
Nur Evira Anggrainy*
Sebagai orang tua apakah kita pernah bertanya kepada diri sendiri, “Sudah merasa nyaman kah anakku untuk bercerita apa saja kepadaku?”. “Apakah aku tahu siapa saja teman bermain anakku?”. “Apa yang dibutuhkan anakku untuk merangsang perkembangannya?”. Pertanyaan-pertanyaan ini terdengar biasa saja, namun bisa menjadi gambaran seberapa dekat orang tua dengan anaknya sendiri. Atau jangan-jangan anak hanya dibiarkan asyik sendiri dengan gadget hingga orang tua lupa pada peran utamanya.
Peran orang tua dalam memperhatikan tumbuh kembang anak adalah hal yang sangat dibutuhkan. Sangat disayangkan apabila orang tua hanya fokus mencukupi kebutuhan fisik anak, seperti menyediakan makan, memberikan pakaian, ataupun membelikan mainan. Namun lupa untuk memperhatikan kondisi psikis, sehingga orang tua tidak mengetahui betapa pentingnya untuk mengisi ruang kasih sayang yang ada di hati anak.
Ruang kasih sayang ini sangat penting untuk diperhatikan agar anak merasa nyaman berada didekat orangtuanya. Saat anak merasa nyaman, maka ia pun akan nyaman untuk bercerita mengenai apa yang sedang dirasakan ataupun dipikirkannya. Perasaan nyaman untuk bercerita, akan membuat orang tua tahu apa saja aktifitas yang dilakukan di sekolah ataupun ketika bermain dengan temannya. Serta, orang tua jadi tahu siapa saja dan orang seperti apa yang menjadi teman dekat dari si anak.
Ketika orang tua tahu aktifitas dan teman-teman si anak, maka secara tidak langsung hal tersebut dapat menjadi cara untuk mengawasi anak ketika ia berada diluar jangkauan orang tua. Seperti ketika anak sedang berada di sekolah, di tempat les, ataupun ketika ia minta izin untuk bermain di rumah teman. Pengawasan tentu saja perlu dilakukan agar orang tua tahu mengenai aktifitas positif apa saja yang sebaiknya dilakukan oleh anaknya, serta siapa-siapa saja yang menjadi teman anaknya sehingga tidak mudah terjerumus dalam pertemanan yang mengarah ke hal-hal negatif.
Sangat disayangkan apabila anak tidak merasa nyaman dengan kehadiran orangtuanya, sehingga tidak nyaman pula bila ingin terbuka menceritakan sesuatu yang sedang dirasakan atau terjadi kepadanya. Ia bisa saja mencari telinga yang salah untuk mendengar keluh kesahnya. Pada akhirnya telinga yang salah inilah yang menjerumuskan ia kedalam lingkaran ataupun perbuatan yang salah pula. Tentu saja tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya melakukan sesuatu yang negatif dan dapat merusak diri sendiri.
Membangun perasaan nyaman anak, tidak selamanya harus dengan memenuhi segala keinginan dan memanjakan secara berlebihan. Orang tua perlu pula memberikan batasan-batasan yang jelas. Terlalu memanjakan anak tentu saja memberikan dampak yang kurang baik bagi perkembangan kepribadiannya. Sehingga orang tua perlu menakar secara jelas kapan saat yang tepat untuk mengabulkan dan memberikan keinginan anak.
Menumbuhkan perasaan nyaman anak kepada orang tua, bisa dimulai dari pilihan gaya pengasuhan yang akan diterapkan kepada anak. Gaya pengasuhan atau biasa juga disebut sebagai pola asuh, merupakan proses interaksi orang tua dan anak yang bertujuan untuk mendidik, membimbing, dan melindungi anak sehingga berpengaruh terhadap tumbuh kembangnya. Seorang ahli bernama Diana Baumrind juga telah membagi gaya pengasuhan kedalam tiga kategori, yaitu otoriter, permisif, dan demokratis.
Penulis ingin berfokus kepada gaya pengasuhan demokratis. Menurut Diana Baumrind, gaya pengasuhan demokratis diterapkan dengan cara memberikan kehangatan kepada anak, namun tetap mengontrol. Terjadi komunikasi dua arah pada gaya pengasuhan ini, dimana anak dapat menyampaikan apa yang ia rasakan dan inginkan, begitupun orang tua kepada anaknya. Orang tua tidak bertindak sebagai bos yang menyuruh anak untuk melaksanakan semua keinginannya, tanpa mengetahui apakah anak suka atau tidak dengan hal tersebut.
Gaya pengasuhan demokratis, dapat membuat anak merasakan kenyamanan disisi orangtuanya, karena orang tua dapat menjadi pendengar yang baik dan tempat curhat yang tepat bagi anak-anaknya. Namun, tetap ada aturan yang berlaku. Misalnya saja, anak boleh bermain gadget, tetapi ada batas waktu yang diterapkan. Ataupun misalnya anak boleh bermain ke rumah teman, tetapi boleh pergi setelah tidur siang.
Beberapa penelitian mengenai gaya pengasuhan demokratis mengarahkan ke hal yang positif terhadap tumbuh kembang anak. Anak yang mendapatkan gaya pengasuhan ini, dapat tumbuh sebagai pribadi yang memiliki kemampuan sosial yang baik dan rasa ingin tahu yang tinggi. Dan tentu saja masih banyak penelitian terkait yang menjelaskan manfaat bagi pertumbuhan fisik dan psikis anak. Mungkin, gaya pengasuhan ini bisa menjadi alternatif pilihan bagi para orang tua (**)
*Penulis adalah Staf Pengajar Program Studi Psikologi IAIN Manado


Discussion about this post