oleh

Mengumpat Ciuman Sepotong dari Sepotong Nyanyian Angsa

Oleh: Iverdixon Tinungki

Menonton teater setara dengan bercinta. Berharap, dimana setiap elemen dari pertunjukan itu, merangsang kemistri menuju ekstase spiritual yang menakjubkan.

Tapi apa jadinya. Hingga siang, 1 September 2019, saya masih binggung, entah harus mulai dari mana membincangkan sepotong ciuman dari sepotong pertunjukan Nyanyian Angsa, Walekofiesa yang ditajah di ruang teater Balai Bahasa Sulut, Sabtu, (31/8/2019).

Sudah berlalu selama 20 jam, antara mengumpat dan memuji, pertunjukan itu menghantui saya. Andaikata pertunjukan itu tak dimulai dari musikalisasi puisi yang musiknya diaransir Arireda kemudian diramu dengan manis musikus Jane Anastasia Angela Lumi, barangkali umpatan saya akan mencapai kulminasi.

Dan pertunjukan itu akan menjadi potongan-potongan tak beraturan, seakan jeroan daging korban “tabrakan maut” dalam kritik saya. Sebab, membicarakan teater pada akhirnya adalah membicarakan seluruh elemen teater itu sendiri.

Dan apalagi pertunjukan itu hanya berlasung separoh dari keseluruhan isi lakon yang seharusnya dimainkan. Saya memetaforkannya sebagai ciuman yang pasrah dari sepotong bibir saja. Puas atau tidak puas, saya harus menerima dengan semacam kejengkelan sekaligus keikhlasan.

Tapi, pertama-tama saya harus jujur menyatakan, saya jatuh cinta dengan suara Monica Christine Tangapo, perempuan yang punya suara seindah Angel Voice saat memusikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono di bawah ini:
“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan
kepada hujan yang menjadikannya tiada”

Dan saya meneteskan airmata haru pertama untuk suara indahmu Christine, kendati di tengah gelap ruang teater yang ‘sumpah”, sangat tak layak untuk pertunjukan lakon semewah Nyanyian Angsa.

Panggung kecil beratap rendah, ketersediaan tata cahaya yang jauh dari ideal, kualitas sound system yang super buruk, –yang maaf, membuat saya bertanya-tanya sebegini inikah fasilitas pemerintah di Balai yang justru berurusan dengan sastra, bahasa dan seni budaya.

Namun Christine Tangapo meluluhkan hati saya. Saya ikhlas menerima begitu saja, kendati saya kemudian begitu menderita melihat kekangan dan himpitan panggung yang membuat tokoh Leonardo harus bermain hingga ke tepi panggung, di luar sorotan lampu yang kualitas cahayanya buruk itu. Bahkan, sang aktor harus berhati-hati melakukan kontrol panggung jangan sampai jatuh terjengkang di sisi tangga.

Ya sudahlah, urusan fasilitas Balai Bahasa Sulut adalah urusan mereka para petinggi di instansi pemerintah ini, yang juga toh, hanya segelintir saja yang nampak hadir menonton, padahal mereka adalah para fasilitator bahasa, seni dan sastra yang harusnya menjadi orang pertama menjadikan pertunjukan ini sebagai ruang tontonan dan apresiasi dalam pengayaan pengetahuan mereka.

Di lain sisi, pertunjukan perdana ini adalah bagian dari program Pentas Sastra berbiaya 2 juta rupiah potong pajak yang digelar bulanan oleh instansi tersebut. Tapi mengapa saya harus menyusahkan hidup saya dengan memikirkan persoalan yang toh bukan urusan saya.
Hanya saja, khusus untuk persoalan elemen teater di atas, harus menjadi pekerjaan rumah Eirene Debora dalam membenah manajemen pertunjukan dia pada pentas berikutnya mengingat drama sebagai seni kolektif baru disebut berhasil apabila seluruh elemen berjalan dalam suatu kesatuan yang harmonis.

