Oleh: Uche Ismail
Berbeda dengan John Semuel, selama saya berada di Manado, saya tidak begitu akrab dengan lukisan-lukisan Fadjar Sahante. Baru pada pemeran Lukisan di Balai Budaya Jakarta, 23 sampai 28 Juni 2018 saya bisa menyelam ke dasar perenungan Fadjar.
Pelukis yang dilahirkan di Pulau Gangga, Minahasa Utara, yang kini bermukim di Kota Manado ini, menawarkan perenungan yang mendalam terhadap kelahiran manusia di muka bumi. Kualitas manusia, tidak ditentukan pada kualitas kelahirannya di muka bumi. Tapi pada proses kemanusiaan selama dia hidup. Kualitas hidup manusia itu, akan menenukan kualitas kematian sang manusia tersebut.
Ada bentangan jalan dan waktu di antara kelahiran dan kematian. Bentangan kehidupan itu harus diisi. Jika kehidupan manusia sejak dia lahir diisi dengan kebaikan atau hal-hal yang baik. Maka, manusia akan memiliki jalan kematian yang baik pula. Namun, jika bentangan kehidupan diisi dengan hal-hal yang buruk, maka manusia akan memiliki jalan kematian yang buruk pula.
Sebagai Penatua, Fadjar Sahante menjadikan karya lukisnya sebagai mimbar untuk mewartakan Firman Tuhan. Kudalaut, mahluk Tuhan yang kecil dan lemah itu, dijadikan Fadjar sebagai narasi pewartaan.
Terkadang, banyak orang yang tidak suka dan tidak perduli pada hal-hal yang kecil dan lemah. Tapi sebagai pelukis, Fadjar memberanikan diri duduk sebagai Majelis Pelayanan Anak di salah satu Gereja yang berada di wilayah utara Kota Manado.
Fadjar mengambil tanggungjawab sebagai Majelis Pelayanan Anak, karena baginya, sebagai manusia, anak-anak adalah mahluk Tuhan yang kecil dan masih lemah, membutuhkan perhatian dari orang-orang besar yang kuat, sehingga anak-anak bisa tumbuh menjadi orang dewasa yang kuat dan perduli pada sesama.
UN Happy Ending, begitu Fadjar memberi judul pada karyanya dengan tujuh panel, yang menceritakan perjalanan manusia sejak lahir hingga ajal menjemputnya.
Pada lukisan yang lain, Fadjar masih menyampaikan pewartaannya bahwa, Tuhan adalah maha mengatur segala-segalanya.
Sepandai-pandai tupai melompat, dia pasti jatuh. Sepandai-pandai ikan berenang, dia pasti terjaring atau terjebak pada mata kail. Sepandai-pandai koruptor berkelit, dia pasti terjerat. Hal itu diungkapkan Fadjar dalam karyanya bertajuk, TERJEBAK (akrilik di atas kanvas, 125 X 400 cm, empat panel).
John Semuel dan Fadjar Sahante, bisa menggelar karya-karya mereka di Balai Budaya Jakarta (23-28 Juni), karena ada kepedulian dari Bidang Ekonomi Kreatif, Dinas Pariwisata Minahasa Utara, Sulawesi Utara.
Jika John Semuel dan Fadjar Sahante bisa, tentunya pelukis-pelukis yang berada di Kabupaten/Kota lainnya di Sulut, juga bisa mengikuti jejak yang sama. Tentunya jika ada kepedulian yang sama dari Dinas Pariwisata daerah setempat. Semoga!. (*)
Penulis adalah dramawan dan pemerhati seni asal Manado, kini mukim di Jakarta.


Discussion about this post