Catatan:
Alfred Pontolondo
Konon, ada sebuah negara kepulauan yang kaya raya, dengan emas, berlian dan kayu berharga tapi rakyatnya miskin. Nama negara itu Hanoko. Negara itu dipimpin seorang yang penuh pura-pura. Terlihat berpihak pada rakyat, tapi yang dilakukan sebaliknya.
Ia memimpin negara itu bersama para bandit. Rakyat diperas dengan berbagai pungutan, sementara emas, berlian ditambang untuk dibagi kepada kepala negara dan kawanan banditnya.
Dulu para bandit itu adalah kawanan bajak laut yang entah bagaimana boleh merebut kekuasaan dan memimpin negara itu.
Kondisi sebagian besar masyarakat Hanoko benar-benar bertolak belakang dengan kehidupan para bandit penguasa negara itu. Sebagian besar masyarakat hidup sebagai petani tanpa lahan, karena kebun mereka dirampas menjadi kebun sawit. Sebagian lagi menjadi buruh pabrik dan pelabuhan, dengan gaji hanya cukup untuk duapuluh delapan hari, sementara dua hari sisanya harus berhutang.
Ada yang menjadi nelayan yang hanya bisa melaut beberapa mil saja, karena di seberang sana laut sudah dikuasai para bandit. Ada yang jadi tukang ojek, pemulung, pedagang kaki lima, sopir yang semua mereka miskin semiskin-miskinnya.
Sementara para bandit yang menguasai negara Hanoko hidup dalam kemewahan. Mereka tinggal di gedung-gedung bertingkat, memiliki puluhan mobil mewah, ribuan hektar ladang sawit, tambang emas, nikel dan batubara, perkebunan tembakau, teh, karet. Mereka miliki kapal pesiar, pesawat jet pribadi dan semua kemewahan yang tidak bisa dirasakan oleh mayoritas rakyat Hanoko. Sungguh jomplang ketimpangannya.
Itu menyebabkan rakyat Hanoko terus menerus resah. Mereka menggugat pimpinan negara dengan berbagai demostrasi, dengan poster, dengan spanduk, dengan meme, dengan semua komentar penuh tanya di berbagai media yang menyebabkan suasana negara Hanoko penuh kekacauan.
Namun anehnya, dalam kondisi negara kacau dan rakyatnya miskin, negara Hanoko secara terus menerus membiayai sebuah lembaga yang berisi 732 orang. Lembaga itu bernama Dewan Pura Rupa disingkat DPR.
Kepala Negara secara besar-besaran membiayai Lembaga ini, karena lembaga ini yang ditugaskan untuk membenarkan semua yang dilakukan Pemerintah. Mulai dari memeras rakyat, merampas pulau, mengeksploitasi para pekerja, melindungi para pencuri uang negara, membabat hutan, dan masih banyak lagi.
Setiap orang yang masuk menjadi anggota lembaga itu, akan digaji beratus kali lipat dari gaji seorang pekerja di toko. Mereka akan dipilih setiap lima tahun sekali. Itulah sebabnya, selalu ada puluhan ribu orang yang mendaftar dan minta dipilih oleh rakyat.
Bahkan untuk bisa dipilih mereka rela menjual kebun, menjual rumah saudaranya, lalu dengan segala cara mereka membujuk rakyat dengan semua tipuan agar dipilih. Sebagai imbalan, mereka membayar rakyat Hanoko yang bodoh dengan uang.
Tapi ada satu syarat utama agar bisa menjadi anggota DPR. Yaitu setiap calon anggota bersedia untuk diubah posisi mulut dan duburnya. Mulut berpindah ke antara bokong, sebaliknya dubur mengambil posisi di bawah hidung.
Tapi bagi warga Hanoko yang sudah kebelet ingin jadi anggota DPR, syarat itu tidak masalah, karena imbalan gaji untuk mereka sangat besar. Mereka menerima, dan membiarkan mulut dan dubur mereka saling berganti posisi.
Akhirnya setelah terpilih, syarat itu pun berlaku. Sejak resmi terpilih, untuk makan para anggota DPR akan berdiri di atas kursi, membuka celana dan roknya, lalu mendekatkan bokong mereka ke piring makan.