Selebihnya, adalah perkara akting actor Eric MF Dajoh yang nampak masih perkasa memerankan tokoh Leonardo yang diadaptasi Latirka Toar dan Eirene Debora dari karakter Vasili Svietlovidoff dalam teks asli “Nyanyian Angsa” karya dramawan modern Rusia, Anton Pavlovich Chekhov.

Dan tepat pukul 12,53 wita, jari saya pertama kali menyentuh tuts laptop. Soft performance Nyanyian Angsa Walekofiesa di Balai Bahasa Sulut itu, atau disebut apalah pertunjukan perdana ini, apresiator Amato Assagaf benar, perkara aktinglah satu-satu yang mendorong saya wajib mengatakan bahwa pertunjukan tersebut sebuah peristiwa kebudayaan atau momentum kesenian yang patut diapresiasi dan dicatat.

Kendati dirubung perih lambung, saya datang menonton. Sebuah peristiwa kesenian yang mewah –yang jarang-jarang terjadi— semacam ini jangan sampai lewat dari amatan saya. Dan ruang teater Balai Bahasa Sulut padat terisi oleh penonton. Dan tidak main-main, penontonnya boleh dikata berkelas, karena yang tampak hadir, rata-rata para bengawan dari berbagai profesi, dan latar.

Tawaran Baru Dalam Konsep Penyutradaraan

Memahami konsep penyutradaraan dan penggarapan karakter tokoh yang ditawarkan sutradara Eirene Debora, saya jadi ingat pengantar Enrique Molina pada buku tipis penyair Argentina Alejandra Pizarnik “Luka Tunggal Sang Pencinta”.

Kehidupan tokoh Leonardo (Vasili Svietlovidoff) dalam tafsir baru Eirene, dapat digambarkan dalam frasa; sebagai sosok yang melintas sendiri, dalam suatu gelombang El Bosco di mana ada banyak pasangan telanjang berbaring dalam dunia yang begitu halus yang hanya karena keajaiban sehingga tidak memecah di setiap saat.

Pizarnik menyebut; “Ini hari kau pandang diri di cermin// dan pilu –kau sendiri// cahaya meraung udara bernyanyi// tapi kekasihmu tak kembali.

”Sementara sosok Reumanen ((Nikita Ivanitch) yang dalam konsep Chekhov adalah perempuan renta, seorang promoter (pembisik) yang juga dirundung gelombang kesepian hari tua tanpa harapan, diadaptasi menjadi sosok wanita yang relatif muda, yang masih digelorai beragam fantasi dan hasrat libidinal.

Ada kecenderungan Eirene mau keluar dari kelaziman Chekov. Sutradara muda ini ingin memberi udara yang lebih segar dibanding kecenderungan Chekhov yang membiarkan tokoh-tokohnya tercebur dalam di kubangan berbagai tragika.

Eirene memasukan pergulatan khazanah psikologi analitik Carl Gustav Jung, sehingga pencarian, kesunyian dan kehampaan serta deraan Post Power Syndrom, penyakit laten kaum manula Leonardo menemukan tamasya cinta.

Tokoh Reumanen yang menggantikan nama tokoh Nikita Ivanitch dalam teks asli Nyanyian Angsa Chekhov adalah satu-satunya petanda dimana Eirene Debora ingin menggiring Nyanyian Angsa garapannya ke latar kultural Minahasa. Ia ingin membawa keluar Nyanyian Angsa dari latar budaya Rusia ke alam budaya Minahasa.

Untuk ini, saya harus melontarkan kritik pada penata music dan artistic yang tidak memberikan support pada konsep peralihan latar budaya pertunjukan tersebut. Andaikata, Jane Anastasi Anggela Lumi selaku penata music bisa memasukan unsur music bernuansa Minahasa, maka tokoh Reumanen bisa menemukan roh keminahasaan dalam bangunan karakternya.

