnya.
Berkontribusi terhadap pemerintah Indonesia akan terus ia lakukan, dan itu akan dilakukan melalui dunia pendidikan dengan menjadi tenaga pengajar atau dosen serta bisa membantu mencetak lebih banyak administrator publik untuk Indonesia. Sebuah harapan, dari seorang perempuan yang hobinya belajar hal baru.
“Saya menyelesaikan S1 dengan beasiswa Bidikmisi yang merupakan salah satu beasiswa pemerintah, yang di mana memberikan kesempatan bagi saya untuk mengeyam pendidikan secara gratis. Setelah menyelesaikan S1, saya tidak terpikirkan untuk lanjut ke tahap magister, karena itu sebuah harapan saja. Namun, banyak bapak-ibu dosen saya berpesan kamu harus lanjut S2, biar bisa jadi dosen,” cerita Tirsa terkait pesan bapak-ibu dosennya.
Pesan para dosen awalnya membebani dirinya, sebab kuliah S1 saja betapa sulit untuk menyakinkan kedua orang tuanya terlebih seorang ayah. Kemudian, Ia mencoba menjelaskan bahwa pendidikan yang selama ini ia ikuti itu gratis. Hingga kemudian hari, beberapa sumber informasi ia dapatkan, termasuk beasiswa LPDP, yang menyambung harapannya untuk melanjutkan perkuliahannya ketingkat selanjutnya, yakni magister.
“Selama perkuliahan, saya bukan hanya fokus pada pembelajaran di kelas atau dibelakang meja saja, melainkan ada beberapa agenda yang saya ikuti yaitu program kreativitas mahasiswa bidang penelitian sosial humaniora, dan berhasil memperoleh pendanaan dari kemerdekaan pendidikan, kebudayaan, riset dan teknologi. Kemudian, mendapatkan kesempatan untuk mempresentasikannya dalam pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional ke-33 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta pada tahun 2020. Bagi saya, ini merupakan pengalaman yang membanggakan, sehingga bisa mengantarkan saya masuk PIMNAS,” ujarnya.
Pada lomba tersebut, Tirsa banyak mengangkat kearifan lokal Sulawesi Utara, di mana dirinya mengangkat terkait budaya Minahasa, yakni Mapalus. “Karya ilmiah saya dan teman-teman terkait mapalus mendapatkan penghargaan dari Universitas Sam Ratulangi Manado dan menjadikan hal itu sebagai pemenuhan syarat akademik untuk memperoleh gelar sarjana administrasi publik melalui Rektor kami, Ellen Kumaat,” tambahnya.
Mengenyam pendidikan bukan hal yang mudah, bahkan kesempatan untuk dapat belajar adalah sebuah anugerah. Apalagi bagi anak-anak Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan, yang jauh dari peradaban kota, atau bahkan yang secara fisik dan psikis terlahir kurang beruntung. “Saya memiliki impian, di masa depan pendidikan Indonesia akan merata bagi anak-anak Indonesia. Karena sejatinya pertumbuhan bangsa yang besar dimulai dari pendidikan, dan pendidikan yang berakar dimulai dari anak-anak,” tukasnya.
“Masa depan cerah tidak pernah dijanjikan kepada siapapun, namun siapapun berhak terhadap masa depannya yang cerah. Untuk itu, saya ingin berkomitmen untuk terus belajar dan membekali diri, dan akan terus mendukung pendidikan di Indonesia dengan mengambil peran sebagai seorang akademisi dikemudian hari,” pungkasnya.
Diketahui saat ini, Tirsa sedang berada di Kota Kembang (Bandung) untuk melanjutkan studinya S2.
Peliput: Meikel Pontolondo


Discussion about this post