Meruwat Demokrasi Kita
Karya : Iverdixon Tinungki
Ada kegiatan mengangkat patung-patung untuk dipajang. Patung dipajang oleh patung. Mereka saling mengangkat dan saling memajang. Semua terpajang dalan beberapa komposisi. Beberapa patung terantai atau terikat, bergelimpangan di jalanan. Ada terentang tak beraturan pada sebuah kursi. Ada yang terikat pada sebuah meja. Ada yang tertelungkup, dan seterusnya.
Inilah pemandangan menyedihkan pantung-patung yang terpasung.
Dialog patung :
Salah seorang : Demokrasi kita terpasung
Salah seorang : Hak-hak kita terkebiri
Salah seorang : Pemerintah kita tuli
Salah seorang : Politik busuk
Salah seorang : Agama angkuh
Salah seorang : Suara rakyat disumpal
Salah seorang : Yang kaya korupsi
Salah seorang : Yang miskin menangis
Salah seorang : Tak ada yang membela kami.
Semua : Tolong….tolong…tolong …
Suara jerit tolong ini terdengar riuh dari mulut patung-patung terpasung.
Seorang pembaca puisi masuk dengan obor. Duduk di antara patung-patung itu. Ia kemudian membacakan puisi. Monolog :
Pembaca Puisi:
Hal terhebat dalam diri manusia mengibuli dirinya
Respons patung-patung : Kibuli ! (teriak dan mengubah komposisi)
Pembaca Puisi:
Ada pemimpin yang gagal tapi iklan media massa bilang ia berhasil.
Ada pemimpin korupsi tapi pengadilan ketuk palu tanda ia bersih.
Ada rakyat miskin terpinggir tapi koran tulis mereka sejahtera.
Ada calon pemimpin bersih tapi televisi nistakan ia di sana-sini.
Respons patung-patung : Berantas… (Bergerak liar dan beringas) Tapi kemudian berhenti dalam satu komposisi)
Pembaca puisi mengambil posisi menjadi Dirigen.
Pembaca Puisi:
Wahai patung-patung Indonesia, mari kita menyanyi lagu Indonesia raya. Satu…dua…Tiga.
Patung-patung : Indone… (Tercekat)
Lagu itu diulang berkali-kali tapi tetap tercekat.
Pembaca puisi :
Tinggal sedikit kebanggaan kita yang tersisa bagi Indonesia, karena mulut kita lama disumpal. Karena perasaan kita lama dicekik. Karena perut kita lama lapar.
Patung-patung Teriak : Lapar…
(Mereka kesurupan lapar, lalu diam terhenyak)
Pembaca puisi :
Karena lapangan kerja tak ada.
Karen hak-hak kita dikorupsi.
Karena hati nurani kita diborgol.
Karena tanah kita diambil.
Karena rumah kita digusur.
Karena kekayaan alam kita dicuri.
Mari kita menyanyi lagu Indonesia raya. Satu…dua…Tiga.
(Menyanyi Indonesia Raya. Tapi selalu tercekat)
Pembaca puisi :
Kami butuh air kasih sayang dari para pemimpin sejati, untuk selamatkan negeri.
Muncul sosok misterius membawa pikulan ember air.
Lelaki misterius:
Dengan semangat cinta tanah air Indonesia. Dengan semangat cinta kepada rakyat.
Saya kini datang mencuci semua yang kotor, biar kita bisa bersama-sama berjalan meraih cita-cita sebagai bangsa yang maju, mandiri dan bersatu.
(Setelah bicara, kemudian menyirami dan memberi minum masing-masing patung. Patung-patung itu kemudian bergerak melepaskan diri dari belenggu masing-masing. Setelah semua belenggu terlepas mereka kemudian mengeluarkan isi sebuah buntalan kain di tengah-tengah mereka yang di dalamnya ada bendera dan sebuah spanduk bertuliskan :
“SELAMAT DATANG PEMIMPIN MASA DEPAN”
Spanduk itu diancungkan dua patung dan patung lainnya mengacungkan masing-masing satu bendera merah putih.
Pembaca puisi :
Semoga air kasih sayang bisa membuat kita kembali bernyanyi. Sol! (Stem)….
Semua Menyanyi : Hiduplah Indonesia Raya!
(Setelah sunyi, lelaki misterius itu kemudian terbahak-bahak menyaksikan keganjilan di depannya)
Lelaki misterus :
Tangkap mereka semua! (Teriaknya garang)
(Muncul sepasukan orang menodongkan senjata kepada patung-patung, lalu menyeret mereka ke luar.)
Lelaki misterius : (Kepada penonton)
Indonesia milikku!
Lampu padam mendadak
Serentetan bunyi tembakan menghentak.
Tamat

Discussion about this post