Tata artistik pun jauh dari harapan, selain tak menunjukan sedikit pun symbol-symbol keminahasaan, saya mencurigai, tata artistic ini dilakukan dengan buta, tanpa konsep. Barangkali ada persoalan pendanaan yang menyebabkan petaka tata artistic semacam ini. Tapi penonton tetap saja tak mau tahu dengan persoalan kalian. Penonton selalu inginkan suguhan yang utuh, tanpa titik koma alasan.

Lepas dari berbagai kekurangan, tafsir baru karakter dua tokoh utama dalam Nyanyian Angsa Chekhov ala Eirene ini harusnya membuat pertujukan lebih seru ditonton andaikata pertunjukannya berlangsung hingga tuntas. Sebab penonton akan dipertemukan dengan makna-makna simbolis baru sebagaimana diisyaratkan model semiotika Ferdinand De Saussure dan atau Roland Barthes.

Konsep yang menggairahkan ini sayangnya patah di ujung 30 menit pertunjukan yang mendadak dinyatakan selesai, padahal masih banyak scene menarik setelahnya yang dapat dilacak pada teks aslinya. Juga terlihat ada upaya ornamentasi emosial imajinatif yang melibatkan sosok penari hitam. Sayang sekali eksistensi pengembangan tokoh-tokoh baru ini ikut patah seiring berhentinya pertunjukan.

Kendati pertunjukan itu mengantung dan tak tuntas, tapi nampak terasa sebuah energy penyutradaraan yang komplit dari sisi garapan keaktoran. Meskipun pada elemen lain terutama tata suara dan tata lampu yang selalu bermasalah, dan kadang mengganggu kenyamanan penonton dalam menikmati pertunjukkan, —dan saya kira juga mengganggu intensitas emosi para actor saat menjalani perannya—Eirene Debora setidaknya telah berhasil menunjukkan titik terang dalam bahasa estikanya sendiri sebagai sutradara.

Kekuatan Aktor dan Misteri Lagu Dona-Dona

Sebagaimana teks aslinya, peristiwa ini terjadi di sebuah teater daerah. Malam hari setelah pementasan. Di sebelah kiri dan latar belakang pentas diseraki oleh bermacam-macam barang usang. Di bagian tengah ada beberata stage kecil baik untuk tempat botol minuman, lilin dan sebuah topeng. Juga ada stage yang dijadikan tempat tindur.

Hal baru adalah di sebelah kanan panggung di isi kelompok musik yang menjadi pengiring pertunjukan. Penonton dituntut harus mampu membagi ruang panggung kecil itu menjadi tiga dimensi secara imajinatif, dimana sisi kanan harus diabai dari pandangan karena bila tidak, pergerakan-pergerakan kecil yang dilakukan para pemusik akan mengganggu fokos penonton ke central stage yang menjadi ruang pertunjukan sesungguhnya. Sementara bagian belakang sekadar menjadi latar panggung saja.

Pertunjukan dibuka di suatu malam, Leonardo, tengah mabuk dan baru saja tertidur di gedung pertunjukan sehabis pentas. Ia bangun dan meracau sendiri soal keadaan dirinya sebagai aktor dan sesekali memanggil tokoh misterius Soara’H yang hingga pertunjukan selesai, tokoh misterius ini tak jua tampil. Hanya suaranya sesekali terdengar menggumam dan ikut meracau. Mungkin tokoh Soara’H akan muncul di bagian yang terpotong, namun entahlah.

Sebagai lelaki, Leonardo merasa sudah sempurna. Sebagai aktor yang seringkali mendapat peran-peran besar seperti Hamlet sampai King Lear ia ucapkan dalam racaunya sebagai ujaran kebanggan eksistensi diri. Namun dalam kehidupan nyatanya tak begitu membantunya sama sekali, bahkan membuat nasibnya menjadi buruk. Beberapa kali ia melamar wanita yang menjadi penggemar karya-karyanya dan selalu saja ditolak karena alasan dunia teater tak menjanjikan kehidupan yang nyaman dan mapan.

Beberapa kali juga ia merasa bahwa para penonton yang menggemarinya, yang membawakannya bunga, mengajaknya berfoto sama sekali tak peduli padanya.