Untuk menyuapinya, mereka akan mengambil sendok dan membuka lebar-lebar bokong mereka lalu memasukkan makanan. Setelah selesai, mereka akan mengambil tisu untuk mengelap bagian tengah bokong mereka, biar bersih dari sisa makanan.
Namun pekerjaan utama para anggota DPR adalah berbicara. Mereka sangat suka tampil di depan public. Maka tampillah mereka dengan bangga setiap waktu di depan rakyat atau di depan televisi. Sayangnya, setiap kali mereka bicara, rakyat pun menutup hidung dan telinga mereka, lalu pergi menjauh.
Suatu waktu, sekumpulan anak sekolah seusia anak SD jika di negara Indonesia, datang berkunjung ke Gedung DPR. Mereka mendapat tugas membuat laporan kegiatan para anggota DPR. Kebetulan saat itu, ada sejumlah laki-laki dan perempuan anggota DPR hendak menyampaikan rancangan aturan tentang bagaimana berpura-pura menangkap koruptor.
Anak-anak itu pun bergabung di ruangan konferensi pers itu. Mereka telah menyiapkan alat tulis.
Di dalam ruangan tampak kamera di mana-mana sementara semua orang yang memegang kamera mengenakan masker mirip astronaut. Yang tidak mengenakannya hanya para siswa sekolah itu.
Para siswa kaget, untuk pertama kalinya mereka melihat mulut para anggota DPR bentuknya berbeda dengan mulut mereka. Tidak ada gigi yang tampak, juga tidak ada lidah. Mulut itu bergerak aneh dan mengeluarkan suara yang sama sekali tidak mereka mengerti.
Salah seorang siswa yang penasaran mengangkat tangan hendak bertanya. Seorang bermasker astronaut yang tugasnya membawa acara menggerakkan tangannya meminta anak itu maju ke depan.
Penuh rasa ingin tahu anak itu pun maju, lalu bertanya. “ mengapa mulut bapak-ibu sejak tadi hanya mengeluarkan kentut?” pertanyaan itu langsung disambut gelak tawa para tamu yang hadir. Tiba-tiba..
“Braak!!”
Meja digebrak.
Tawa di ruangan itu seketika terhenti. Salah seorang anggota DPR bertubuh besar dan tampak paling berwibawa di antara mereka mengangkat tangan lalu menunjuk ke arah anak kecil yang tadi bertanya. Tubuhnya menggigil, menahan sesuatu.
Anak itu terdiam, gemetar. Dilihatnya mata bapak itu melebar, alisnya beradu, wajah dan hidungnya memerah, nyaris seperti salah satu warna di bendera Indonesia. Lalu tiba-tiba mulut aneh bapak itu bergerak dengan cepat dan..
“Dhuut! Dhut.. dhuuut.. dut dut duuuuut!!” ada hembusan angin di selanya.
Seketika aroma campuran, asam, tajam, isi perut ikan, selokan, dan tikus mati segera merebak ke seantero ruang itu. Anak itu pun meringis, lalu segera membalikkan badan.
Teman-temannya pun panik. Mereka segera menutup hidung lalu berlarian keluar dari ruangan itu menjauh. Mereka tidak peduli lagi tugas yang diberikan guru mereka.
Anak yang bertanya tadi kemudian berhenti sejenak sambil marah-marah.
Ia pun menulis di bukunya dengan tulisan besar dan kasar.
“MULAI SAAT INI, JANGAN PERNAH DENGARKAN ANGGOTA DPR BICARA!!”
Lalu ia segera menyusul teman-temannya dan tidak pernah kembali lagi.
Manado, 30 Agustus 2026
(Penulis adalah seniman di Sulawesi Utara)
Seluruh tulisan opini yang tayang di [Nama Media] merupakan pandangan pribadi penulis dan tidak mencerminkan sikap maupun kebijakan redaksi. Tanggung jawab sepenuhnya atas isidari tulisan tersebut berada di pihak penulis yang bersangkutan. Redaksi berhak menyunting naskah untuk keperluan tata bahasa tanpa mengubah substansi, serta memfasilitasi hak jawab bagi pihak yang ingin memberikan tanggapan.

Discussion about this post