“Di ujung cambuk ada emas”
— Sebuah Pepatah Tua–
Siapa menyangka, anak perempuan tomboy dan bandel di masa kecil ini, kelak menjadi Bupati Kabupaten Kepulauan Talaud pertama dari kalangan kaum perempuan perbatasan. Dan dia—Sri Wahyumi Maria Manalip— berhasil membuktikan, kaum perempuan punya kemampuan menepis ideologi patriarki yang menganggap ruang perempuan hanya di seputaran dapur dan tempat tidur. Bagi dia, kaum perempuan harus punya akses dan kesempatan untuk mengembangkan diri, bahkan menjadi pemimpin.
Berkisah tentang masa kanak-kanaknya yang penuh kelucuan dan keluguan itu, Bupati berparas cantik ini sering tertawa lepas bahkan sampai terpingkal-pingkal. Ia mengaku, dirinya termasuk anak yang badung, dan bandel di masa kanak-kanak. Ke mana-mana membawa double stick dan katepel.
“Saya bisa memainkan double stick dan beberapa alat bela diri. Sejak kecil saya sudah dilatih ayah bela diri kungfu. Pada usia kelas 5 SD hingga SMP, kalau main ke mana-mana saya menyelipkan double stick di pinggang celana saya,” ujarnya mengenang masa kanak-kanaknya sambil tertawa lepas.
Didikan keras ayahnya, kata dia, menjadikannya anak tomboy yang menyukai permainan ala anak-anak lelaki. “Saya punya katepel dan cukup mahir berburu burung di pohon kenari tak jauh dari rumah kami di Beo,” ungkapnya.
Bersama anak-anak lelaki, cerita dia, ia sering melakukan permainan memanjat pohon yang tinggi. “Saya dan teman-teman juga sering mencuri buah di kebun milik Ratun Banua Beo, Pak Justus Towongkesong, yang kami sebut Opa Kunu. Ulah kami itu membuat Opa Kunu marah dan mengejar kami,” kisahnya sambil terpingkal-pingkal mengingat masa kanak-kanak yang bandel dan badung itu.
Ulah bandelnya ini, kata Sri Wahyumi, membuat ia sering dihukum ayahnya mengangkat kaki sebelah dalam sebuah lingkaran kecil yang dibuat ayahnya dengan kapur. Jerah? “Tidak,” kata Sri Wahyumi.
Di masa remaja, sebagai gadis tomboy, Sri Wahyumi mengatakan, dirinya malahan sering menghadang anak-anak lelaki yang lewat dekat rumah. “Ya untunglah anak-anak lelaki itu tak mau berkelahi dengan saya, karena barangkali mereka merasa tak pantas berkelahi dengan anak perempuan seperti saya,” kata dia.
Diceritakannya, ia paling senang bermain di pantai, dan permainan itulah yang membuat ayahnya sering murka. “Karena larangan-larangan ayah itu, kendati saya berani mengarungi laut lepas sendirian dengan Jet Ski, atau speed boat, jangan anggap saya ini mahir berenang,” kata dia sambil tertawa lepas.
Namun ungkap Sri Wahyumi, ia sangat suka dengan laut. Karena tantangan alam laut membuat seseorang menjadi manusia bernyali. “Ada yang bertanya pada saya, apakah saya tidak takut dimangsa Hiu saat mengendarai Jet Ski menyeberangi laut lepas? Saya jawab, hidup mati seseorang itu di tangan Tuhan, mengapa harus takut?”
Bahkan, ungkap dia, dalam waktu dekat ini, dalam rangka memeriahkan perayaan Hari Ulang Tahun Kabupaten Kepulauan Talaud, ia akan melakukan atraksi terjun payung tandem dengan para penerjun dari POLRI.
“Menakluki medan laut dan darat sudah. Kini saya ingin menakluki medan udara lewat aksi terjun payung,” ungkapnya dengan cara berceloteh.
Saat ini, kata dia, banyak kalangan dan bahkan media massa menilai cara berpakaian saya itu sangat fashionable, padahal sejak masa kecil hinggga kini saya tak pernah telalu banyak mikir soal pilihan pakaian atau dandanan. “Patokan saya hanya memilih pakaian yang nyaman dikenakan,” ujarnya.
Di masa kanak-kanak hingga hingga remaja, sambungnya, ia berpakaian ala anak lelaki, karena simple, asyik, dan nyaman dikenakan. “Bahkan saya paling suka jalan bertelanjang kaki ke mana-mana. Bermain aspal ketika para pekerja sedang membuat jalan. Saya ini memang nakal di masa kanak-kanak itu. Sampai pernah terpancar aspal panas di paha,” kenang Sri Wahyumi.
Dalam sebuah wawancara dengan penulis di Gula Merah Restourant, Mantos, Manado, pada 26 Maret 2019, Sri Wahyumi mengatakan, ia sangat mensyukuri didikan kedua orang tuanya sejak masa kecil hingga ia tumbuh dewasa. “Di ujung cambuk ada emas,” kata dia melukiskan cara ayahnya mendidiknya dengan disiplin dan keras.