Reumanen yang pada malam itu pun sama-sama karena alasan tertidur, ia tertidur di ruang ganti dan terpaksa jadi menginap juga masuk menemui Leonardo. Sehingga dalam pertemuan yang tidak direncanakan ini, Leonardo seorang aktor tua yang penuh romantisme masa lalu dan Reumanen seorang juru bisik yang relatif muda menjadi dua orang yang sangat akrab pada malam itu, dan saling berbagi suka duka, bahkan berbagi pelukan cinta.

Ada yang keluar dari kelaziman Chekhov. Chekhov cenderung membiarkan perasaan cinta bermain lewat symbol di alam bawah sadar. Tapi Eirene Debora justru menariknya ke permukaan. Bahkan verbal. Hasrat cinta terselubung Leonardo, justru mendapatkan ruang dada yang terbuka dalam pelukan Reumanen.

Contohnya adegan dengan dialog berikut ini: “Dia bisa menyukai dan bahkan mencintai akting saya, tetapi menolak dinikahi! Sejak hari itu, mata saya terbuka. Sekian lama menjadi aktor, bergumul dengan diri sendiri dan peran peran yang saya bawakan, menyangkal diri, masuk ke dalam liang eksplorasi yang rumit. Ternyata dianggap tak lebih dari khayalan dan mimpi kosong. Mereka mau menonton pertunjukan saya, memuji akting saya, tetapi menolak mencintai keaktoran saya. Ini tidak fair!”

Dasyatnya, keluhan suram Leonardo yang seharusnya terjadi dalam kehampaan itu, malah justru berlangsung dalam dekapan romantis Reumanen, diperankan Pearly Eirene, yang bermain cukup bagus mengimbangi kekuatan akting actor sekelas Eric MF Dajoh.

Lebih dasyat lagi ketika adegan itu berlangsung, para pemusik yang terdiri dari Monica Christine Tangapo, Tashya Lumi, Adelheid Paraeng, Inggrid Pangkey dan Jane Anastasia Angela Lumi mengirinya dengan sebuah lagu yang dipopulerkan gitaris folk song Joan Baez “Dona-dona”. Adegan ini menjadi klimaks dari total sepotong pertunjukan yang harus saya sebut menarik dan menyentuh.

Saya meneteskan airmata yang kedua di titik ini kerena terbakar haru dan diterjang misteri lagu “Dona-dona” yang saya kira, dihadirkan secara sengaja dalam pertunjukan ini untuk menghidupkan karakter Leonardo yang diperankan Eric MF Dayoh yang akan saya singgung agak serius berikut ini.

Tanpa bermaksud mengusik ruang privasi, namun saya mau menyitir pendapat pengajar akting Rusia Richard Boleslavsky yang mengatakan: “Pengalaman adalah harta terbesar seorang actor.”

Dan harus diakui, Eric MF Dayoh memerankan Leonardo dengan penuh totalitas karena berhasil mengeksplorasi modal pengalaman dalam keseharian hidupnya. Sejak detik pertama ia muncul di panggung, Eric telah “menjadi” Leonardo. Ada kesamaan riwayat hidup yang melatari Eric dan tokoh yang diperankannya.

Ada kesunyian, kehampaan, kesepian, cinta yang gagal dalam riwayat pemeran dan tokoh yang diperankannya. Ini sebabnya, penonton seperti saya –yang nota bene sahabat dekat Eric—langsung merasa drama yang tengah berlangsung adalah tentang kisah nyata Eric sendiri. Dan kehadiran lagu Dona-dona pada klimaks sepotong pertunjukan itu kian mempertegas betapa pertunjukan itu adalah biografi sang pemeran, bukan sekadar biografi tokoh yang diperankannya.

“Ternyata bung Eric sangat-sangat mencintai Donna,” kelakar dramawan Amato Assagaf yang duduk persis di samping saya malam itu.

Malam itu, saya terus terang tak mampu menimpali kelakar Amato, selain membiarkan airmata ketiga saya menetes sambil membayangkan Eric dan Donna, sahabat saya. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed