• #12328 (tanpa judul)
    • Indeks Berita
  • Contact
  • Home 2
  • Home 3
  • Home 4
  • Home 5
  • Kebijakan Privasi
  • Laman Contoh
  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Talaud
  • Webtorial
Rabu, September 23, 2026
  • Login
Barta1.com
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita
No Result
View All Result
Barta1.com
No Result
View All Result
Home Fokus Opini

Peluru Kata

by Ady Putong
22 September 2026
in Opini
0
Ilustrasi. (gambar: AI Generated)

Ilustrasi. (gambar: AI Generated)

0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Catatan:
Alfred Pontolondo

Di suatu sore, tidak jauh dari pinggir hutan. Sebuah lubang senapan menyembul di antara akar pohon beringin. Lubangnya hampir sebesar mulut kanon, meriam kecil yang sering digunakan di kapal-kapal Blackbeard, yakni kelompok bajak laut yang pernah menguasai laut Karibia. Lubang senapan itu mengarah ke dahiku. Aku tertegun. Kutatap tajam mulut senapan itu, mencoba mencari tahu siapa di belakangnya. Namun sosok dibaliknya tidak kelihatan, tertutup rimbunnya sulur pohon beringin.

Tiba-tiba.. “Dor!!”

Aku terkesiap. Sebuah peluru melesat dari lubang senapan itu, sangat besar, meluncur mendekatiku. Tak mau dahi berlubang, kukerahkan kemampuanku, mencipta kuda-kuda siaga. Lalu dengan ilmu yang kupelajari bersama Keanu Reeves di film Matrix, kumiringkan tubuhku, gerak peluru menjadi lamban, menjadi slow motion. Kuangkat lengan kananku. Lalu dengan lembut peluru yang melesat ke dahiku itu kutahan, dengan ujung jari tengahku. Hanya dengan jari tengahku! Tapi jari telunjuk tak mau ketinggalan. Dengan tergesa ia bergerak dari samping lalu menjepit peluru itu bersama jari tengahku dan, set!

Aroma logam menyengat, sebuah tabung berbentuk peluru, tebalnya hampir sebesar bambu nasi jaha buatan tetangga depan rumahku. Panjang tabung itu sedikit lebih panjang dari telapak tanganku. Di samping tabung tertulis, DARI MATA 24/7. Aku memeriksanya.

Tepat di bawah tulisan terdapat lubang memanjang hampir menyentuh ujung kedua belah tabung itu. Sebuah kertas tipis tersembul. Kutarik kertas itu, teksturnya licin tapi lentur seperti kulit. Permukaannya penuh tulisan berwarna merah kehitaman. Aku membacanya. Dahiku berkerut.

Tulisan di kertas itu berisi semua tindakanku sejak kecil. Kujelajahi dengan mataku dari atas sampai ke bawah. Lalu kucoba tarik lagi untuk terus membaca. Aku terdiam. Entah berapa lama aku membaca tulisan di kertas-itu. Isinya tak habis-habis dan kertasnya pun tak ada ujungnya.

Aku tidak bisa merinci semua tulisan di kertas itu, karena isinya terlalu banyak dan mempermalukanku. Tidak cukup kertas untuk kusalin semua tulisan itu. Jadi, kupilih saja beberapa untuk kusalin ke sini.

Yang pertama, kupilih yang ini.

1985, di pinggir pantai Mohongsawang, Tagulandang. Tepat beberapa meter dari perahu berisi jaring yang belum lama digunakan masanae ke laut. Engkau berkelahi dengan Jefri teman sekelasmu, yang juga masih saudaramu. Lengannya yang besar memiting lehermu. Engkau kesakitan. Lalu dengan taktis kau ubah jemarimu menjadi cakar, bukan cakar ayam. Cakar itu kau pakai mencengkeram dua biji nangka di balik celananya, meremasnya seperti hendak memecahkan telur ayam untuk didadar, cukup lama, sampai ia megap-megap, mulas tak mampu menjerit. Nyaris saja pintu alam lain terbuka menyambut Jefri.

Engkau tidak fair. Secara sengaja kau langgar aturan beladiri! Sebaliknya engkau puas karena Jefri tak lagi mem-bully-mu dengan tinju besarnya. Lalu, setiap musim buah-buahan, ia datang memberimu mangga paneseng atau kedondong yang entah didapatkannya dari mana. Sejak saat itu, Jefri menjadi pengikutmu.

“Kok bisa?” aku tercengang. Aku bahkan nyaris lupa dengan perkelahian pakai jurus cakar itu. Kucoba mengingat wajah Jefri temanku yang menyeringai lebar menahan rasa. Seketika rasa bersalah merasuk. Tapi prekethek, dia pernah meninju pipiku hingga bengkak.

Tulisan berikut.
1989, sebelum waktunya, engkau memandang dari sela dinding bambu di gubuk reot rumah ayahmu di Rainis, Talaud. Engkau menikmati buah pengetahuan yang tidak bergelantung di tiang rumahmu. Itu sangat melanggar, baik norma sosial, maupun agama. Padahal setiap minggu di gereja, engkau rajin menyanyikan lagu “Anak skolah minggu dengar-dengaran”.

Seketika aku meringis, langit-langit mulutku seperti disemprot 3 sendok sari jeruk nipis. “Kok bisa ketahuan? Jangan-jangan kucing peliharaanku melihat lalu melaporkannya kepada penembak itu.” Aku bergidik.

1991, saat masih di sekolah menengah pertama dan di saat Indonesia baru memiliki tiga stasiun televisi yakni TVRI, RCTI dan SCTV, yang beritanya melulu tentang perang. Ya, perang teluk antara Amerika dan sekutunya menggempur Irak. Alasan penggempuran karena Irak dituduh hendak mencaplok Kuwait, sebuah negara kaya minyak di teluk Persia.

Saat itu, engkau pun ikut-ikutan mencaplok. Tapi yang kau caplok bukan daerah, apalagi negara. Kau mencaplok celana dalam dari kios kaki lima milik om Harun, pedagang perantau yang telah puluhan tahun tinggal di Beo, Talaud. Padahal, saat itu kamu belum memakai celana dalam. Kamu baru benar-benar memakai celana dalam dua tahun kemudian. Saat sebagian rambut di kepalamu tiba-tiba berpindah tempat.

“Hmh, memalukan. Yang remeh begini pake dicatat segala.” Aku mendengus.

Kemudian meloncat ke beberapa tahun berikutnya, tertulis begini.

1997, saat kau baru masuk sekolah menggambar di Yogyakarta. Seorang tetangga kos datang ke kamar sepupumu, tempat kau menginap. Ia simpan sejumlah amplop di wadah kulit bambu, tempat pakaian kotor saudaramu. Kau tidak tahu benda apa yang disimpannya. Yang engkau ingat, tetangga kostmu bersama sejumlah temannya meracik benda di amplop itu lalu menghirup asapnya. Hanya saja, mereka menghirup penuh penghayatan dan mata meram melek.

Kau suka tantangan baru. Tanpa seijin tetangga kostmu, engkau mengambil tiga amplop plastik mirip wadah obat dari apotek, dari wadah pakaian kotor itu. Isinya dedaunan kering yang sudah hancur dengan sedikit ranting kecil dan biji-bijian. Lalu dengan meniru protokol yang dilakukan tetanggamu, kau tuang isi amplop itu di selembar kertas. Kau campur dedaunan yang nyaris seperti bubuk itu dengan tembakau rokokmu. Tapi kau tidak langsung menyulutnya. Kau tunggu waktu yang tepat.

Tibalah waktu itu, jam 10 malam, saat suasana kost mulai sepi dan sepupumu belum pulang. Kau sulut dan kau habiskan seluruh campuran itu sendirian. Aromanya sama sekali tidak enak, seperti bau daun ketela dibakar. Lalu tiba-tiba, matamu menjadi sayu. Lampu di kostmu berubah menjadi berwarna warni. Kemudian semua benda di dalam kamar itu bergerak, berputar-putar tanpa bisa kau kendalikan.

Kau panik! Kau hendak hilangkan rasa tidak enak itu dari kepalamu. Kau lakukan push-up berulang-ulang, lalu sit-up. Waktu itu kau masih bangga dengan enam gelembung roti berjejer di kulit perutmu. Kini gelembungnya menyatu seperti bantal baru diisi kapuk. Namun setelah semua upaya atletik itu, rasa di kepalamu tak kunjung hilang. Kau ubah cara, kepalamu kau jungkirkan ke bawah dengan kaki tersandar di dinding, berharap jika darah menumpuk di kepala, rasa itu akan hilang. Tapi yang terjadi sebaliknya, kondisimu semakin tidak karuan.

Kau semakin panik, lalu mencoba mandi, di saat malam telah bergerak jauh. Tapi rasa itu tidak kunjung reda. Isi kepalamu terus berputar dengan bintang warna-warni. Sinarnya riuh seperti komidi putar berayun-ayun, yang sirkuitnya di kepalamu. Lalu, dalam kondisi gemetar, kau cari tukang becak. Ia mengantarmu ke tempat di mana engkau berakhir berputar-putar mirip kitiran angin di tiang penyanggah rumah sakit Bethesda. Selama, entah berapa lama.

Sejak malam itu, engkau mengaku trauma. Ngapusi. Nyatanya engkau kemudian bergaul dengan topi miring. Sebuah pengalihan yang tidak bonafid.

Esok harinya, tetangga kostmu datang. Matanya lekat, menatapmu sengit tanpa suara. Ujung matanya berair, nyaris mengalir. Amplop berisi jualan untuk bayar kost dan biaya makan dua minggu tinggal serpihan ranting. Lehernya menegang, tapi tiba-tiba lunglai, lalu berpaling pergi. Saat itu, kau tatap matanya dengan tatapan anak sekolah minggumu. Sangat manjur. Ternyata ada untungnya kau berlatih drama di waktu natal.

Membaca bagian itu, aku hanya bisa mengangkat bahu, tak bisa membantah.

Lalu terakhir, sebuah catatan panjang berisi peristiwa yang terjadi belum lama ini.

2026, di awal bulan Juli. Kau ditugaskan pimpinan kantormu ke Talaud, menghadiri kegiatan masyarakat adat. Kau ke pelabuhan, naiki kapal, tapi tiba di Sofifi, kota tempat Gubernur cantik itu memerintah. Ini untuk pertamakalinya dalam hidupmu, engkau begitu oon, salah naik kapal.
Tapi meski salah arah dan tidak sampai ke tujuan, engkau tetap mengambil uang tiket dan biaya perjalanan yang totalnya sejuta empat ratus ribu rupiah. Alasanmu, kan saya tidak sengaja! Lalu engkau menyusup ke dalam laporan tugas yang tidak kau kerjakan. Itu manipulasi. Itu korupsi!
Korupsi kecil-kecilan. Yang seperti itu harus dikembalikan.

Aku lemas. Uangnya sudah terpakai untuk kebutuhan di rumah. Mengembalikannya berarti aku harus cicil dari jatah jajan anakku. Terbayang wajah ketiganya.

Plakk!!
Tanpa bisa kutahan, tangan kananku menggampar kepalaku sendiri.

Tapi tulisan itu kembali berlanjut.

Lain kali kamu perlu mengubah cara. Jangan kepalang tanggung. Jangan jujur-jujur amat. Amat saja jarang jujur. Begini caranya, engkau perlu berbaik-baikan dengan semua orang di kantor. Bermanis-manislah kepada pimpinan dan siapa saja. Supaya engkau diberi tugas perjalanan dinas yang jauh lebih banyak, berulang-ulang. Meski tak ada yang kau kerjakan.

Jika ditugaskan, penting juga bagimu untuk tidak datang ke tujuan. Cukup orang lain yang pergi, nanti traktir dia nasi kuning sebagai gantinya. Lalu, untuk bukti kehadiran di laporan, gampang. Dengan teknologi tingkat dasar, fotomu bisa diselip di antara orang-orang, supaya engkau terlihat ada di tempat.

Sesekali juga, jika ditugaskan tiga hari, cukup datang sehari. Bawalah pakaian yang banyak, lalu ambil foto dengan pakaian berbeda-beda di berbagai lokasi di tempat tujuan, itu strategi agar engkau terlihat bertugas selama tiga hari. Gunakan akalmu.
Aku manggut-manggut, tapi terhenyak dan sadar kembali. Yang kuangguki ternyata lembaran kertas. Tulisan pun berlanjut.

Agar karirmu naik, engkau perlu menjaga hubungan spesial dengan pimpinanmu. Tunduklah terus. Meski ada yang keliru, jangan mengoreksi apalagi membantah. Engkau hanya akan mengait mata kail ke lehermu. Ingat, cukup mengangguk-angguk saja. Lakukan itu dengan roman serius, seperti mengangguk-angguk ke anggota DPR yang lagi jualan sabun.

Jika ada tanggung-jawab yang diberikan, kerjakan sendiri, abaikan yang lain. Engkau harus benar-benar menonjol. Berusahalah agar engkau selalu tampil, terekspos di mana-mana. Sekalipun yang kau lakukan saat kerja bakti hanya menyentuh ujung rumput dan klik! Engkau terjepret. Itu semua cara agar sinarmu semakin glowing. Mengapa?

Karena hidup ini hanya milikmu. Jangan habiskan waktu untuk berbagi dengan orang lain. Karena tahu tidak? Orang lain tidak bisa dipercaya. Hanya kamu satu-satunya yang memiliki kemampuan dan bisa dipercaya. Dan, jangan pernah lupa. Sesering mungkin, puji-pujilah pimpinanmu, walaupun tidak ada yang perlu dipuji. Itu jalan paling jitu agar engkau dipromosi.

Satu lagi saran agar engkau dipromosikan. Manfaatkan orang lain. Bermohonlah sambil merendahkan diri hingga bibirmu menyentuh tanah. Karanglah cerita betapa sabarnya engkau menunggu, betapa menderitanya engkau setiap hari karena belum bisa naik mobil Dinas. Lalu saat sinyal sudah ada, cari tangga untuk naik. Jika tidak ada tangga, pijaklah pundak orang lain. Bahkan jika dibutuhkan, injak kepala orang itu, lalu lupakan dia. Itu sah, tidak ada undang-undang yang melarangnya.

“Kok tulisannya makin belok” di sekolah minggu tidak diajarkan begitu.

Masih terus lagi.

Nah, jika engkau sudah dipromosi, inilah kesempatanmu. Olahlah anggaran dengan kreatif. Jangan apa adanya, apalagi mengikuti ajaran guru sekolah minggumu. Itu usang! Engkau hanya akan tinggal di rumah dua petak jika demikian. Sebaliknya ini saranku. Naikkan biayanya, tambah jumlahnya. Jika engkau hendak beli sepuluh barang, cantumkan dua puluh tiga di rencana anggaran. Urusan kwitansi, tinggal kedipkan mata ke pemilik toko.

Jika buat kegiatan di hotel, bekerjasamalah dengan manajemennya. Bagi fifti-fifti atau siksti-forti. Itu kemitraan yang saling menguntungkan. Simbiosis mutu manikam. Lalu untuk laporan pertanggung-jawaban, gampang. Gunakan data dan angka yang terlihat presisi, untuk meyakinkan pemeriksa. Itu pentingnya engkau belajar eksakta. Jika pemeriksa tidak bisa diyakinkan? selipkan amplop. Dengan demikian engkau bisa menyisihkan sedikit banyak untuk hari tuamu. Dan ingat! Jangan sekali-kali kau kembalikan ke kas negara, itu sudah rejekimu. Dan satu lagi yang lebih penting, jangan lupa berdoa.

Dahiku berkerut.
Masih berlanjut.
Jika nanti engkau sudah jadi pimpinan kantor, tetaplah cerdas. Hayati peribahasa ini; “Cerdik seperti merpati, tulus seperti ular”. Lalu untuk memobilisasi pasukan, kuasai ilmu Nicholas Maniapelli, filsuf agung asal benua seberang itu. “Menguasai tanpa kokang senjata”. Cukup kelola ketakutan, anak buahmu takluk, engkau pun konsisten berwibawa.

Lalu, aturlah berbagai proyek di kantormu. Ada yang diwujudkan sesuai rencana, sebagian lagi bagilah dengan baik, untukmu dan anak buahmu. Tujuannya agar mereka rajin membeli plester untuk bibirnya. Selanjutnya, jangan lupa menyetor ke atas. Untuk setoran itu, jangan serahkan langsung. Engkau hanya akan menyiram setangki kuah septic tank ke wajah pimpinanmu, terutama jika ia sudah mengenakan rompi KPK. Sekali lagi jangan. Dan ini jaminannya. Jika engkau lancar menyetor, engkau akan diprioritaskan menjadi Sekretaris Daerah. Hehehehe.
“Ngek!”. Makin melenceng arah tulisannya.
Jangan lupa hal ini juga. Usahakan engkau selalu tampil relijius. Selalulah ke gereja, berpakaian rapi, necis dan duduk paling depan. Lalu saat berdoa diiringi lagu menyentuh, jangan engkau lupa teteskan air mata. Itu sangat penting. Terlebih lagi jika kau suruh anak buahmu memotret dari samping. Tapi jangan berlebihan, supaya jangan dikira engkau sedang menangisi anjingmu yang belum dikasih makan di rumah. Ingat! Gereja itu rumah Tuhan. Dan satu lagi yang jauh lebih penting. Berilah sumbangan berulang ke gereja, lalu publikasikan ke media sosial.

Telingaku panas dan berdenging. Belum selesai, tulisan masih berlanjut.

Jika engkau masih muda dan pangkatmu sudah tinggi, ajukan diri beralih ke pusat. Mudah-mudahan engkau menjadi menteri. Tapi ada barternya, engkau pasti sudah mengerti. Bekerjasamalah dengan politisi, atau pengusaha, atau para petualang yang melingkar lingkar di istana. Di tahap ini, levelmu naik berkali lipat. Engkau mengurus berjuta orang, anggarannya pun untuk berjuta orang.

Nah, ini saran konkritku.

Jika engkau diangkat menjadi Menteri Lingkungan Hidup, keluarkan ijin sebanyak mungkin agar hutan-hutan Indonesia dirambah. Terutama hutan Papua. Dengan demikian pundi-pundimu bertambah. Soal kebakaran hutan, tidak usah engkau pusing. Biar negara tetangga menikmati asapnya dan Presiden yang sakit kepala. Engkau cukup ongkang kaki, sambil tonton TV berisi siaran kobaran menyala.

Nanti, jangan kaget kalau bukit longsor. Itu resiko orang di desa. Jangan juga kuatir banjir melanda kota-kota. Buat saja rumahmu di dataran tinggi, maka banjir hanya akan melanda rumah orang miskin.
Itu cara menikmati hidup sebagai menteri tanpa direpotkan orang lain atau oleh generasi masa depan. Kita hidup untuk hari ini. Manfaatkan. Generasi mendatang punya kesusahan sendiri, mereka harus menanam pohonnya sendiri.

Nah ini saran taktis saat hutan dibabat lalu timbul kegemparan karena protes warga lokal. Caranya sangat gampang. Sebut mereka separatis, masalah pun selesai.

Kemudian, jika engkau mendapat kehormatan diangkat menjadi Kepala Badan Gizi Nasional, berteriaklah dengan keras “Horeee!!.” sambil hentakkan kedua tanganmu ke bawah seperti gaya bintang sepak bola. Menjadi kepala BGN adalah puncak pencapaian seorang aparatur sipil negara. Bayangkan engkau akan mengelola anggaran sebesar 268 triliun rupiah.

Engkau yang organisasimu hanya seupil, mengalahkan anggaran Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah yang mengelola manusia Indonesia sebanyak 50,6 juta orang, yang anggarannya hanya 56,68 triliun rupiah. Bahkan ini jeniusnya. Anggaran pendidikan sebesar 223,6 triliun rupiah dialihkan dengan mulus menjadi anggaran organisasimu. Tujuannya sangat mulia, agar anak-anak Indonesia kenyang.

Soal anak harus pintar, itu urusan guru. Biar mereka bekerja keras memintarkan anak Indonesia, engkau bekerja habiskan uangnya. Cerdas bukan? Soal SPPG fiktif, jual beli dapur dan mark up macam-macam, itu gampang saja. Biar buzzer yang ubah opininya. Kan engkau disupport penuh oleh kepala negara. Tidak usah takut engkau akan tertangkap korupsi seperti kepala BGN lama. Dia hanya sial saja. Atau mungkin IQ-nya di bawah rata-rata.

Soal siswa keracunan? itu lebih gampang lagi. Tinggal masukkan data korban ke dalam statistik lalu hitung jumlahnya. Yang keracunan itu hanya 0,0000 sekian dari jumlah anak di seluruh Indonesia. Mereka mati atau tidak, tidak akan mempengaruhi statistik.

Perutku mulai kembung, dadaku sesak, mulut terasa asam.

