Depok, Barta1.com — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Manado, Satrio Lasimpala, menyoroti kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang masih dikeluhkan masyarakat di wilayah Sulawesi Utara (Sulut) dan Gorontalo.
Persoalan ini dinilai perlu mendapat perhatian serius karena BBM merupakan kebutuhan vital yang menopang aktivitas ekonomi, transportasi, perdagangan, dan kehidupan masyarakat.
Sorotan tersebut disampaikan langsung kepada *Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) , Agung Wicaksono. Pada kegiatan Indonesia Future Leaders Summit, yang di selenggarakan oleh kemendiktisaintek.
Penyampaian aspirasi tersebut, Satrio menekankan, pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM, transparansi penyaluran, dan pengawasan ketat terhadap potensi penyalahgunan BBM bersubsidi.
Menurutnya, masyarakat tidak boleh terus-menerus menanggung dampak persoalan distribusi energi (BBM). Hampir semua Pertamina terjadi Antrean panjang, kesulitan mendapat BBM, serta ada dugaan penimbunan dan penyalahgunaan solar bersubsidi yang harus menjadi perhatian serius.
“Jadi begini pak, BBM ini kan kebutuhan dasar yang sangat memengaruhi aktivitas masyarakat. Jadi Ketika masyarakat kesulitan mendapatkan BBM, yang terganggu itu bukan hanya mobilitas, melainkan juga aktivitas ekonomi, distribusi barang, dan pendapatan masyarakat kecil. Karena itu, saya rasa persoalan ini harus ditangani secara serius pak. Ini bukan masalah biasa, ini kepentingan publik,” kata Satrio.
Selain ketersediaan, Ia menyoroti pentingnya pemberantasan praktik penyalahgunaan BBM bersubsidi yang kerap disebut masyarakat sebagai mafia solar.
“Solar ini ada tersedia pak, tetapi ketika masuk ke Pertamina biasanya langsung diborong oleh penampung. Mereka membeli dengan harga Rp6.800 per liter, kemudian menjualnya kepada nelayan kecil dengan harga Rp12.000 hingga Rp15.000 per liter ini yang terjadi di kampung saya pak. Kondisi ini kan sangat berpengaruh dan sangat mencekik ekonomi nelayan-nelayan kecil. Tolong pak, Kami memohon perhatian dan atensi dari bapak agar praktik-praktik seperti ini ditertibkan,” ujarnya.
Dirinya berharap pengawasan distribusi BBM bersubsidi dilakukan secara konsisten. Jika ditemukan pelanggaran, mohon segera ditertibkan.
Subsidi negara ini hrus benar – benar dinikmati masyarakat yang berhak karena persoalan BBM bukan hanya berkaitan dengan bisnis dan distribusi, namun menyangkut keberlangsungan ekonomi masyarakat. Karena itu, harus perlu pengawasan bersama, agar masyarakat mendapatkan pelayanan energi yang layak. (*)
Peliput: Meikel Pontolondo

Discussion about this post