“Ayah saya termasuk seorang feodal tulen. Saya dan adik saya sejak kecil dididik dengan cara hidup disiplin yang ketat. Dia mengawasi jam belajar kami, membatasi waktu bermain di luar rumah, hingga melakukan sejumlah pekerjaan di dalam rumah, antaranya membersihkan rumah dan memasak,” kisahnya. Dia mengatakan sempat jengkel dan risih dengan cara ayahnya mendidik dia dan adiknya. Namun saat ini, kata Sri Wahyumi, ia justru bersyukur dengan didikan ayahnya yang menempah dirinya menjadi sosok yang kuat, teguh dan punya prinsip.
“Terima kasih untuk ayah yang telah membimbing saya menjadi perempuan yang tidak lembek. Juga untuk ibuku yang mengajarkan cinta kasih, empati, kebaikan, dan sejatinya hidup seorang perempuan kepulauan,” ungkapnya. Dan ketika saya menjabat Bupati, kedua orang tua saya itu, tidak henti-hentinya mengingatkan saya agar menjadi pemimpin yang baik bagi rakyat, memperhatikan kehidupan rakyat, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Sri Wahyumi mengatakan ia menyelesaikan pendidik Sekolah Dasar (SD), SMP, hingga SMA di Beo. Baru pada masa kuliah dia tinggal di Manado. Sejak masa SD hingga SMA, katanya, ia selalu dipercayakan oleh guru dan pemerintah kecamatan sebagai pengalung bunga bagi para tamu pemerintah yang datang dari Kabupaten yang saat itu masih tergabung dengan Sangihe dan Sitaro, juga dari Provinsi, atau dari Pusat.
“Sejak masa kecil hingga remaja, saya selalu dipercayakan sebagai pengalung bunga bagi para pejabat yang datang. Siapa menyangka saat ini justru saya mendapatkan kalungan bunga setiap kali berkunjung ke wilayah kecamatan,” tuturnya.
Tentang namanya yang terkesan Jawa, ia mengatakan, nama Sri Wahyumi itu nama yang diberikan Komandan Zipur Angkatan Darat yang melakukan tugas ABRI Masuk Desa (AMD).
“Dari cerita kedua orang tua saya, Komandan Zipur bernama Pak Wahyudi dan Pak Tungari, ketika sedang melaksanakan tugas AMD di Beo, mereka menginap di rumah kami. Saat kelahiran saya mereka meminta kepada orang tua saya agar mereka saja yang memberi nama. Pak Tungari memberi nama pertama Sri yang berarti Dewi Padi, dan Pak Wahyudi memberi nama Wahyumi yang arti pembawa Wahyu Ilahi. Pemberian nama itu sebagaimana cerita kedua orang tua saya disertai upacara dan ritual ala budaya Jawa,” tutur Sri Wahyumi.
Lanjut dia, nama Maria itu diambil dari nama Oma, sementara Manalip adalah marga bawaan dari ayah. “Namun di Kota Beo, orang-orang lebih mengenal saya dengan nama Cece yang artinya anak tertua,” ujarnya.
Apakah nama Sri Wahyumi memberi pengaruh pada kesuksesannya di dunia politik dan pemerintahan? Dia mengaku menyandang nama pemberian tulus kedua sosok Den Zipur itu setidaknya merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Sebelumnya, kata dia, tak pernah sedikit pun bermimpi menjadi Bupati, karena ia menyadari latar belakang hidupnya dari keluarga biasa. “Ayah dan ibu saya itu orang biasa. Keluarga kami keluarga biasa-biasa saja. Hanya saja ayah dan ibu adalah orang-orang yang tangguh dalam berusaha memperjuangkan hidup, sehingga kami punya rumah yang lumayan besar di Beo ketika itu, para tamu dari kalangan pemerintahan dan militer sering nginap di rumah kami,” ungkapnya.
Tentang jalan hidup dan kariernya di politik hingga menjadi Bupati menurutnya semata-mata karunia dari Tuhan. “Itu sebabnya, saya memandang jabatan Bupati yang saya sandang benar-benar alur hidup yang sudah Tuhan persiapkan bagi saya sejak masa kanak-kanak, agar bisa mengabdi dan membangun daerah kampung halaman saya sendiri,” kata Sri Wahyumi.
Lanjut ungkapnya, Tuhanlah yang menempah hidupnya lewat bimbingan orang tua, para guru, sahabat, orang-orang tua dan para tokoh masyarakat di kampung, bahkan alam daerah kepulauan yang keras, yang membuat dia punya kekuatan, keberanian dan nyali, dan terutama kearifan dalam memimpin daerah.
“Banyak orang menilai saya terlalu disiplin dalam bekerja, tegas dalam bersikap dan bertindak. Tapi semua itu saya lakukan demi kemajuan kabupaten Talaud. Bahkan saya sering berantem dengan teman-teman Dewan di DPRD Kabupaten Talaud hanya demi memajukan daerah. Dalam banyak kebijakan demi memajukan Talaud saya sering mempertaruhkan jabatan saya,” ungkap dia.
Kendati begitu, kata dia, ia sangat berterima kasih kepada teman-temannya di Dewan yang selalu responsif dan ikut bersinergi menopang dan mengawasi pembangunan Kabupaten Kepulauan Talaud sehingga bisa dua kali meraih predikat opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) yang mencapai standar tertinggi. (***)
Penulis : Iverdixon Tinungki

Discussion about this post