Nanti, mungkin saja engkau diangkat menjadi Menteri Sosial. Jadi perkecil porsi bansosnya. Jika ada yang tanya selisihnya, katakan itu potongan administrasi. Jika diakumulasi se-Indonesia, jumlahnya pasti lumayan untuk masuk kantongmu.

Jika karena itu, kemiskinan bertambah, buka lowongan kerja ke luar negeri. Kirim orang miskin sebanyak mungkin ke Kamboja, biar mereka bekerja sebagai scammer. Jika ada yang mencoba melarikan diri, jangan dibantu pulang. Mereka hanya akan menaikkan tingkat kemiskinan kembali.

Jika anak-anak muda Indonesia miskin dan tanpa keahlian, jual mereka secara borongan. Banyak negara di dunia menginginkan buruh murah atau pekerjakan mereka ke lokalisasi luar negeri. Jika tidak, organ tubuh mereka masih berharga. Banyak orang kaya di berbagai negara penyakitan. Mereka butuh organ segar dari pemuda dan pemudi Indonesia. Jika ada di antara mereka masih hidup, jangan sekali-kali ijinkan kembali ke Indonesia, kecuali sudah kaya.

Dengan demikian, engkau pasti berhasil mengentaskan kemiskinan keluar dari Indonesia. Lalu anggaran kementerianmu bisa kau bagi dengan sesama kawan, yang otaknya mirip denganmu.

Aku ingin memberi engkau saran lain semisal engkau ditunjuk memimpin setiap lembaga tinggi di Indonesia. Tapi satu hal yang akan tetap sama aku sarankan. Gunakan kecerdasan maksimal untuk memindahkan harta negara ke kantongmu. Ini jalan utama menyongsong Indonesia emas 2045. Kalianlah potret Indonesia sesungguhnya, yang akan membawa negaramu menjadi terbaik keempat ekonomi dunia.

Gerak di perutku mulai mendesak tenggorokan.

Kemudian, jika timbunan kekayaanmu sudah berbukit, jangan hanya simpan dalam bentuk angka. Itu beresiko. Belilah aset. Gunakan nama keponakan atau kerabatmu, agar kekayaanmu itu tak perlu dilaporkan dalam LHKPN. Tetaplah cerdas. Jika di daerah engkau hanya menyetor ke atas, di level ini engkau harus menyetor juga ke kanan kiri. Licinlah seperti belut, agar kolammu aman.

Jangan engkau cepat-cepat minta dipenjara. Tambah timbunanmu hingga bisa membeli tujuh belas pulau. Karena jika di pengadilan engkau diminta mengembalikan enam pulau, engkau masih punya sebelas, bukan sepuluh. Bertahanlah dulu hingga milikmu tak terhitung. Baru serahkan diri ke KPK.

Tapi jangan juga engkau menyerahkan diri dengan biasa-biasa saja. Ciptakanlah drama. Buatlah dirimu seperti Eddy Tansil, atau bandar minyak yang diloloskan dengan penuh kasih sayang itu. Minimal, buatlah cerita seperti si jaksa dan emasnya, bahkan lakukan lebih lagi sambil tersenyum riang di depan kamera. Dengan demikian, engkau akan menghentak media. Namamu akan tercatat sebagai koruptor terbaik, mungkin oleh MURI, atau oleh Guinnes World Records sebagai the prettiest smiling corruptor. Itu jalan paling spektakuler membuat Indonesia mendunia.

Aku membekap mulutku. Ada cairan kuning merembes di antara jari.

Tulisan masih berlanjut.

Ini juga saran baik bagimu. Saat di penjara, bersenang-senanglah. Sumpallah mulut petugas penjara dengan recehan dari sakumu. Itu agar engkau bisa jalan-jalan ke Bali lalu menonton pertandingan tenis. Nikmatilah masa penjara sambil pelesir ke Hawaii atau Paris. Tentu kau harus menyewa penata rias dan tikus imigrasi terbaik untuk itu. Lalu, kalau ada yang menakut-nakutimu dengan rencana pengesahan undang-undang perampasan aset, jangan pedulikan. Kau tahu kan, undang-undang itu hanya bohong-bohongan?

