Manado, Barta1.com — Penampilan monolog tokoh Proklamator Indonesia, Soekarno, berhasil memukau penonton dalam rangkaian Festival Bung Karno Manado yang digelar pada Jumat, (12/6/ 2026), di kawasan Malalayang Beach Walk, Manado, dalam rangka memperingati Bulan Bung Karno.
Ribuan pengunjung yang memadati area festival larut dalam suasana haru dan reflektif saat sosok Bung Karno dihidupkan kembali melalui pertunjukan teater monolog berjudul Suara Dari Celah Sejarah yang penuh penghayatan.
Festival Bung Karno Manado sendiri merupakan agenda tahunan Pemerintah Kota Manado yang bertujuan menanamkan nilai nilai perjuangan, nasionalisme, dan semangat kebangsaan kepada masyarakat melalui berbagai kegiatan edukatif dan seni budaya.
Monolog Suara Dari Celah Sejarah mengangkat pergulatan batin Bung Karno dalam lintasan sejarah perjuangan bangsa. Dengan tata panggung yang sederhana hanya sebuah kursi kayu, peci hitam, dan lampu gantung, pertunjukan mampu menghadirkan suasana yang kuat dan intim.
Saat itu, penonton diajak memasuki ruang kontemplasi Sang Proklamator, menyaksikan perjalanan pemikiran, pengorbanan, hingga kegelisahan seorang pemimpin yang mengabdikan hidupnya bagi kemerdekaan Indonesia.
Peran Bung Karno dalam monolog Suara Dari Celah Sejarah dibawakan oleh Nehemia Takaseda, seorang guru honorer di SD Kristen 45 Manado yang juga dikenal sebagai aktor muda yang tengah naik daun di dunia teater Sulawesi Utara.
Penampilannya yang penuh penghayatan berhasil mencuri perhatian penonton sepanjang pertunjukan. Melalui vokal yang kuat, ekspresi yang mendalam, serta penguasaan panggung yang matang, Nehemia mampu menghidupkan kembali pergulatan batin Sang Proklamator dan menyampaikan pesan kebangsaan yang menggugah hati para penonton.
Penampilannya dalam Festival Bung Karno Manado menjadi bukti konsistensinya dalam mengembangkan seni pertunjukan teater sekaligus menghadirkan karya yang sarat makna bagi masyarakat.
Sejak babak pembuka, penonton terlihat terdiam mengikuti setiap dialog. Narasi yang kuat, didukung ekspresi dan penguasaan panggung yang intens, membuat penonton seolah menelusuri kembali perjalanan sejarah bangsa dari sudut pandang Bung Karno.
Kisah tentang Marhaen, masa pengasingan di Ende dan Bengkulu, serta pergulatan menghadapi keraguan dari bangsanya sendiri disampaikan dengan penuh emosi dan berhasil menggugah suasana.
Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika tokoh Bung Karno menyampaikan refleksi tentang persatuan bangsa dan suara rakyat yang sering terlupakan. Kalimat kalimat yang sarat makna tersebut sukses menyentuh hati penonton, bahkan beberapa tampak menitikkan air mata.
Puncak pertunjukan terjadi saat seruan “Merdeka!” menggema dari atas panggung. Tepuk tangan panjang langsung pecah memenuhi area Malalayang Beach Walk sebagai bentuk apresiasi terhadap penampilan yang dinilai berhasil menghidupkan kembali semangat perjuangan Bung Karno.
Suasana semakin emosional ketika pada bagian akhir monolog, Bung Karno menitipkan pesan kepada generasi penerus untuk menjaga persatuan, keadilan sosial, dan cita cita bangsa.
Dengan suksesnya pementasan tersebut, seni pertunjukan kembali membuktikan kemampuannya sebagai media yang kuat untuk menyampaikan sejarah dan menyalakan semangat kebangsaan. Monolog Suara Dari Celah Sejarah tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga pengingat bahwa gagasan tentang persatuan, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat kecil tetap relevan hingga hari ini.
Malam itu, Bung Karno tidak sekadar dikenang. Melalui panggung Festival Bung Karno Manado di Malalayang Beach Walk, ia seolah hadir kembali, menyapa generasi masa kini dan mengingatkan bahwa perjuangan belum selesai selama masih ada ketidakadilan dan kemiskinan di negeri ini.Monolog Bung Karno Pecah di Festival Bung Karno Manado, Nehemia Takaseda Tuai Apresiasi Penonton. (*)
Peliput: Randy Dilo


Discussion about this post