Manado, Barta1.com – Besar semangat putra-putri asal Papua untuk menuntut ilmu. Bahkan diantara mereka ada yang rela pergi dari rumahnya akibat dijodohkan orang tua, demi melanjutkan perkuliahannya.
Itulah yang dilakukan Jekson Yikwa (20), mahasiswa Politeknik Negeri Manado (Polimdo) Jurusan Akuntansi Keuangan. Jekson merupakan anak pertama dari pasangan Kuli Yikwa dan Tangina Kogoya.
“Bulan Februari kemarin saya berada di kampung halaman, dan mau dijodohkan orang tua. Namun saya pilih pergi dari rumah untuk kembali ke Manado, guna melanjutkan perkuliahan,” kata Jekson, belum lama ini.
Ia sempat menyesal pulang ke Papua disuruh oleh pemerintah akibat kejadian di Surabaya. Sebelum ke kampung halaman di Tikapuara, Kabupaten Mamberamo, Papua, menyempatkan diri terlebih dahulu ke Abe Ganu, Jayapura pada September 2019.
“Di sana saya ikut berdemo ke pemerintah dengan teman-teman mahasiswa lainnya, akibat masalah di Surabaya. Tetapi dengan berdemo tidak dapat apa-apa, hanya pengalaman saja. Setelah itu saya memikirkan untuk melanjutkan kuliah saja,” ujarnya.
Ketika berada di kampung halaman Tikapura, Jekson kaget. “Saya mau dijodohkan orang tua dengan perempuan sekampung. Siangnya perempuan bersama orang tua akan datang ke rumah, sebelum siang sekitar jam 5 pagi saya menyiapkan pakaian langsung berangkat ke Manado, bertepatan uang simpanan saya di saldo masih cukup untuk membeli tiket pesawat ke Manado,” cerita Jekson.
Terkait bantuan pemerintah Papua untuk kuliah? Dirinya mengaku tidak ada, hanya bantuan asrama saja. “Biaya kuliah saya, masih orang tua yang tanggung, dengan hasil tani. Pembayaran kuliah Rp 4 juta lebih, akibat pandemi berkurang menjadi Rp 3 juta,” bebernya.
Sedangkan biaya makan setiap harinya, Jekson harus berjalan ke perumahan-perumahan untuk mencari pekerjaan mencabut rumput. “Saya sampaikan sama orang tua, cukup biaya kuliah saja dikirim, untuk makan saya bisa,” urainya.
Setiap hari Sabtu, Jekson datang ke rumah-rumah warga di perumahan yang sekitar kampus Politeknik Negeri Manado (Polimdo). “Pendapatan dari hasil mencabut rumput Rp 20 ribu per keluarga. Ada yang baik hati sampai Rp 150 ribu,” tandasnya.
Mengingat pesan firman Tuhan melalui Roma 4:4 yang berbunyi: Kalau ada orang yang bekerja upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya. “Itulah ayat yang saya pegang sebagai pesan bapa kepada saya,” pungkasnya.
Peliput : Meikel Pontolondo


Discussion about this post