Manado, Barta1.com – Tepat tujuh tahun pasca banjir bandang di Kota Manado, bencana kembali terjadi. Banjir dan tanah longsor akibat hujan dengan intensitas tinggi dan struktur tanah yang labil, Sabtu (16/1/2021) pukul 15.09 WITA dengan tinggi muka air sekitar 50 sampai 300 sentimeter.
Peristiwa ini menyebabkan lima orang meninggal dunia, satu orang hilang masih dalam pencarian serta 500 jiwa mengungsi yang masih dalam proses pendataan.
Korban meninggal Aiptu Kifni Kawulur (49), anggota Polsek Tikala dan meninggal di RS Bhayangkara. Kemudian Fanny Poluan (50), Arni Laurens (44) dan Chelsea (8), mereka adalah bapak ibu dan anak di Kelurahan Perkamil Lingkungan V, Kecamatan Paal Dua. Serta Meini Pondaag, korban tanah longsor di Jalan Sea Malalayang.
Sejumlah kecamatan terdampak peristiwa ini antara lain Kecamatan Tikala, Kecamatan Paal Dua, Kecamatan Malalayang, Kecamatan Sario, Kecamatan Bunaken, Kecamatan Tuminting, Kecamatan Mapanget, Kecamatan Singkil dan Kecamatan Wenang.
“Pusat Pengendali Operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana melaporkan kerugian materil yakni dua unit rumah rusak berat dan 10 unit rumah rusak sedang,” ujar Raditya Jati, Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Minggu (17/1/2021).
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulut dan Kota Manado melakukan kaji cepat dan evakuasi bersama SAR, TNI/Polri, masyarakat dan relawan. Selain itu, BPBD Kota Manado juga memberikan bantuan makanan siap saji kepada para pengungsi. BPBD Kota Manado memantau banjir saat ini telah berangsur surut.
Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kota Manado berpotensi mengalami hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir. BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan siaga ditengah musim hujan yang akan terjadi di sejumlah wilayah hingga Februari 2021.
Peliput : Agustinus Hari


Discussion about this post