Dalam semua proses itu, siapkan koin sebanyak mungkin. Serahkan itu kepada tikus-tikus berpistol dan yang di pengadilan. Mereka bernafsu besar terhadap koin. Atur dengan baik lalu bagi di setiap jenjang. Semakin tinggi jenjangnya semakin banyak koin untuk kau taruh di piring mereka. Tapi itu hanya koin, tidak akan menghabiskan gundukan hartamu.

Menjelang masamu tahananmu berakhir, buatlah kisah. Buatlah kisah inspirasi tentang pertobatan anak yang hilang, tapi tidak hilang uangnya. Lalu ketika keluar penjara, mungkin engkau sudah dipecat negara, tapi engkau masih bisa membeli isi negara. Karena itu jangan kuatir. Yang hilang masih bisa engkau beli kembali.

Kemudian, tampillah di depan publik. Bicarakanlah moral. Kritik tajamlah orang-orang yang mengkritik penguasa. Tirulah politisi partai pohon belimbing yang mengambil uang PLTU di Sumatera itu. Percayalah, masa lalu akan terhapus. Yang penting engkau percaya diri dan mampu berkhotbah berapi-api di depan kamera.

Dengan demikian, mudah-mudahan engkau bisa dipilih menjadi Gubernur atau anggota DPR. Dan..

“Cukup! Makin melantur! Hoeeek!!”

Dengan nanar sambil menjaga agar tidak muntah lagi, segera kuambil sesuatu di pinggang. Sebilah pisau yang masih berkilat, pemberian mendiang ayahku. Pisau itu sering dipakai ayah bila melaut. Ia selalu mengasah pisaunya sebelum memanggul dayung, kini aku yang mengasahnya. Pisau itu pernah digunakan ayah menaklukkan seekor hiu. Aku tak seberani ayah, tapi aku ingat ajaran utamanya. “Jangan mengambil lebih dari laut”.

Tanganku gemetar. Kuiris kertas di genggamanku, tepat sebelum tulisan terakhir, lalu kugulung itu di lenganku. Tabung dan kertas sisanya jatuh ke tanah. Mataku menyala melihatnya.

“Kukira dia nabi atau malaikat yang menyamar. Ternyata dia politisi. Tapi ia salah sangka. Ia pikir dengan masa lalu yang buruk maka isi kepala setiap orang akan terus menerus miring seperti otaknya. Sialan.” Aku mendengus keras.

Aku membungkuk hendak mengambil tabung itu. Aku hendak menghancurkannya. Tapi tiba-tiba, suara berkesiur, nyaring. Angin berhembus keras dari sela-sela akar beringin ke arahku. Aku melompat ke samping, menghindar. Terbanting. Kali ini semua ilmuku tidak berguna. Sambil menahan sakit di pinggang akibat membentur tanah, kulihat tabung peluru itu terangkat.

Tidak ada suara tembakan. Mendadak sebuah tabung yang lebih kecil menyembul keluar dari moncong senjata di sela akar itu. Tabung itu mengapung beberapa meter di atas kepalaku, bergabung bersama tabung pertama. Lalu keluar satu lagi, dan lagi. Satu per satu tabung-tabung kecil menyerupai peluru keluar dalam jumlah sangat banyak. Di setiap samping peluru tersembul kertas, aku melihatnya jelas.

Aku terbelalak, sangat lama. Bulu kudukku meremang, tubuhku lunglai. Kumpulan peluru itu membubung tinggi di udara, membentuk gumpalan raksasa dengan ukuran beberapa kali lipat melebihi diameter pohon beringin di depanku.

Akhirnya setelah sekian lama, peluru-peluru itu berhenti keluar dari sela akar. Moncong senjata itu pun menghilang. Lalu pelan-pelan gumpalan besar itu naik perlahan, meninggi sampai mengapung di atas pohon-pohon di hutan itu. Tiba-tiba.

“Dhuaarrr!!” gumpalan besar itu meledak. Suaranya memekakkan telinga. Pepohonan terguncang keras, dedaunan beterbangan memenuhi udara. Aku tergetar hebat.

Sekilas kulihat peluru-peluru berdesing ke segala arah dengan kecepatan mematikan. Meski lemah, dengan panik aku meloncat ke balik akar beringin, jangan sampai terkena peluru nyasar. Namun, tidak kulihat seorang pun dibalik akar itu. Kertas yang melilit di tanganku pun mulai terurai.

