Manado, Barta1.com — Dalam rangka memperingati Hari Buruh dan Hari Kebebasan Pers Sedunia 2026, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Manado menggelar sebuah diskusi yang berlangsung di Sekretariat AJI Manado, Rabu (6/05/2026).
Diskusi ini tersebut mengangkat tema “Kondisi Jurnalis di Sulawesi Utara Hari Ini” dengan menghadirkan narasumber, yakni Sartika Sasmi Ticoalu dari LBH Pers Manado, Fransiskus Talokon selaku Ketua AJI Manado, serta Bathin Razan, pengurus SPLM Manado.
Bathin membuka diskusi dengan sebuah pertanyaan mendasar: apakah berserikat masih penting bagi jurnalis saat ini? Ia pun menegaskan, jawabannya masih sangat penting.
“Berserikat itu diperlukan untuk membangun solidaritas antarjurnalis, terutama ketika menghadapi persoalan upah maupun pemecatan. Bahkan, ini menjadi bagian penting saat terjadi intervensi redaksi, sebagai upaya menjaga marwah profesi jurnalis,” ungkap Bathin.
Ia juga membagikan hasil diskusi yang ia ikuti di Jakarta, yang menunjukkan bahwa sejumlah media masih mampu mempertahankan independensi karena memiliki kekuatan ekonomi sendiri.
“Intinya, untuk menjaga independensi, kita perlu terlebih dahulu memperkuat ekonomi media,” jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, bidang Advokasi AJI Manado, Ronny Sepang, juga menegaskan bahwa setiap pempinmedia harus mengurus BPJS kesehatan dan Ketenagakerjaan bagi karyawannya.
“Saya ingin menambahkan sekaligus mengingatkan, bagi teman – teman pemilik media untuk mengurus BPJS kesehatan dan Ketenagakerjaan bagi karyawan, jangan sampai bermasalah dikemudian hari,” tambah di.
Sementara itu, Sasmi mengutip putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada Januari 2026 terkait sengketa produk jurnalistik.
Dalam putusan tersebut ditegaskan bahwa penyelesaian sengketa wajib melalui Dewan Pers, bukan langsung melalui jalur pidana maupun perdata.
“Karya jurnalistik yang sah dan sesuai etika tidak bisa langsung dipidana. Bagi rekan-rekan jurnalis, penting untuk tetap berada dalam koridor aturan. Selama itu dipatuhi, maka tidak akan terjerat hukum,” terangnya.
Ketua AJI Manado, Fransiskus, turut menekankan pentingnya peran anggota AJI sebagai pembeda di tengah maraknya media dan jurnalis di Sulawesi Utara.
“Kita harus tetap menjaga independensi, meningkatkan kompetensi, serta mematuhi kode etik dan perilaku dalam menjalankan tugas di lapangan,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa hasil diskusi ini akan ditindaklanjuti melalui berbagai program peningkatan kapasitas anggota AJI Manado.
“Ke depan, kami akan mengadakan pelatihan paralegal untuk meningkatkan kemampuan pendampingan bagi jurnalis yang menghadapi persoalan, serta pelatihan jurnalisme data. Kedua program ini direncanakan mulai pada Juni 2026,” pungkasnya. (*)
Editor: Meikel Pontolondo

Discussion about this post