Talaud, Barta1.com — Cuaca ekstrim terus melanda perairan Kabupaten Kepulauan Talaud beberapa pekan terakhir. Hal ini membuat transportasi laut dari Pulau kabaruan ke Pulau Salibabu, Karakelang dan sebaliknya untuk sementara tidak berlabuh di Pelabuhan Mangaran.
Terpantau, Pelabuhan Mangaran nampak lengang dan tidak ada satupun kendaraan laut berlabuh karena mereka lebih memilih pelabuhan Pantuge dan Kabaruan untuk tempat berlabuh karena kedua pelabuhan tersebut terlindung dari angin kencang.
Tak hanya memberikan imbauan terhadap aktifiras warga di laut, fasilitas penunjang keselematan penumpang yang ada pada transportasi laut pun di sorot karena dinilai tidak memadai. Hal ini disampaikan oleh Kapolsek dan Camat Kabaruan ketika dikonfirmasi pada Rabu (201/08/2019).
Kapolsek Kabaruan Ipda Lucky Mangundap mengimbau agar warga yang melakukan aktifitas di laut harus berhati-hati karena cuaca ektrim yang melanda perairan talaud.
“Imbauan kami terkait dengan cuaca yang sejak bulan Juli sampai sekarang ini yaitu angin kencang dan gelombang laut begitu besar, kami dari pemerintah khususnya kepolisian yang berfungsi sebagai pembina keamanan dan ketertiban masyarakat kiranya dapat berhati-hati terutama bagi nelayan-nelayan yang sering melaut. Kiranya cuaca yang masih ekstrim ini karena pengalaman, ketika masuk bulan Juli banyak peristiwa-peristiwa,” ujar Kapolsek.
Lanjutnya, ketika masuk musim angin Selatan, untuk pelabuhan-pelabuhan rakyat yang berada di pesisir barat, itu memang tidak bisa dimasuki perahu ataupun speedboat. Baik pemiliknya dari sini ataupun dari Melonguane maupun Lirung. Sehingga alternatif itu Pantuge karena memang di sana aman untuk dimasuki atau tempat berlabuhnya baik itu perahu taksi maupun speed.
Senada dengan itu, Camat Kabaruan Djemi SL Laruaa SH MH menuturkan, Sesuai dengan kondisi yang kita lihat sekarang bahwa cuaca tidak menentu. Musim angin kencang, di lautan bergelombang sehingga perlu diimbau terutama kepada seluruh masyarakat yang mata pencariannya nelayan itu sekiranya mungkin harus berhati-hati melihat faktor cuaca yang ada.
Dia juga menyoroti fasilitas keselamatan yang ada pada kendaraan laut berupa perahu maupun speddboat yang dinilai tidak memadai.
“Kemudian kepada pengusaha yang mempunyai fasilitas kendaraan laut seperti speed dan juga perahu, kiranya mohon diperhatikan terutama keselamatan-keselamatan penumpang. Kalau boleh setiap perahu itu ada pelampung dan pelampungnya sejumlah dengan kapasitas angkutan,” tutur Djemi.
Djemi menilai, fasiltas berupa pelampung yang merupakan alat bantu renang ini hanya terkesan sebagai formalitas saja.
“Sebab kita lihat sampai dengan hari ini ada pelampung atau alat bantu berenang tetapi jumlahnya sangat sedikit. Itu mungkin hanya menjadi semacam formalitas yang penting ada pelampung.
Kemudian bagi angkutan speed. Itu banyak speed yang maso di Mangaran, di pasir putih ataupun di pantuge, itu hampir semuanya tidak ada alat keselamatan seperti pelampung,” ungkap Camat.
“Dan kalau boleh semua kendaraan laut ini diberikan alat bantu navigasi dan semuanya diberikan pelatihan dalam rangka membaca dan mengetahui tentang alat bantu navigasi,” kunci Camat. (*)
Peliput : Evan Taarae


Discussion about this post