Lalu, setelah tidak terdengar apa apa lagi, aku berjingkat keluar pelan. Tubuhku menggigil. Di atas sana, dari ujung pohon yang daunnya menutupi cahaya matahari, kulihat selembar kertas jatuh perlahan di antara jutaan daun yang gugur. Kertas itu berayun ringan dihembus angin hingga jatuh ke atas rerumputan. Aku merangkak mengambilnya.

Kertas itu mirip kertas yang melilit di tanganku. Di sana sini terdapat lubang, sepertinya akibat ledakan. Di atas kertas terdapat tulisan dengan warna seperti di kertasku.

“Kepada 6.776.000 orang di seluruh Indonesia. Mereka yang beruntung menjadi pegawai pemerintah. Salam damai penuh kasih. Dari MATA 24/7”

Aku tertegun, tubuhku kembali gemetar. Tanpa sadar mataku kembali memandang langit, ke arah peluru-peluru yang menghilang.

“Ternyata peluru pertama bukan hanya untukku”. Mataku terpejam, gigiku kukatup keras.

Tapi tiba-tiba telingaku menangkap sesuatu. Ya, sesuatu yang bergerak di balik akar beringin itu.

Dia lagi. Kupejamkan mata, kukencangkan kedua lenganku. Gigil ini harus berhenti, atau aku yang akan terhenti di sini. Mataku menyala, ingin kubakar akar itu.

Langit berangsur gelap, udara mulai dingin. Tubuhku masih gemetar, keringat mengucur lebih deras. Seluruh tubuhku menegang, kakipun berat. Aku paksa dekati akar beringin itu. Dengan tangan tak berhenti menggigil, pisau ayah tidak kulepas. Kugenggam semakin erat. Mataku, tak kulepas dari akar itu.

Glosarium :
Blackbeard : nama kelompok bajak laut di laut Karibia awal abad 18
Nasi jaha : nama penganan tradisional Sulawesi Utara berupa nasi ketan dalam bamboo
Masanae : sebutan untuk kelompok nelayan yang hendak melaut bersama di satu perahu besar.
Paneseng : jenis mangga khas di kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.
Prekethek : (Jawa Slang) untuk ungkapan pusing amat.

Manado, 16 September 2026

(Penulis adalah seniman di Sulawesi Utara)

Seluruh tulisan opini yang tayang di Barta1.com merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan redaksi. Tanggung jawab sepenuhnya atas isidari tulisan tersebut berada di pihak penulis yang bersangkutan. Redaksi berhak menyunting naskah untuk keperluan tata bahasa tanpa mengubah substansi, serta memfasilitasi hak jawab bagi pihak yang ingin memberikan tanggapan.

Barta1.Com
Tags: Peluru Kata
ADVERTISEMENT
Ady Putong

Ady Putong

Jurnalis, editor. Redaktur Pelaksana di Barta1.com

Discussion about this post

Berita Terkini

  • Peluru Kata 22 September 2026
  • PLN Hadirkan Kemudahan Pendaftaran Home Charging Services Ultima Via PLN Mobile 22 September 2026
  • Paripurna DPRD Sulut Diwarnai Pantun, Ketua Dewan Singgung : Banyak “Flash”  22 September 2026
  • Kejari Bitung Musnahkan Barang Bukti 39 Perkara Inkracht, Tegaskan Komitmen Berantas Narkoba 22 September 2026
  • Polimdo Dorong Digitalisasi Kearsipan Desa Senduk, Aparatur Dilatih Kelola Arsip Lebih Tertib 22 September 2026

AmsiNews

  • Pedoman Media Siber
  • Redaksi
  • Kebijakan Privasi

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

No Result
View All Result
  • Home
  • News
    • Nasional
    • Edukasi
    • Barta Grafis
    • Prodcast
    • Mode
    • Traveling
    • Gastronomi
    • Tekno
    • Obyek
    • Iven
  • Daerah
    • Talaud
    • Sitaro
    • Sangihe
    • Kotamobagu
  • Politik
  • Kultur
    • Budaya
    • Sejarah
    • Seni
    • Sastra
    • Biografi
  • Fokus
    • Lipsus
    • Opini
    • Tajuk
  • Olahraga
  • Mereka Menulis
    • Esoterisisme
    • SWRF
  • Video
  • Webtorial
  • Indeks Berita

© 2018-2020 Barta1.com - Hosting by ManadoWebHosting.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In