• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Sabtu, Juli 25, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus

Felly Estelita Runtuwene

by Ady Putong
25 Juni 2019
in Fokus, Opini
0
Felly Estelita Runtuwene

FELLY ESTELITA RUNTUWENE. (foto: wikipedia)

138
SHARES
212
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Amato Assagaf

Politik adalah seni mencari masalah, menemukannya di mana saja, mengenalinya secara keliru, dan menyelesaikannya dengan solusi yang salah.” – Groucho Marx

Kita tidak menyebut nama untuk menyiangi kembali lahan partai dengan puji-pujian. Kita menyebut nama untuk mengingatkan rakyat, bagian utama dan paling mendasar dari eksistensi sebuah partai politik seperti Partai Nasional Demokrat, bahwa mereka sudah memiliki wakil untuk memperjuangkan kepentingan mereka di tengah kompleksitas kekuasaan.

Felly Estelita Runtuwene adalah salah satu nama dengan tanggungjawab sebesar itu. Datang dari ruang politik yang paling ideologis dengan membawa kecermatan perhitungan politik yang realistis, bendahara Partai NasDem Sulawesi Utara ini tidak tak mengerti permainan politik di negeri ini dan bagaimana menyiasati perubahan bagi kepentingan bangsa.

Setelah kini terpilih untuk menduduki kursi Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Felly tentunya harus terlebih dulu kembali pada salah satu hukum besi politik yang tak jarang mendatangkan dilema. Hukum besi ini bisa dituliskan dalam satu kalimat sederhana, memperjuangkan prinsip tanpa kekuasaan adalah menabur benih di lahan tandus.

Berhadapan dengan hukum besi politik ini, apa yang menghibur dari keterpilihan politisi perempuan asal Minahasa Selatan ini adalah tiga kelebihan unik yang dimiliki dan telah dibuktikannya. Pertama, loyalitasnya pada partai. Kesetiaan yang tak menghitung untung-rugi pribadi adalah modal utama yang dimiliki Felly untuk bergerak bersama partai dalam memperoleh kekuasaan demi menggerakkan perubahan – yang menjadi prinsip ideologis Partai NasDem – secara efektif.

Kedua, fleksibilitas gerak politiknya. Kekuasaan dalam kerangka politik modern bukanlah entitas tunggal tapi semacam jaringan yang menyebar dengan begitu dinamis. Felly, dalam jaringan ini, harus mampu mengikuti dinamika kekuasaan itu. Faktanya, Felly selama ini terbukti mampu bergerak dinamis dalam jaringan kekuasaan sedemikian, terutama di Sulawesi Utara.

Ketiga, feminitas kepemimpinannya. Menjadi politisi perempuan di Sulawesi Utara bukanlah sesuatu yang terlalu istimewa. Masyarakat di daerah ini relatif tidak lagi terkungkung dalam ketololan sejarah patriarkis. Tapi mempergunakan berkah keperempuanan belum menjadi sesuatu yang cukup dimanfaatkan oleh para politisi perempuan itu. Felly, dalam banyak hal, terbukti mampu memimpin tanpa kehilangan karakternya sebagai perempuan.

Jadi, singkatnya, hendak saya katakan bahwa loyalitas, fleksibilitas, dan feminitas yang dimiliki Felly Runtuwene mestinya bisa menjadi jaminan bahwa dia akan melaksanakan tugas kelaknya sebagai wakil rakyat Sulawesi Utara di tingkat nasional dengan baik. Akan tetapi, hal itu juga bersyarat bahwa Felly tidak terjebak pada seni hitam politik seperti yang dituturkan Groucho Marx dalam kutipan di awal tulisan ini. (*)

Manado, 24 Juni 2019

Barta1.Com
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Next Post
Workshop Khotbah Multikreatif Pendeta GMIST di Sawang

Workshop Khotbah Multikreatif Pendeta GMIST di Sawang

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Edukasi Remaja Kinilow 1, Komitmen Nyata Mahasiswa UNSRIT Tomohon 25 Juli 2026
  • Resmi Lantik Pengurus Pilar Harmonis Nusantara, Yulianti Saridin: Momentum Perkuat Pengabdian Kepada Bangsa dan Negara 24 Juli 2026
  • Dukung Kemandirian Petani Bunga Krisan, PLN UID Suluttenggo Resmikan Program Electrifying Agriculture di Tomohon 24 Juli 2026
  • PLN Pasang Sambungan Listrik Gratis untuk Enam Keluarga di Boltim 24 Juli 2026
  • PLN Pulihkan 94 Persen Pasokan Listrik Pascabanjir dan Longsor di Tamako 24 Juli 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In